Liam pun mulai maju, mendekati Justin yang tengah mengenggam jemari Roxie. “Beraninya kau!” Teriaknya seraya menarik kerah kemeja milik Justin. Tanpa persiapan, Liam pun memukul muka halus milik Justin.
“Liam berhenti!”
“Tidak sampai bajingan ini mati ditanganku.”
Roxie memegang lengan kekar Liam dengan keras, berusaha memisahkan kedua manusia yang tengah berada diujung pertarungan ini. Matanya mulai berair, ia juga menahan sakit yang tengah menusuk jantungnya.
Genggaman Roxie dilengan Liam, perlahan mengendur karena sakit telah menguasai raganya. Tidak butuh beberapa lama, Roxie mulai merasakan putaran dikepalanya. Segalanya seperti mengabur. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia kehabisan oksigen. Akhirnya, yang ia rasakan tubunya telah tumbang dan segalanya menjadi HITAM.
------------------------------------------------------------------------------------
Dinding itu, menjadi sandaran bagi Justin. Tangannya meremas rambut coklat terang miliknya, matanya berair dan sembab.
“Semua salahmu.” Justin mengacuhkan omongan Liam. Ia menatap ruangan yang memiliki tanda “ICU”
“Jika kau tak mengikuti saranku untuk tak memasuki ruangan Roxie mungkin—“
“DIAM KAU! BERHENTI MENYALAHKAN DIRIKU DAN COBA LIHAT DIRIMU! LIHAT APAKAH KAU LEBIH BAIK DARIKU! BISAKAH KITA DIAM DAN MENUNGGU ROXIE KEMBALI MEMBAIK,!? JIKA KAU SEPERTI INI, PERCAYALAH KAU TAK MEMBANTU APAPUN,!”
Liam hanya bisa terdiam, ia berpikir bahwa perkataan Justin barusan ada benarnya juga. Tak lama, sosok pria paruh baya keluar dari dalam ruangan itu. Justin dan Liam segera bangkit dari sandarannya. Justin menghentikan langkah pria berbaju putih itu.
“Bagaimana keadaannya?”
Dokter itu menatap Justin dalam, matanya mengisyaratkan sesuatu yang penting.
“Apakah harus sekarang?” Ucap Justin dengan pasrah.
Dokter Tay, yang biasa disebutnya mengangguk dengan pelan. “Transpaltasi itu harus dilakukan sekarang, dan kita harus mencari pendonornya segera.”
“Jika begitu lakukan sekarang, saya akan membayar siapapun yang bersedia dengan bayaran tinggi.”
Justin menghantam Liam dengan keras. “BODOH! INI MASALAH HIDUP DAN MATI! SIAPAPUN TAK INGIN MATI MESKIPUN DIBAYAR! DAPATKAH KAU BERPIKIR BAHWA TAK SELAMANYA UANG MENGUASAI OTAK,? DARI KECIL KAU DAN AKU SUDAH DILIMPAHKAN BANYAK UANG, TETAPI AKU TAK SEPERTIMU YANG MEMPUNYAI OTAK DIKTAKTOR!.”
“LALU APA? AKU HANYA INGIN MENYELAMATKAN WANITAKU DIDALAM SANA.”
Justin menatap tajam Liam. “JANGAN.PERNAH.BERBICARA.BAHWA.IA.WANITAMU!” Ucapnya tajam.
Justin mengambil kerah Liam. "She's Mine." Ditatapnya wajah Liam dengan sungguh-sungguh, lalu dilemparkan badan kekar Liam ke arah dinding.
Tiba-tiba ponsel Liam berbunyi, ia pun mengangkatnya. Dilirik sesekali oleh Justin, sepertinya Liam sedang membuat perjanjian dengan sesorang ditelefonnya. Liam segera membetulkan kemejanya yang telah kusut terkena cengkraman Justin.
"Katakan pada Dokter Tay, aku akan kembali dengan pendonor jantungnya." Ucapnya sinis tanpa melihat Justin.
Justin mengacuhkan Liam, tangannya menggapai kaca yang terlihat disebrangnya ada sesosok wanita tengah tertidur lelap. Melawan penyakitnya.
Setitik demi setitik, air mata jatuh dari pinggir mata Justin.
"Maafkan aku, maafkan aku yang bodoh dan tak mendengar ucapanmu. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Aku pria bodoh." Tangannya mengepal bersamaan dengan air matanya yang jatuh semakin deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Teen FictionSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
