Part Fourteen: Would You?
Selesai menaruh piring bekas makannya, Justin berjalan kearah keranjang kotor. Ia melihat kemejanya tergantung disana.
“Bukankah harusnya Roxie menyucinya? Apa dia berpikir kemeja itu akan kupakai lagi? Tapi rasanya tak mungkin, mengingat kemeja itu kotor dan terkena—DAMN! Pasti Roxie melihat noda bibir di kerah kemejaku.”
Justin yang akhirnya menyadari perubahan Roxie, segera mengambil kemeja baru dan meraih kunci mobilnya. Ia segera turun dan masuk kemobilnya. Lalu, membiarkan matanya meneliti mobil yang berada dijalan raya New York.
-FLASHBACK ON-
“Pagi pak!” Seru para pegawai-pegawainya. Justin hanya membalasnya dengan senyuman. “Tunggu! Seseorang tolong berhentikan lift itu!.” Teriak seseorang wanita yang tengah berlari-lari kecil.
Tangan Justin menekan tombol ‘Tahan’ yang terletak di pinggir pintu lift. “Terimakasih Tuan Bieber,dan oh—cukup sempit disini. Maaf jika aku merapat sedikit.”
“Take it easy Nancy, come here.”
Nancy mendekat ke tubuh Justin, berhadap-hadapan lebih tepatnya. Nancy merasa nyaman akan situasi itu, berbeda dengan Justin yang terlihat agak risih tetapi mencoba menutupinya.
Ting!
Pintu lift terbuka kembali, memuat banyak orang untuk memenuhinya kembali. “Shit! Seharusnya aku membangun lift yang banyak!.” Pikir Justin.
Beberapa orang yang baru memasuki lift tersebut, membuat desakan disana. Membuat gerakan pula, menyebabkan Nancy tak sengaja terdorong. Sehingga bibir merahnya menempel pada kerah kemeja Justin.
“Oh my gosh! Maafkan saya pak, saya sungguh minta maaf.”
Justin mencoba mengelap bentuk bibir berwarna pink dilehernya, tetapi susah karena disana terlalu sempit. “Sudah, biasa saja. Tak usah panik”
-FLASHBACK OFF-
-----------------------------------------------------------------------------------------
“Roxainne!”
Roxie menoleh kebelakang, ketika melihat seseorang yang dikenalnya. “Liam!” Roxie segera berlari mendekati Liam. Untungnya, Liam dengan cepat menangkap Roxie kedalam gendongannya.
“Missed me Roxie?”
Liam mengerlingkan satu matanya kearah Roxie.
“Stop to flirting me Liam.”
Liam terkekeh. Ia pun menurunkan Roxie dari gendongannya.
“Lalu?” Tanya Liam untuk memulai percakapan.
“Bagaimana kabarmu?”
Liam mengambil nafas dalam-dalam. “Baik, tetapi tidak seperti bersamamu dahulu.”
Sebuah tinjuan kecil mendarat diperut Liam, membuat Liam terhentak dan terkekeh. “Hahaha….. maaf harusnya aku tahu aku tak bisa menggoda wanita yang telah mempunyai calon pengantinnya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Teen FictionSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
