Part 16: Should I?
“One day, when you’ll be a mother. That’s a best part of your life. When you have two life in your body. When you could feel they heart beating, the foot who couldn’t be patient to walk in the earth. That’s a beautiful phase of your life.”- Unknown
------------------------------------------------------------------------------------------
“Ayolah sayang, aku sudah tua dan akan semakin tua. Lebih baik, kita pergunakaan waktu itu sekarang. Bagaimana kalau ‘New Generation’ buat keluarga kita?” Bujuk Justin seraya memegang bahu Roxie.
“Kumohon, menjauh dariku Justin. Aku bersumpah, kata-katamu barusan sangatlah menjijikkan. Bisakah kau bersabar?” Balas Roxie sambil melepaskan tangan Justin dibahunya.
Justin menghela nafas. “Untuk berapa minggu lagi Roxie,? Aku menunggumu lebih dari dua minggu setelah pesta pernikahan kita. Apa aku tidak bersabar?”
“Sudah dua minggu huh,? Cepat ya, tapi tetap saja masih belum siap!”
Justin merengkuh wajah Roxie, ditatapnya wanita yang telah memiliki nama belakangnya itu. “Dengar, aku memang memberikanmu waktu Roxie. Tapi aku juga pria, aku mempunyai hawa nafsu. Apa kau mau, aku pergi dan ‘jajan’ diluar?”
Roxie memukul bahu Justin keras, lalu mengerucutkan bibirnya. “Kubunuh kau jika melakukan itu!”
Justin terkekeh, ia mengelus rambut milik Roxie. “Bahkan aku harus menambah jadwal bulan madu kita. Aku tak akan pulang sampai aku ‘mendapatkanmu’ Roxie,”
Roxie menggigit bibir bawahnya, Justin meletakkan kepala Roxie dibahunya. “Baiklah, kau mau tidur sekarang? Jangan menggigit bibir mu! That makes turn me on. Ayo tidur, aku tahu kau lelah berbelanja seharian.”
Roxie mengangguk patuh, ia masuk kedalam selimut.
“Selamat malam sayang.” Ucap Justin sambil membuka laptopnya dan mulai mengecek e-mail miliknya.
“Selamat malam Jay,”
Tetapi entah kenapa malam itu Roxie tak berminat tidur, otaknya bekerja keras memikirkan kata-kata Justin.
‘Apa kau mau, aku pergi dan ‘jajan’ diluar?’
Kata-kata yang singkat, tapi membuat otak dan pikirannya berpacu. Roxie menggigit ibu jarinya, ia harus memutuskan malam ini.
“Tapi bagaimana, aku belum siap? Bagaimana kalau sakit? Bagaimana setelah aku memberikan semuanya Justin malah pergi? Bagaimana jika aku langsung hamil dan perutku membesar? Tentu tubuhku akan terlihat jelek sekali. Tapi Daniella, jika kau tak memberikannya bagaimana kata Justin barusan. Bagai mana jika ia benar-benar ‘jajan’ diluar? Kau tahu, suamimu banyak yang mengincar. Arghhhhhh! Ini membunuhku, tapi baiklah kalau begitu. Jay, we’ll do it tonight. Inhale-exhale-inhale-exhale.”
Roxie menggigit jarinya semakin keras, ia berbalik badan. Dilihatnya Justin yang tengah membaca dokumen penting di laptopnya. Roxie memejamkan matanya, meyakinkan dirinya. (lebay? Bodo teuing lah yak, gue bingung mau nulis apa? Disekolah mikirin naskah, jadi maaf kalo GELI bahkan AGAK GIMANA GITU.)
Tangan Roxie bermain nakal, di tubuh kotak-kotak milik Justin. Bergerak dari perut, naik ke dadanya yang bidang.
“Jay?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Teen FictionSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
