9. Tugas puisi

133 9 0
                                        

Pagi di hari Senin ini hujan. Sungguh teramat tumben karena hujan. Biasanya, sang surya menyinari dunia tanpa sedikitpun awan menutupinya seakan tau dan mempersilahkan kepala sekolah atau guru lainnya berpidato di podium sekolah saat upacara. Namun hari ini alam berbaik hati.

Kebahagiaan tersendiri untuk Hilda. Selain tugas matematika yang maha banyak dan maha sulit itu belum selesai, ia tidak perlu repot-repot sok diam dibarisan saat upacara.

"Penghapus woy!" seru Charin heboh. Ia juga salah satu murid yang bahagia akan kedatangan hujan dan berencana merayakannya dengan mencontek tugas teman. Katanya sih itu perayaan anti mainstream. Halah, bohong itu mah.

Hilda masih asik mengerjakan tugas fisikanya yang tak kunjung selesai kayak ujian hidup. Coret sana coret sini itung ini itung itu sudah menjadi tradisi dari pelajaran fisika.

"Nih, gue udah selesai. Lo nyontek juga boleh." ucap seseorang yang Hilda tau itu suara siapa. Jika tidak Hansel, tidak mungkin ada orang yang dengan suka relawan memberikan contekannya.

Hilda menatap Hansel dengan malas. Acara coret sana sini dan itung ini itunya jadi terhenti karena Hansel datang. Padahal tadi sudah hampir ketemu jawabannya. Tapi malah ilang pada kabur duluan.

"Maaf. Tapi segoblok-gobloknya katak lompat, gue nggak bakal nyontek jawaban laknat punya lo." ucap Hilda ketus. Hansel malah tertawa nggak jelas kayak orang kesetanan. Toh memang wajar jika ia tiba-tiba kesetanan. Karena berdasarkan rumor yang beredar, sekolah ini bekas kuburan.

"Ini nggak laknat. Sepinter-pinternya gajah bertelur, tetap Hansel yang selalu jawab ngelantur. Eh, maksudnya teratur." ucap Hansel dengan pedenya. Hilda memutar bola matanya lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda gara-gara Hansel.

Lagi-lagi, saat Hilda sedang asik coret sana sini, Hansel mengganggunya. "Nih, kembang tebu buat Hilda yang cantik selalu." ucap Hansel sambil menaruh setangkai rumbut teki yang panjang dan menyerupai bunga.

"Pergi sana! Atau lo gue gantung di pohon puring depan kelas!" ucap Hilda. Namun sepertinya Hilda salah langkah. Hansel semakin menjadi-jadi dan menggodanya lebih parah.

"Mau dong digantung sama Nona Hilda." goda Hansel yang semakin menjadi-jadi. Hilda yang sudah panas sampai ke ubun-ubun hanya bisa memendamnya. Jika ia terpaksa akan menyemprotkan kata-kata pedas, ia akan semprotkan didepan semua orang waktu upacara atau pakai toa sekalian kalau perlu.

"Hansel yang ganteng dan manis kayak gula bikin orang meleleh kayak es, dimohon untuk pergi dari meja saya. Tolong." ucap Hilda sok manis. Padahal ia sudah kebakaran rambut. Hansel yang tidak pernah tau sikon malah kayak terbang ke atas awan.

"Waw! Gue dipuji oleh Nona Hilda! Harus tumpengan pokoknya!" seru Hansel heboh lalu pergi dari tempat duduknya menuju habitatnya. Yaitu di geng para perusuh kelas nomor satu sebut saja si Bapak Negara. Angga Dermawan.

"Gue capek!" celetuk Ifa. Sedari tadi, Ifa memang lari sana sini untuk ngambil pulpen lah, contekan lah, pensil lah. Kalau disatukan rutenya, Ifa berlari mungkin sudah sekilo.

"Salah sendiri lari-lari. Gue aja duduk manis disini udah selesai nih tugas." balas Hilda sambil melihat wajah Ifa yang nampak lelah. Salah sendiri juga sih.

"Itu elu. Gue mah cuma apa? Penghapus yang dilempar sana sini." mulai deh curcol nya si Ifa. Hilda hanya mengangguk tanpa memperpanjang lagi. Kalau ngomong sama Ifa tuh, kayak ngomong sama burung perkutut. Nggak tau arah pembicaraan.

"Awkeran mana? Bocah blasteran Indo-grosir tadi kayaknya khusyuk banget nyonteknya." tanya Ifa. Hilda hanya mengedikkan bahu sambil mengeluarkan ponselnya yang bermerek sarimi isi dua itu.

"Woy gurunya dateng!" seru Charin heboh dan mengguncangkan kelas. Seketika seluruh siswa duduk rapi dan diam.

"Selamat pagi! Berhubung tidak upacara karena hujan dan tidak ada kegiatan, kalian saya beri tugas untuk mapel jam setelahnya. Bahasa Indonesia, kan? Nah, saya tugaskan kalian untuk membuat puisi bebas. Entah itu tentang pendidikan atau semacamnya." jelas Bu Tina, guru bahasa Indonesia yang favorit amat.

"Puisi cinta boleh ya, Bu?" tanya Angga.

"Boleh saja. Nanti saya akan menunjuk untuk membacakannya didepan. Saya tinggal dulu nanti saya kembali." ucap Bu Tina lalu pergi keluar kelas.

Dan yang Bu Tina tidak tahu adalah, nantinya puisi ini akan menjadi puisi ternyeleneh di dunia.

***

Coret-coret dan koreksi di komentar ya :))

See you💙

Malam Minggu Hilda [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang