Chapter 5

1K 267 80
                                        

"Woah..." Guanlin tak henti-hentinya berujar dan memandang takjub pemandangan di sekelilingnya.

Seonho kini berjalan di belakang Guanlin sambil tertawa kecil menatap pemuda di depannya itu.

"Jadi, ada pertanyaan Guanlin?" Seonho membuka suara yang dibalasi tatapan oleh Guanlin.

Mereka kini melangkahkan kaki ke sebuah tempat dengan bentangan rumput hijau dan beberapa bangku serta permainan anak-anak. Guanlin menebak bahwa itu adalah sesuatu seperti taman kota, melihat banyaknya orang yang tengah bersantai dan bercengkrama bersama keluarga. Ia juga dapat melihat beberapa orang---maksudnya alien---berkeliling menjajakan sesuatu seperti makanan ringan dan mainan.

"Terlalu takjub, huh?" Seonho yang kini berjalan berdampingan dengan Guanlin menatap pemuda di sampingnya itu.

"Ini benar-benar terlihat seperti Bumi. Namun diisi dengan makhluk dari planet lain." Guanlin kini menatap Seonho antusias.

Seonho tergelak kecil lalu mendudukkan dirinya di bangku terdekat. Guanlin hanya mengekori.

"Seperti Bumi kecuali kau ingat bahwa seluruh isi planet berada di bawah permukaan tanah." Ucap Seonho.

"Ah, benar." Guanlin mendongak lalu menatap ke arah Seonho meminta penjelasan.

"Itu semua buatan. Matahari juga langitnya. Orang-orang yang menciptakannya saat mereka memutuskan untuk pindah ke bawah sini." Jelas Seonho.

"Meskipun tidak terlihat seperti itu, tapi itu hanya permainan visual dari hologram dan lampu-lampu yang terpasang di atas sana. Bintang-bintang yang akan kau lihat nanti malam juga adalah buatan. Jadi jangan terlalu terpesona karena keindahannya." Seonho tergelak lucu di akhir kalimatnya.

Guanlin menatap Seonho lekat. "Bagaimana kau bisa berbahasa manusia?"

Seonho tersenyum manis. Telinga tambahannya yang berbentuk kucing menegak. "Aku mempelajarinya." Jawabnya singkat.

"Tapi, bagaimana?" Guanlin kini mengernyitkan alisnya.

"Maksudku, kau tidak pernah melihat dan mendengar bahasa kami. Jadi bagaimana kau bisa tahu. Atau... Kau memang pernah mendengarnya?" Gaunlin menatap Seonho ragu.

Seonho lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Guanlin. "Mau mendengar sebuah rahasia?" Bisiknya.

Guanlin yang kaget bergerak mundur dengan cepat dan itu menyebabkan tudung hoodienya jatuh ke bahu. Seonho bergerak cepat untuk menaikkannya kembali.

"Jangan sampai tudung hoodie itu turun lagi." Ujarnya.

Guanlin terus menatap Seonho sambil mengatur jantungnya yang entah sejak kapan berdetak lebih cepat.

"Ayahku bekerja di Hesphorace, sesuatu seperti badan antariksa Venus. Dan sejak kecil, aku sering kali mendengar dan membaca dokumen kerja ayahku yang isinya bahasa Bumi. Aku sangat tertarik dan mulai mempelajarinya dengan bantuan ayahku yang juga lancar menggunakan bahasa kalian." Seonho yang semula menatap ke depan kini melirik ke samping---ke arah Guanlin---dan mendapati pemuda itu tak henti menatapnya.

"Darimana ayahmu mendapat dokumen tentang bahasa kami?" Guanlin menatap Seonho curiga.

Seonho tergelak kecil. "Memata-matai. Selama ini Hesphorace memata-matai Bumi dengan satelit yang kami miliki." Jawabnya ringan sambil menggedikkan bahu.

"Jangan memasang wajah terkejut. Ini semua gara-gara kalian yang mengirimkan pesawat kalian kesini terlebih dahulu." Seonho melanjutkan saat dilihatnya Guanlin sedikit terkesiap.

"Venera 7." Gumam Guanlin saat mengingat pesawat tanpa awak milik Uni Soviet yang mendarat di Venus pertama kali pada tahun 1970 silam.

Guanlin baru ingin membuka suara lagi saat tiba-tiba Seonho berujar, "Jika kau ingin tahu kenapa satelit kami tidak pernah terlacak apalagi terlihat di orbit bumi, maka jawabannya adalah karena kami sengaja 'menyembunyikannya'. Tekhnologi kami lebih maju dari milik kalian jika kau ingin tahu."

Hespherus ; GuanHoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang