Chapter 12 : Juara Kelas

26 0 0
                                    

Ulangan kenaikan kelas telah dimulai. Menciptakan suasana persaingan menjadi yang pertama, namun tidak semua berpikiran seperti itu, yang penting bisa memiliki nilai bagus, sudah lah cukup. Setiap orang punya sikap masing-masing dalam menanggapi yang terjadi. Ada yang sudah merasa nyaman dengan nilai pas-pasan. Ada yang berjuang agar nilainya lebih tinggi dari sebelumnya. Banyak yang sudah berusaha namaun malah belum mencapai hal yang memuaskan untuknya. Dan tidak sedikit pula yang malah tidak peduli sama sekali. Semuanya berujung pada upacara bendera, yang biasanya—setelah selesai upacara—kepsek pasti mengumumkan siapa yang juara umum. Bagi semua siswa, siswa yang terpanggil sebagai juara merupakan apresiasi yang luar biasa.

Pengumuman juara kelas. Biasanya setelah upacara bendera di lapangan dilakukan pengumuman siswa-siswa yang memiliki prestasi unggul di setiap kelas. Siswa yang dipanggil ke depan biasanya meraih piala kecild an bingkisan hadiah dari kepala sekolah.

Jora berdiri di tengah barisan. Ia tidak terlalu mendengar ocehan Sella di sampingnya.

"Jora, menurutmu siapa yang akan juara dari kelas kita?" kata Sella dengan semangat, seolah ia yang juara kali ini.

"Bukankah sudah jelas," kata Jora dengan pelan. Ia sedikit pun tidak merasa canggung. Tidak ada degupan jantung yang membuat ia merasa sebagai pemenang. Selama ia dipanggil sebagai juara—kecuai peratama kali juara umum di SD, dia sangat merasa jantungnya benar-benar berdegup kencang—ia selalu merasa tenang. Ia sudah terbiasa mengalami ini.

Jora mendesah pelan. Ia merasa letih menyahut pertanyaan Sella. Tanpa ia bertanya seharusnya ia tahu siapa yang juara kali ini. Pasti ia yang menjadi juara, itu bukan mungkin lagi. Itu absolut, siapa lagi yang bisa menjadi saingan untuknya dalam hal akademik. Ia rasa tidak ada lagi. Bukan bermaksud sombong dan membanggakan diri, tapi begitu lah kenyataannya.

"Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa bisa menjadi juara setiap kelas. Sungguh kesempatan yang pas bagi siswa yang lain untuk bersaing sehat untuk mencapai yang terbaik," oceh Kepsek dengan pisatonya yang sangat panjang. "Maka dari it, saya akan langsung mengumumkan juara kelas X, XI dan XII secara umum. Baiklah, kita mulai dari kelas X. Juara umum kelas X, yaitu... Melinda Murni."

Ratusan tepuk tangan memenuhi lapangan, menyuruh siswa yang namanya disebutkan menguak keluar dari barisan. Cewek itu menuju ke panggung samping podium kepala sekolah. Ia benar-benar tersenyum dengan bahagianya.

"Baiklah, kita lanjutkan. Juara pertama umum kelas XI IPA, semester dua ini, yaitu..."

"Aku yakin Jora akan juara lagi," kata Sella singkat.

Jora meleguh lesu. Lagi-lagi pasti ia yang disebutkan. Ia bersiap untuk beranjak agar cepat-cepat menghindari tepuk tangan yang sangat bising itu.

"MARIO FERNANDO..."

Seketika tepuk tangan meledak. Alarm bagi pemenang untuk ke depan. Mario ke depan dengan senyum sumringah.

Entah mengapa kaki Jora mati rasa. Kepala mendongak perlahan-lahan, menatap Mario di ujung depan sana. Menatap pemenang yang mendepaknya dari posisi utama.

Deg.

Jantungnya seketika terasa hendak meledak. Berdebar-debar tanpa terkendali, bahkan berlebihan. Ia tahu suara ratusan tepukan itu sangat kuat, tapi sedikitpun ia tidak mendengarnya. Hanya degupan kencang yang terasa menyebar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya seperti tengah mendidih dan panas. Tangannya kaku namun gemetaran.

"Jora?" tanya Sella begitu melihat Jora terpaku seperti patung. Ia mendekat dan menyentuh bahu Jora. Jora tersentak kaget, lalu melirik ke arahnya.

Patoraglic [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang