Chapter 22 : Akhir Duka

5 0 0
                                    

Dear pembaca

Kesibukan dunia menyita fokus untuk menulis. Tapi ini saatnya saya akan mengembalikan konsistensi menulis saya. 

Berikut ini adalah Chapter terakhir novel Patoraglic. Semoga selama ini pembaca menyukai cerita ala Jucifer plus. Salammm ^^


Tak lama Mario, Sella dan Andi berkumpul di luar ruang Marta. Marta hanya ingin berbicara empat mata dengannya. Marta menatap Jora dengan pandangan layu. Tubuhnya benar-benar melemah.

"Jora, mendekatlah," kata Marta. Jora datang menghampirinya. Tanpa terduga, Marta memeluk cowok itu dengan erat. "Maafkan, Tante, Jora. Seharusnya tante percaya kepadamu, bukan kepada yang lain."

Jora membalas pelukan Marta.

"Tante percaya kepadamu," kata Marta dengan penuh sedih.

"Bagaimana Tante bisa mempercayaiku padahal aku belum menjelaskan semuanya," kata Jora yang masih di dalam pelukan Marta.

Marta semakin mengeratkan pelukannya pada Jora, seolah tidak akan bertemu lagi. "Aku percaya kepadamu, Jora. Tante percaya. Selama ini Mario begitu sedih karena tidak bersama denganmu. Aku juga melihat kalian sangat tidak ingin berpisah ketika itu. Maaf membuat kalian harus berpisah sejauh ini."

"Tapi..."

Marta menangis tersedu-sedu. "Karena aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, Jora. Sama seperti Mario. Kalian berdua seperti anakku sendiri. Jika Mario dulu punya adik, pasti sebesar dirimu sekarang."

Jora perlahan-lahan memeluk Marta. Beginikah rasanya punya ibu? Sehangat ini kah? Ia sudah begitu lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Seorang wanita yang seharusnya melumurinya dengan perhatian.

"Terima kasih, Ibu," kata Jora tanpa sadar.

Marta melepas pelukannya, lalu menatap Jora yang tengah ingin menangis. Genangan air mata di pelupuknya tinggal menunggu waktu untuk dihamburkan.

Marta memegang pipi Jora. Betapa menyayatnya ia melihat wajah polos yang sedih ini. "Dengan begini, kamu menjadi anakku. Oleh karena itu kamu harus menjaga Mario. Jangan pernah membuatnya sedih. Jadilah saudara, bukan sahabat, jadilah orang yang selalu ada di sampingnya." Kata Marta dengan ratap sedih mendalam. "Sekarang Ibu bisa tenang jika Mario punya teman sepertimu."

Jora menangis histeris. Ia menutup matanya dengan lengan, malu kelihatan lemah, tapi percuma saja, ia sudah terlanjur terbuka. Kenapa Mario, Marta, dan yang lainnya selalu saja membuat terbuka begitu saja? Mengapa sampai telanjang segala sehingga tidak ada yang perlu disembunyikan.

"Selama ini Tante menyembunyikan fakta bahwa umur Tante sudah tidak lama lagi. Tante hanya tinggal sedikit lagi. Penyakit tante juga sudah sangat parah. Aku sengaja menyembunyikan semua ini kepada Mario."

Ada apa dengan mereka? Mereka saling menyembunyikan fakta dari masing-masing. Sebenarnya mereka sudah sama tahu. Tapi mereka tidak memberitahu.

Begitu rupanya. Mereka tidak ingin menyakiti satu sama lain. Mereka saling menyayangi dan tidak mau memberi beban satu sama lain. Cinta Ibu dan anak. Cinta anak kepada ibunya. Begitu lah seharusnya.

Mata Marta semakin kuyu, semakin lemas. Matanya menutup, sesekali enggan terbuka.

"Tante, tante," kata Jora dengan ketakutan, menghentikan air matanya sejenak. Ia langsung memekik kuat, "MARIIIOOO!!"

Mario tergopoh-gopoh datang ke dalam ruangan, disusul yang lainnya. Ia menghimpun Marta yang sudah mulai terkulai bagai batang bunga yang layu. "Ma, Mama. Sadar, Ma. Mama!!" katanya sambil mengguncang-guncang badannya.

Patoraglic [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang