Chapter 21 : Akhir Pilu

8 0 0
                                    

Pagi kembali menyapa ketika Jora terjaga dan sadar. Matanya masih nanar untuk melihat yang terjadi. Ruangan kamar itu terasa begitu sepi, bahkan terlalu sepi. Seperti biasa, semua lampu padam, kecuali lampu yang terdapat di atas meja, di samping kasur.

Jora mengibaskan selimut, lalu turun dari kasur. Ia berdiri di tepi meja belajar dan menatap jendela yang tertutup. Ia membukanya dan membiarkan cahaya matahari hangat menerobos masuk. Matanya terasa seperti tersengat karena kuatnya enegri cahaya yang datang.

Ia duduk bersandar di kursi depan meja. Dilihatnya wajahnya di balik pantulan cermin. Ia meleguh pelan, lagi-lagi ia melupakan ia harus memakai kacamata.

Jora meraih kacamata yang tergeletak di atas meja. Ia memasangnya di wajahnya. Ia mungkin hanya diam, namun hatinya tersentak.

Di manakah wajah ceria yang sempat terbentuk dulu?

Bukankah wajah ini sudah lenyap karena kalah saing?

Entah mengapa, ia menjadi tidak ingin melihat wajahnya sendiri. Wajahnya menjadi memuakkan, baginya.

Jora bangkit dari kursi, lalu membersihkan seluruh ruangan, lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

"Jora," seru Mira begitu Jora tengah membuka pintunya.

Jora berhenti melangkah, lalu membalikkan badan. "Ada apa lagi?" katanya dengan nada datar. Entah mengapa nada suara juga kembali seperti dulu.

"Hari ini adalah hari perceraian kami, jadi..." Mira begitu susah payah untuk mengatakannya.

Jora mendesah pelan, lalu berkata dengan sinis, "Bukankah aku sudah bilang berkali-kali itu terserah kalian. Hubungan kalian bukan urusanku lagi. Cerai ataupun tidak, tidak ada pengaruhnya untukku, toh kalian sama sekali tidak memperdulikanku."

"Jora, tapi bukankah kami orang tuamu?"

"Terserahlah. Aku tidak peduli," kata Jora sengak. Ia sadar ia sudah begitu berani berbicara kasar kepada orang tuanya sendiri.

Jora terus melangkah pergi hingga menutup pintu dengan keras-keras meskipun Mira sudah berkali-kali memanggil namanya.

Jora memanjangkan kakinya ke dalam kelas. Ia sudah mempersiapkan hatinya apabila nanti gosip tentang dirinya akan menyebar luas. Apalagi semenjak kejadian ia memohon di depan Kawa. Betapa hinanya nanti ia.

Ada apa ini?

Di dalam benak Jora, semua tatapan tajam akan menghakiminya. Di dalam hatinya, tatapan membunuh dan merendahkan akan menghujani dirinya. 

Tapi apa ini?

Ada apa dengan siswa di kelas ini?

"Hai, Jora. Selamat pagi," kata salah satu siswa sekelasnya yang kebetulan hendak keluar. Ia menepuk bahu Jora dengan ramah.

"Ya, selamat pagi," sahutnya gelagapan.

Di mana siswa yang menggumpal dan embicarakan gosip hangat mengenainya? Di mana mereka?

Jora menebar pandangannya ke wajah siswa sekelasnya satu per satu. Semua yang berketapan melihatnya tengah tersenyum. Ya, tersenyum.

"Hai, Jora. Aku dengar kamu pernah mengajari Andi ketika remedial, dan ia berhasil," kata seorang cewek muncul dengan malu-malu.

Jora tidak tahu bersikap apa. Semua terlalu spontan baginya. Seketika semua baik untuknya. Ia perlahan-lahan tersenyum, lalu menyahut, "Baiklah, mungkin aku bisa membantumu." Cewek itu nampak kegirangan.

Patoraglic [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang