Sudah sekitar seminggu Andi tidak pernah kelihatan lagi di hadapan Jora. Semenjak kejadian kemarin itu, lelaki itu tidak berani menemui Jora. Sekalipun pernah bertemu dengannya ia hanya menunduk. Tidak bisa dipungkiri Jora juga sedikit memikirkan tentang cowok itu. Biasanya ia membuat keributan dan selalu menganggu Jora. Setiap saat ia mengikutinya dan mencoba menarik perhatiannya. Ia sedikit merindukannya...
Jora mengguncang-guncang kepalanya. Tidak mungkin! Tidak mungkin ia merindukan Andi. Yang benar saja.
Agar tidak terlalu terlarut dalam pemikiran yang aneh-aneh, Jora memutuskan untuk ke perpustakaan. Jora duduk di salah satu bangku bangku di depan rak sambil mengerjakan tugas matematika yang baru saja diberi guru. Dalam hal tugas, ia memang begitu tanggap. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu dengan bermain-main atau apa pun itu. Ia memilih mengisi waktu kosongnya dengan mengerjakan tugas.
Selama jam istirahat penuh, Jora menghabiskan waktu di perpustakaan. Menurutnya hari ini waktu berjalan begitu singkat. Tidak terasa sekarang ia harus pulang ke rumah. Jora baru saja akan tiba di lantai pertama ketika berpapasan dengan Pak Renolf.
"Jora," sebut Pak Renolf menghentikan langkah Jora. Ia melepas kacamatanya, lalu menyelipkannya ke dalam saku kemejanya. "Kebetulan sekali, Jora," katanya dengan begitu semangat. Ia langsung membuka kumpulan berkas di tangannya, berusaha mencari sesuatu. "Nah, ini dia," katanya lagi dengan rasa puas.
Jora masih bingung saat guru itu menjulurkan selembar amplop kepadanya. "Ini apa, Pak?"
"Kamu tinggal di jalan Mawar Kabanjahe, kan?" kata Pak Renolf tidak langsung menjawab. Begitu melihat siswanya itu mengangguk, ia melanjutkan, "Bapak minta tolong, surat ini kamu sampaikan kepada orang tua Mario. Mereka juga tinggal di jalan Mawar."
Mario?
The Ghost itu?
Tidak mungkin.
"Aku tidak mau, Pak," tolak Jora mentah-mentah sembari menjulurkan kembali suratnya kepada guru itu.
"Tapi..." kata Pak Renolf sebenarnya ingin meyakinkan Jora, tapi segera tersadar bahwa yang ia lakukan cukup sia-sia. Jora sangat dikenal dengan ketidakpeduliannya kepada siapapun. Bagaimana mungkin ia bisa mau menolong orang lain, apalagi Mario. Jelas, ia tidak akan mau, apalagi semenjak kejadian perkelahian itu. Lelaki itu mendengus letih. "Ya, sudahlah... sepertinya memang sudah seharusnya..." katanya terdengar pasrah begitu dalam.
Jora masih di hadapan lelaki itu ketika ia mengatakan, "Ini sebenarnya surat kepada orang tuanya. Masa skors Mario sebenarnya sudah berakhir sebulan yang lalu. Namun semenjak kejadian itu, Mario tidak pernah ke sekolah lagi. Kepala sekolah sangat menegaskan tertib sekolah. Siapapun yang melanggar peraturan akan mendapat akibatnya. Ini bisa saja berpengaruh apabila Mario terus menerus tidak hadir sekolah. Ia bisa saja dikeluarkan dari sekolah. Padahal ia siswa yang cukup pintar. Hanya saja sikapnya mungkin terlalu kasar..."
Sekali lagi Pak Renolf meleguh seperti kecapaian. Ia menyusun kembali amplop itu ke berkas yang dipegangnya. "Yah, seperti itu lah seorang guru, memperjuangkan siswa yang malah tidak memperdulikannya," katanya seperti menyinggung.
Pak Renolf melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Jora yang terpaku di tempat.
Livaloa Patoraglica Semanteras
Tiba-tiba kalimat itu terbesit di benaknya. Seperti menyihirnya. Jora seperti mendapat sesuatu yang baru. Entah mengapa setelah mengecap kalimat itu, ada suatu hal yang membuat ia berbalik dan memanggil guru itu, lalu dengan tegas berkata, "Aku akan mengantar suratnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Patoraglic [COMPLETE]
Teen FictionDemi mendapat perhatian keluarganya, Jora Melkinson rela belajar seharian di rumah, jauh dari dunia sahabat, demi menjadi siswa pintar di sekolah. Ia ingin dipuji ayah-ibunya atas prestasi gemilangnya di sekolah. Namun sedikitpun orang tuanya tidak...