6

149 15 0
                                    

Someone’s pov.

Namaku Adinda Mutiara D.K.
aku berhasil bertahan di dunia yang semakin memburuk.

Sebuah virus berbahaya di sebarkan oleh sebuah organisasi jahat di seluruh di dunia. Awalnya gejala virus ini hanya berupa flu biasa. Kemudian virus ini bermutasi menjadi lebih kuat, menyebabkan penderitanya kejang-kejang kemudian tidak sadarkan diri dengan seluruh lubang di tubuh mengeluarkan darah.

Setelah 60 detik, mereka yang tidak sadarkan diri bangkit seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi ada yang berbeda dari mereka. Tatapan mereka kosong, tidak bisa berbicara, hanya bisa menggeram. Kemudian setelah beberapa saat terdiam, mereka tiba-tiba menyerang siapa saja yang berada di dekatnya.
Menggigit siapa saja yang terlihat, mengoyak daging korban.

Kemudian korban yang tergigit juga menunjukkan gejala yang sama beberapa saat setelah tergigit, kemudian ikut menyerang siapa saja makhluk hidup yang dilihatnya.

Mereka menjadi beringas, kanibal.

Kami yang selamat, menyebut mereka yang terinfeksi dengan banyak sebutan. Ada yang menyebutnya undead, infected, dan zombie.

Penyebarannya sangat cepat. Dalam seminggu, manusia normal sudah hampir musnah di dunia ini. Hanya beberapa orang saja yang selamat dan bertahan hidup. Termasuk aku, dan teman sekelasku, Adit.

Saat ini hanya ada aku dan Adit. Sedangkan teman-temanku yang lain?. Mereka tidak selamat.

Apa masih ada mereka yang berhasil bertahan hidup di dunia ini?. Atau hanya tersisa aku dan Adit?.

Hari ini aku dan Adit memutuskan keluar dari persembunyian kami. Semalam kami mendengar siaran dari radio bahwa pemerintah telah menyiapkan tempat evakuasi terkarantina di Jakarta, kemudian kami memutuskan untuk menuju tempat evakuasi itu.

Awalnya aku merasa ragu karena tempat evakuasi yang disiapkan pemerintah berada di Jakarta, sedangkan posisi kami berada sekarang adalah di Malang.

Bayangkan saja betapa jauhnya perjalanan kami nanti, ditambah lagi kami tidak mempunyai kendaraan sehingga terpaksa berjalan kaki.

“Din! Perbekalan udah di kemasi?” tanya Adit.

“Udah kok dit” aku menunjukkan ranselku yang telah terisi penuh dengan perbekalan untuk kami berdua.

“Yaudah, nih! Buat jaga-jaga!” Adit melemparkan sebuah pistol dan 2 selongsong peluru padaku, sedangkan Adit membawa senapan laras panjang yang sudah di isi.

Aku mengaitkan pistolku di sabukku.

Kemudian menggendong ranselku dan berjalan mengikuti Adit.

Max’s pov.

Pagi ini, aku terbangun sekitar pukul 10. Memang sepertinya aku terlalu lelah sehingga bangun kesiangan. Ke 5 temanku masih tertidur. Indra tidak ada di tempatnya tidur semalam, tempatnya telah kosong. Artinya ia sudah bangun lebih dulu dariku.

Aku memutuskan untuk turun ke bawah. Dan benar saja, Indra sudah bangun lebih dulu dan sedang duduk di meja makan dengan kak Ares yang sedang sibuk mengutak-atik radio di tangannya, sedangkan kak Belona sedang sibuk mengaduk sesuatu yang sepertinya adalah sup di dalam panci.

“Pagi” sapaku singkat sembari menarik kursi kemudian duduk di sebelah Indra.

Indra hanya mengangguk singkat padaku, kak Ares tidak menanggapiku dan tetap sibuk dengan radionya. Sedangkan kak Belona hanya menoleh kemudian tersenyum.

Krrrssskkkk krrrssssskkkk…..

Radio di tangan kak Ares mengeluarkan suara.

“Ah! Akhirnya kembali menyala!” seru kak Ares kegirangan.

3012Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang