Alur cerita berbeda dengan CANON. Ending dan pairing para chara juga berbeda dengan canonnya.
Fisik Menma sama persis dengan fisik Naruto. Yang berbeda hanya pada warna kulitnya. Menma putih, Naruto keling maksudku tan kecoklatan seperti ayahnya. Jasad Menma tidak ada karena ia hanyalah tokoh rekaan Minato. Yang dikubur orang-orang Konoha sebetulnya kumpulan jasad shinobi yang sudah mati dan dicampur secara acak yang dipasangi genjutsu tingkat tinggi oleh para tetua katak sehingga fisiknya seolah mirip Menma.
Pengguna edo tensei dalam cerita ini hanya dua yakni Tobirama Senju dan Orochimaru.
Fic ini sama dengan yang di www.fanfiction.net dengan judul yang sama. Pen nameku Ai Cute. Ceritanya aku pindah ke wattpad dan aku lanjutin.
DON'T LIKE DON'T READ
Di markas Akatsuki yang sangat rahasia dan tersembunyi, Tobi memakai topeng barunya. Alasannya untuk ganti suasana karena mereka kini memasuki babak baru, babak terakhir dalam rencana mereka. Lebih tepatnya rencana besarnya. Mahakaryanya.
Di samping kanan dan kirinya, berdiri berjajar dengan rapi Zatsu, Yahiko -dalam hal ini Nagato- dan Orochimaru. Mata pria tua berambut hitam panjang itu kosong, hampa, tanpa emosi karena ia berada dalam pengaruh genjutsu Tobi yang mengaku-aku bernama Madara. Pria bertopeng itu menghadap pada patung Gedomazo atau bisa disebut patung setan sesat.
Patung setan sesat itu terletak di atas sebuah tangkai bunga yang menyerupai tangkai bunga teratai. Di dalam tangkai ada sesosok tubuh manusia. Matanya terpejam erat, tak bergerak sedikit pun seolah sudah mati, tapi sebenarnya ia masih hidup. Wajah manusia itu sangat mirip dengan Hashirama Senju, hokage pertama. Entah ada hubungan apa diantara keduanya. Tobi tidak mengatakan apa-apa tentangnya. Rekan-rekannya pun tidak ada yang bertanya. Mungkin karena mereka sudah tahu. Atau, mungkin mereka tidak mau tahu.
Tobi menatap penuh arti patung setan sesat. Matanya terpancang pada patung Gedomazu. "Tinggal Kyuubi." Katanya lirih. "Setelah ini, Juubi bisa kita bangkitkan dan dunia menuju babak baru, babak dimana hanya ada satu kekuasaan absolut yang memerintah dunia ini. Tak akan ada lagi peperangan. Tak akan ada rasa sakit. Semua untuk satu tujuan, satu kekuasaan, satu jalan yakni AKATSUKI." Katanya berpidato.
'DASAR BODOH!' Umpat Zetsu dalam hati. Ia menyeringai secara diam-diam, menyembunyikan rencana busuknya yang ia susun selama ratusan tahun lamanya, jauh sebelum bocah ingusan bernama Obito ini lahir. Bahkan jauh sebelum Madara lahir. 'Sebentar lagi. Sebentar lagi, aku akan memetik hasil kerja kerasku selama ini.' Pikirnya senang. Namun, wajahnya tetap datar, tak menampakkan apa-apa selain ketenangan dan keheningan.
'Huh!' Dengus Nagato dalam hati juga. Ia tahu di balik punggungnya, Tobi pasti sudah merencanakan sesuatu, rencana yang menyimpang jauh dari tujuan utamanya. Ia tahu Tobi akan mengkhianatinya dan menyabotasenya, suatu saat nanti. Tapi, tak masalah. Karena, sejak awal, ia memang tidak mempercayai Tobi. Sedikit pun tidak. Ia hanya berpura-pura mau dimanfaatkan. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menusuk Tobi kembali. Sebagaimana ia dimanfaatkan, ia pun akan memanfaatkan Tobi sebaik-baiknya.
Tobi kini berpaling pada sesosok tubuh yang terbaring di tanah dengan yang bentuk sudah tidak utuh, sehingga sulit dikenali identitasnya. Namun, dengan adanya sejumput rambut pirang di kepala, dan goresan garis tipis di kedua pipinya yang putih menyerupai kumis kucing, bisa dipastikan jika sosok itu bernama Menma, putra sulung mendiang Yondaime hokage.
"Orochimaru mulailah ritualnya. Hidupkan kembali Menma!" Perintah Tobi mutlak pada boneka hidupnya.
Orochimaru dengan patuh menganggukkan kepala. Ia membuat segel dengan kedua tangannya untuk mengaktifkan jutsu edo tensei. Lalu, ia memanggil jiwa Menma agar masuk ke dalam tubuh Zetsu putih. Akan tetapi, tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba lagi dan ia gagal lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
NINJA NOT MAINSTREAM
AdventureHidup Naruto sangatlah malang. Ia memiliki seorang ayah yang ajaib. Dibilang hokage terbaik sepanjang masa oleh penduduk Konoha, ayah dan suami yang baik menurut Kushina, anti mainstream menurut Hokage ketiga, pilih kasih menurut ShikaCho. Tapi, men...
