Duka Naruto

6.6K 477 51
                                        


Minato batuk-batuk darah. Dengan tubuhnya yang penuh luka, ia merayap menghampiri Kushina yang tergolek lemah tak jauh dari tempatnya. Dengan sebelah tangannya, ia menyentuh dan mengelus lengan istrinya. "Kushi-chan," ujarnya lirih. Iris safir di matanya yang biasanya berkilat jenaka, kini nampak keruh dipenuhi kesedihan yang amat dalam.

"Bunuh aku sekarang, Minato! Aku tak bisa membunuh diriku sendiri, tapi kau pasti bisa. Bunuh aku sekarang Minato!"

"T-tidaakk. Aku tak bisa Kushina."

"Kau bisa, Minato! Kau bisa. Lakukanlah, demi desa!"

"T-tidak Kushina, tidak. Aku tak bisa."

"Minato?"

"Jangan paksa aku! Please!" pintanya penuh harap. "Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa melihatmu mati, terlebih di tangan.."

"Sstt... Jangan bicara seperti itu! Dengar, dengarkan aku! Kau tidak membunuhku. Tidak pernah. Yang kau bunuh adalah Kyuubi dalam tubuhku, hanya dia. Jadi, jangan merasa bersalah." Potong Kushina. Dengan sisa tenaganya, ia mengusap bibir Minato penuh sayang. "Kita sudah sepakat hal ini bukan?" bujuknya.

"Aku tahu, tapi..." Minato menggelengkan kepalanya lemah.

"Jangan sedih, Anata! Ini adalah pilihanku sendiri. Lakukanlah demi desa dan demi anak kita."

Minato terdiam. Ia tidak membantah, namun ia juga tidak kunjung bergerak. Minato hanya diam mematung di depan Kushina yang mengerang menahan rasa sakit. Dan, ini membuat Kushina jengkel.

'Kenapa di detik-detik terakhir seperti ini, pria ini malah bersikap lemah? Apa sih yang dipikirkan pria berambut kuning ini?' pikir Kushina jengkel. Mereka sudah kepalang basah. Tidak bisa mundur lagi. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain maju terus pantang mundur.

Flashback

Beberapa hari seusai kematian tragis Kagami yang ditemukan oleh tim anbu setelah menghilang selama seminggu.

Wajah kushina memucat. Ia tak percaya ini. 'I-inikah.. inikah yang direncanakan pria bertopeng itu?' pikirnya sulit dipercaya. "Ap-apa kau yakin Minato?"

Minato mengangguk. "Ya," desahnya dengan raut muram. "Sebelum tewas, Kagami memberitahukan ini padaku."

Tangan Kushina mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Minato?"

Minato menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan kegundahannya. "Aku tak tahu, Kushi. Ini terlalu mendadak," ujar Minato lirih. '..dan juga terlalu mengerikan,' tambahnya dalam hati.

Kushina terkesiap. Ia mengerti kegundahan hati suaminya. Ini terlalu berat untuk dipikul sang ayah muda ini. "Oeekk..oeekk..oeekkk..." tangisan bayi Naruto yang tadi tidur anteng di kamarnya menyentakkan lamunan Kushina.

Tanpa banyak bicara, Kushina bergegas ke kamar bayi Naruto. Ia mengambil Naruto dalam gendongannya, menyusuinya, dan menepuk-nepuk pahanya agar Naruto-bayi kembali terlelap. Setelah itu, ia kembali menidurkan Naruto.

Kushina mengusap pipi tembem sang anak penuh sayang. Melihat Naruto yang tidur dengan damai, entah mengapa berhasil membuat ketakutan Kushina hilang. Senyum polosnya berhasil menguapkan kegundahan hati Kushina, menariknya dari dasar kegelapan dan keputus asaan.

"Ah," pekiknya seperti baru mengingat sesuatu yang penting.

Kushina tersenyum tipis. Ia lalu teringat alasan kenapa ia menamai putranya Naruto. Itu karena baik Kushina maupun Minato berharap kelak Naruto akan jadi anak yang kuat, cinta damai, dan teguh pada pendirian persis seperti tokoh favoritnya dalam novel Jiraiya.

NINJA NOT MAINSTREAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang