Sadness

1.3K 121 38
                                        

Maaf jika aku updatenya lamaaaa banget. Aku lagi stres. Gara-gara Corona, sekolah berubah jadi online. Jadi, terpaksa aku berubah profesi menjadi guru. Muridnya cuman satu, tapi stresnya sampai ke ubun-ubun. Saat mulai mode jadi suhu eh salah guru, bawaannya pingin ngamuk. "Kok nggak ngerti-ngerti? Baca dong bukunya. Buku itu dibeli untuk dibaca bukannya buat hiasan apalagi bantal." Raungku marah sambi mengguncang meja. Tangan bersiap untuk membalikkan meja untuk melampiaskan emosi. Q_Q

Karena nggak mood dan stress, aku jadi malas buka HP. Buka HP = buka WA = lihat tugas sekolah = emosi tingkat dewa. Jadi, biar nggak setresnya kian parah sebisa mungkin kurangi pegang HP. =_=

SEKIAN CURCOLNYA

(BTS) Back to Story

Nggak Suka Cerita Ini? Jangan baca!

Shisui menutup kelopak matanya untuk menyembunyikan kegalauannya. Hatinya berdenyut nyeri. Satu lagi. Satu lagi pilar penting Konoha jatuh. Jiraiya petapa sakti dari gunung Myobokuzan gugur dalam perang dunia ninja keempat melawan Pain.

Shisui menghela nafas panjang. Sejak awal, secara mental, ia sudah siap kehilangan. Ia sudah bertekad bulat untuk memenangkan perang ini. Berapa pun biaya yang harus dibayar. Kalah sama sekali bukan pilihan. Meski demikian, Shisui hampir tidak bisa menahan cubitan di hatinya tiap kali mendengar salah satu shinobi di pihak aliansi gugur. Terlebih jika ini menyangkut nama Jiraiya. Sakitnya bertubi-tubi.

'Sekarang, bagaimana caranya menghibur Naruto?' Pikir Shisui gelisah. Tangannya mengepal kuat, emosional.

Memberi tahu kabar duka ini pada Naruto adalah hal yang membuat Shisui gelisah. Ia tahu persis posisi Jiraiya di hati Naruto. Bagi Naruto,  Jiraiya bukan hanya sensei. Lebih dari itu, Naruto menganggap Jiraiya sebagai anggota keluarganya. Kakeknya sendiri. Ia takut setelah mendengar kabar duka ini, emosi Naruto akan labil. Terguncang hebat. Sama seperti peristiwa kelam dasawarsa lalu di pemukiman kompleks klan Uchiha.

Masih jelas dalam ingatan Shisui, bagaimana terguncangnya Naruto. Ia masih sangat kecil. Ia belum masuk akademi ninja. Namun, ia sudah dipaksa menelan emosi pahit itu di usia yang masih sangat belia. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ayahnya, hokage keempat gugur setelah bertarung dengan pria bertopeng misterius itu. Ibunya, Kushina san yang dengan setia mendampingi sang suami bertarung turut gugur sebagai kesuma. Parahnya lagi, ia juga harus menyaksikan kematian Menma, saudara kembarnya. Menma mati dengan cara yang tragis. Tubuhnya terpotong-potong dan tersebar di beberapa tempat hingga sulit disatukan lagi menjadi tubuh yang utuh. Ada beberapa bagian darinya yang hilang entah kemana.

Shisui masih ingat tremor yang dialami Naruto kecil. Guncangan hebat itu telah membuat Naruto jatuh dalam depresi karena dalam satu malam Naruto kecil harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Saking depresinya, Naruto memilih diam di rumah. Tidak mau keluar selangkah pun dari rumah. Untungnya, ia secara perlahan berhasil keluar dari lubang kegelapan itu. Dan, kini, ia harus mengalami hal yang sama, ditinggal pergi gurunya untuk selamanya. Dengan cara yang tidak kalah tragisnya.

Oh Ya Tuhan.

Shisui tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Naruto saat ia tahu kabar ini. Ia pasti syok. Lebih buruknya lagi, Naruto tidak punya waktu lama untuk menyesuaikan emosinya, menjilati luka-lukanya. Karena, kondisinya sedang perang sekarang. Meskipun hatinya dan psikisnya terluka parah, ia masih harus bergegas ke medan perang untuk menyongsong musuh.

Shisui merasa sangat bersalah pada Naruto. Tapi, ia juga tidak berdaya. Ia bukan hanya Shisui dari klan Uchiha. Lebih dari itu, ia seorang hokage dan kini menjadi salah satu petinggi aliansi ninja. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi rakyatnya. Untuk itu, suka maupun tidak suka, ia harus memaksa Naruto keluar dari zona kesedihan secepatnya. Sebab, ia membutuhkan bantuan Naruto untuk mengungkap pesan terakhir Jiraiya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 11, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NINJA NOT MAINSTREAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang