Naruto © Masashi Kishimoto
Tidak terasa sudah masuk chapter 17. Sweat seventeen. Kalau diistilahkan umur manusia, dah remaja nih. Chapter ini dan seterusnya akan semakin serius karena sudah memasuki era perang. Alur sebagian mirip canon, sebagian hasil imaginasi author. Semoga nggak bosan.
Maaf jika upnya lama pakai banget. Ai ngumpulin banyak referensi untuk chapter ini agar semakin berasa feelnya.
Thanks ^_^'
Don't Like Don't Read
Di tengah hari yang cerah. Tidak ada angin. Tidak ada hujan badai. Awan mendung pun tidak. Langit berawan cerah. Kenapa cerah? Karena Pain sedang tidak ada di Amegakure. Ia sedang dalam perjalanan ke Konoha untuk mengambil Kyuubi, dengan suka rela atau paksaan. Tiba-tiba, Zetsu putih muncul membawa kabar buruk. Dari skala 1 sampai 10, ini skala 12. Sangat buruk hingga Nagato dikuasai amarah yang amat sangat. Amarah yang cukup untuk menjadikan Konoha tenggelam dalam lautan darah. Sunagakure berada di urutan kedua.
"Konan sudah tewas." Kata Zetsu. "Mayatnya dibawa shinobi Konoha." Imbuhnya memberi minyak pada percikan api.
Nagato yang dikuasai amarah, menggerakkan seluruh Painnya, yang telah berbaris berjajar dengan rapi dari urutan teredah hingga yang paling tinggi. Lima orang diperintahkan untuk menyerang dan satu orang yang tersisa diperintahkan untuk membawanya dari Ame ke daerah dekat Konoha untuk memantau pertarungan. Namun, Tobi menghentikannya tiba-tiba. "Hentikan!"
"Jangan ikut campur, Tobi!" Geram Nagato.
"Kau tak akan bisa memasuki Konoha. Tempat itu terlindungi oleh berbagai macam segel."
Nagato mendengus. "Kau lupa? Aku dari Uzugakure yang terkenal piawai dalam urusan fuinjutsu. Aku memang payah dalam membuat segel, tapi aku tahu cara terbaik untuk menghancurkannya." Katanya jumawa.
"Dan, tenagamu akan berkurang begitu segel itu terlepas. Selanjutnya, kau akan pacaran dengan Dewa Shinigami." Sergah Tobi. "Kau lupa? Di sana masih ada Itachi, Shisui, jounin-jounin mumpuni dan bahkan dua bajingan cilik yang susah mati itu. Merekalah pihak yang paling banyak merenggut nyawa anggota Akatsuki. Mendatangi mereka, sama saja dengan menyerahkan nyawamu bulat-bulat." Itu fakta, bukan rumor. Setengah dari Akatsuki, Konohalah yang membunuhnya. Konoha baik secara individual maupun kolektif sama-sama kuat.
"Lalu, apa rencanamu?" Akhirnya Nagato mengalah. Akal sehatnya masih berfungsi di tengah-tengah badai kemarahan dalam hatinya.
"Kita paksa mereka untuk memilih menyerahkan Kyuubi atau perang. Aku yakin mereka pilih perang. Dengan demikian, mereka yang akan datang padamu untuk mengantarkan nyawa. Itu lebih efisien daripada kau mendatangi mereka satu per satu."
"Bukannya sama saja? Sama-sama mahal ongkosnya. Kau lupa alasan kenapa kita menggerakkan organisasi kita secara rahasia? Itu untuk menghindari serangan gabungan para shinobi. Lupa?"
"Dulu kita tak punya pasukan. Sekarang kita memiliki pasukan yang kuat dan solid yakni pasukan Zetsu Putih yang bisa membelah diri dan meniru shinobi lain, serta pasukan edo tensei."
Nagato berfikir. "Kau benar. Tunggu apalagi? Segera umumkan perang pada seluruh shinobi!" Katanya antusias. Seringai keji tersungging di wajahnya.
"Sudah ku lakukan. Sekarang, kita rancang strategi. Kekalahan bukan pilihan. Jangan membuat celah sedikit pun pada lawan."
Di waktu yang sama di Kumogakure, para Kage dari lima desa ninja besar tengah berkumpul merancang strategi-strategi untuk memenangkan perang melawan Akatsuki. Langkah pertama yaitu membentuk formasi pasukan yang terdiri dari para shinobi dari lima desa ditambah dengan para samurai. Total jumlahnya ada sekitar 80.000 orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
NINJA NOT MAINSTREAM
AventureHidup Naruto sangatlah malang. Ia memiliki seorang ayah yang ajaib. Dibilang hokage terbaik sepanjang masa oleh penduduk Konoha, ayah dan suami yang baik menurut Kushina, anti mainstream menurut Hokage ketiga, pilih kasih menurut ShikaCho. Tapi, men...
