"Ndra, lo kok diem aja sih?" tanya Amanda heran kepada Andra yang daritadi diam terus di kelas.
Tanpa menoleh, Andra menjawab pertanyaan Amanda yang duduk agak jauh di belakangnya. "Emang gue harus ngomong apa?"
"Lo kan biasanya bawel. Biasanya lo minya PR atau cerita ke gue setiap pagi. Tapi sekarang lo diem aja. Lo sakit ya, Ndra?" ucap Amanda dengan muka khawatir dengan sahabatnya itu.
"Nggak kok, Man. Gue nggak sakit. Cuma lagi nggak mau banyak omong. Soal PR, gue udah ngerjain sendiri kok." jawab Andra tanpa menoleh. Sopan nggak sih kayak begitu?
Amanda kaget. "Hah? Ngerjain sendiri? Tumen lo. Ada kemajuan dong, Ndra." seru Amanda senang. Akhirnya ya untuk pertama kali dalam sejarah kehidupan, Andra tidak lagi pimjam PR ke Amanda! Haha.
Tiba-tiba handphone Amanda berbunyi..
Nicky menelepon..
"Ndraa! Kak Nicky telepon gue." ucap Amanda heboh.
Dengan cepat, Amanda langsung mengangkat handphone-nya tersebut.
"Hai, Kak." sapa Amanda sambil tersenyum. Ya, walaupun dari sana Nicky tidak akan tau kalau sekarang Amanda nggak bisa berhenti senyum.
"Hai, Man." sapa Nicky balik.
Percakapan di telepon pun berlangsung panjang.
Andra yang daritadi kupingnya udah panas mendengar Amanda yang senang banget berbicara dengan Nicky di telepon langsung pergi keluar kelas. Ia pergi ke suatu kelas.
Saat Andra memasuki kepas tersebut, semua mata siswa di dalam kelas melihat ke arah Andra.
Andra menghampiri seorang perempuam yang juga melihat kaget ke arahnya. Perempuan itu tambah kaget lagi ketika Andra semakin dekat menghampirinya.
"Sel, gue bisa ngomong sebentar? Tapi nggak disini." ucap Andra yang sukses didengar seisi kelas. Seisi kelas pun heboh.
Selena diam cukup lama.
Andra mengibaskan tangannya di depan wajah Selena. "Hei."
Selena tersadar. "Eh iya, Kak. Oke."
Andra berjalan keluar kelas diikuti Selena dari belakang. Mereka menuju taman belakang sekolah.
"Jadi kakak mau ngomong apa?" tanya Selena pelan. Sekarang mereka berdua sudah duduk di bawah pohon yang cukup besar.
"Sebelum gue ngomong, mendingan nggak usah manggil gue pake sebutan kakak, deh. Agak jijik dengernya." ucap Andra sambil tertawa kecil.
Amanda tersenyum. "Terus aku harus panggil apa?"
"Panggil aja Andra." jawab Andra dengan senyum simpulnya. Yang sukses membuat Selena melayang.
(NOTE : Oh ya, author lupa. Harusnya dari awal gue udah harus ngasih ciri-ciri pemain ya? Sorry nih, saking semangatnya bikin cerita, gue jadi lupa. Oke disini gue kenalin gimana sih ciri-ciri masing-masing pemain.
Pertama, Andra. Cowok tinggi, badannya cukup tegap, kulit cokelat, ganteng, bawel tapi nggak mekong kok, dan satu-satu andalannya adalah senyumannya, semua cewek pasti langsung melting deh kalo liat senyumannya.
Kedua, Amanda. Cewek tinggi, putih, badannya kurus banget.-. tapi masih dalam batas yang wajar kok, pinter, bibir tipis dan masih banyak lagi. Yang pastinya cantik banget.
Ketiga, Nicky. Nah, yang ini yang paling perfect. Ganteng, keren, pinter, jago main musik, cuek sih tapi perhatian kok, putih, senyum manis dan tatapannya itu loh bikin semua cewek melting di tempat, agak ke chinese gitu deh, potongan rambutnya juga bagus, kok. Duh type cowok author banget, deh. Eh maksudnya Amanda.
Terakhir, Selena. Cantik, pendiam, putih, pintar, badannya nggak sekurus Amanda, murah senyum, baik hati deh pokoknya.)
Back to the story...
"Oh iya, An...dra." jawab Selena tergagap.
"Oh iya, tadi kenapa ya? Pas gue masuk kok semuanya pada keget gitu? Oh, mungkin karena mereka kagum sama kegantengan gue ya?" ucap Andra dengan muka sok gantengnya.
Selen tertawa. "Geer, banget sih. Mungkin mereka kaget karena kamu satu-satunya kakak kelas yang masuk ke kelasnya."
Andra juga tertawa. "Oh begitu." ucapnya sambil manggut-manggut.
"Jadi, kamu mau ngomong apa?" tanya Selena pelan.
Sekarang jantung Selena nggak bisa diam. Dari tadi nerdegup kencang. Selena nggak nyangka kalau sekarang yang ada di depannya adalah kakak kelas yang sudah cukup lama disukainya. Selena berharap ini bukan sekedar mimpi.
"Oh iya, gue sampe lupa. Gue mau tanya sama lo. Lo pernah punya sahabat cowok kan?" tanya Andra mulai serius.
"Pernah." jawab Selena yang sekarang sudah mulai santai berbicara dengan Andra.
"Dan lo pernah nggak jatuh cinta sama sahabat cowok lo itu?" Andra menyenderkan bahunya di batang pohon besar itu.
"Iya, aku pernah jatuh cinta sama sahabat cowokku itu."
"Lanjutin cerita lo. Gue mau denger." ucap Andra santai.
Selena melanjutkan ceritanya. "Makanya aku pernah bilang kalau cowok dan cewek nggak akan bisa sahabatan lama, pada akhirnya salah satu diantaranya pasti ada yang jatuh cinta. Saat aku jatuh cinta, tepatnya saat sahabat cowokku juga jatuh cinta. Nggak. Nggak dia bukan jatuh cinta sama aku, tapi sama cewek lain. Aku sedih. Dari situ, dia selalu saja menyebut nama cewek yang disukainya itu. Aku mulai nggak tahan. Tapi pada akhirnya aku sadar apa itu gunanya sahabat. Akhirnya pada suatu hari, dia dan cewek itu jadian. Tentunya aku sedih, tapi yang namanya sahabat nggak akan tega mengkhianati. Aku dukung hubungan mereka. Aku rela asal dia senang." Di akhir ceritanya Selena berkata. "Gitu ceritaku, maaf kepanjangan."
Selena menoleh ke Andra yang sedang bersender di batang pohon. Selena melihat Andra yang sedari tadi hanya terdiam.
"Kak? Eh maksudku...Andra?" ucap Selena mengibaskan tangannya di depan wajah Andra.
Andra tersadar. "Oh, maaf. Lo sahabat yang baik ya. Ngerelain sahabat cowok lo itu. Walaupun lo sakit hati."
Selena tersenyum. "Kalau aku nggak ngerelain itu semua, aku nggak akan pernah sahabatan sama dia lagi. Apalagi aku udah lama sahabatan sama dia, masa gara-gara itu aja hubungan sahabatan ku hancur."
Andra juga tersenyum. Andra belum pernah melihat perempuan yang sebijak Selena. "Terus sahabat lo itu gimana?"
"Dia sudah pindah dari sekolah ini. Entah kemana"
Andra menjawab. "Terus sampai sekarang lo masih bersahabatan dan masih suka sama dia? Sedangkan dia udah pergi entah kemana."
Selena menggelengkan kepalanya. "Pada akhirnya aku menemukan seorang laki-laki yang bisa membuat aku melupakan itu semua."
"Siapa laki-lakinya?"
Amanda menoleh lagi ke arah Andra, lalu tersenyum dan mengangkat bahunya sehabis itu menurunnkannya lagi.
Mereka terus berbincang sampai akhirnya bel masuk berbunyi.
"Ndra, lo kemana aja? Tadi gue liat lo jalan keluar." tanya Amanda setelah melihat Andra yang baru masuk kelas setelah bel bunyi.
"Gue abis ngobrol sama Selena." jawab Andra sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
Amanda tersenyum. "Jadi udah mulau PDKT nih?"
"Apa sih lo. Udah noh liat ada Miss Diana." ucap Andra sambil menunjuk ke arah Miss Diana yang sedang berjalan masuk ke dalam kelasnya.
Amanda balik ke tempat duduknya.
Sementara Andra kembali memikirkan cerita Selena tadi. "Apa gue harus ngerelain Selena buat Nicky?" batinnya.
Dan mulai detik itu juga, Andra meyakinkan kalau dirinya memang benar-benar jatuh cinta sama Amanda, sahabatnya sendiri.
(Author : By the way, sampai sekarang belum ada yang comment ya? Kalau bisa comment ya buat sarannya. Thanks:D)
