3

3.1K 421 142
                                        

--------------------------------------------------

Sorry for typos and happy reading.

--------------------------------------------------

Tiga

Suzy mengendarai mobilnya tanpa tujuan, hanya mengemudi sesuka hatinya tanpa menetapkan ke mana dia harus pergi. Semenjak wanita itu membeli sebuah mobil, dia mulai menjelajahi kota demi kota, dari Seoul ke Busan, dari Seoul ke Paju, dan lainnya lagi. Mengemudi dengan tenang dan memakan waktu lebih lama dibandingkan yang lain. Dia hanya suka melakukannya jika dia tidak punya kegiatan lainnya atau saat dia gelisah akan sesuatu, seperti saat ini.

Wanita itu memang sedang gelisah, tidak tau pasti apakah dia harus mengakhiri hubungannya dengan Jun Ki seperti yang pria asing itu harapkan darinya. Wanita itu menjalin hubungan aneh dengan pria itu lebih kurang satu tahun, mereka sudah memasuki tahap tidak wajar dari sebuah hubungan dan itu yang membuat Suzy gelisah. Apakah keputusan yang akan dia ambil sekarang adalah benar? Mengakhiri hubungan aneh itu dan memulai hubungan aneh lainnya.

Uang menjadi pengikat mereka, entah itu antara dirinya dan Jun ki ataupun hubungan baru yang akan dia bentuk. Suzy selalu membuatnya tampak mudah, mengambil keputusan dengan cepat seakan dia tidak berfikir dulu akan keputusan yang ia buat, tapi nyatanya dia selalu memikirkannya dalam-dalam dulu sebelum memutuskan sesuatu. Termasuk menjalin hubungan, tak peduli seaneh apapun itu.

"Sulli." Panggil Suzy melalui telepon, dia sekarang sedang memarkirkan mobilnya di tepi jalanan sepi. Yang menghadap langsung pada pantai dengan pasir putihnya yang menenangkan.

"Hai beb, kemana saja kau beberapa hari terakhir ini? Aku tidak melihatmu di club."

"Aku sibuk." Dusta Suzy, memangnya kesibukan apa yang orang sepertinya miliki.

"Oh, ya? Apa yang kau lakukan? Merajut baju bayi di dalam apartemen kumuhmu?"

"Sialan kau!" Suzy mendengar wanita di seberang telepon tertawa, "apa yang kau lakukan malam ini? mau pergi bersenang-senang?" tanya Suzy, mengelus setir mobilnya dengan tatapan lurus menatap pantai.

"Bagaimana dengan kesayanganmu? Tidakkah kau harus menemaninya?"

"Tidak. Dia sedang sibuk, kau tau, orang kaya selalu sibuk." Tawa renyah itu dapat kembali Suzy dengar, dia heran, kenapa Sulli suka sekali tertawa dengan apa yang dia katakan. Diakan sedang tidak melawak. "Lagi pula aku sedang tidak ingin menemuinya." Sambung Suzy lagi.

"Benarkah? Kenapa? Jangan bilang kalau kau menemukan mangsa baru."

"Anggap saja begitu." Suzy tersenyum tipis, membuka kaca tengah mobil dan melihat pantulan matanya dari sana.

"Wow beb, kau serius? Terakhir kali kau mengerjai anak kulihan. Coba ingatkan aku berapa uang yang dia habiskan untuk membelimu ini dan itu." Sulli kembali tertawa dengan begitu menyebalkan. Suzy jadi mengingat kisah itu, saat ada seorang anak kuliahan yang mencoba untuk merayunya. Alhasil, anak ingusan itu hanya kehilangan uangnya saja tanpa bisa menyentuh wanita itu sedikitpun. Anak-anak ingusan penggoda yang harusnya belajar memang harus diberi pelajaran gaya orang dewasa.

"Jangan sampai kesayanganmu tau, dia bisa memangkas uang bulananmu. Dia aset yang paling berharga kan?"

"Bisa kau berhenti berkicau sayang? Kepalaku rasanya sudah mengeluarkan asap mendengar kata-katamu." Balas Suzy, menggunakan nada suara tak senang walaupun dia tahu bahwa Sulli tidak akan peduli. Wanita itu tidak mudah tersinggung, itulah kenapa dia sangat suka wanita cantik tersebut.

Love and Money [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang