"Aliii..."
Hanya itu yang keluar dari bibir mungil Prilly. Air matanya mengalir saat gadis bermata hazel itu berkedip saat melihat sebucket mawar tergeletak di atas meja kerjanya sementara boneka beruang berukuran besar terletak di atas kursi kerjanya. Bukan! Bukan itu yang menarik perhatian Prilly, namun balon berwarna emas dengan bentuk huruf abjad yang berjajar hingga menjadi satu kalimat yang membuat Prilly tertarik. Will You Marry Me?
"Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata karena aku tau kata-kata atau janji aku udah ngga berlaku buat kamu..."
Ali menarik nafasnya sebentar, lalu meraih tangan Prilly untuk di genggam.
"Aku juga bukan penulis yang bisa kapan aja menjanjikan kebahagiaan di setiap ceritanya, tapi..." Tangan Ali terangkat untuk menghapus air mata Prilly.
"Aku adalah Ali. Ali yang pernah menyakiti kamu, Ali yang berulang kali bikin kamu menangis, dan Ali yang mencintai kamu dengan segala kekurangannya..."
"Terimakasih untuk kesempatan yang kamu kasih, terimakasih sudah hadir dan menerangi hidupku yang kelam..."
Ali menunduk sebentar lalu mendongak lagi menatap Prilly yang tak hentinya mengeluarkan air mata.
"So, Will you marry me?" Ali semakin menggenggam erat tangan Prilly yang terasa sangat dingin.
"Aku... ngga bisa!"
Deg!
Jantung Ali berdetak kencang. Ngga bisa? Kenapa? Kenapa memberi kesempatan kalau akhirnya menolak? Balas dendamkah? Segala pertanyaan memenuhi otak Ali. Pria itu Memejamkan matanya erat-erat, mengurangi kekecewaan yang begitu menusuk hati.
"Ngga bisa menolak maksudnyaaa..."
Seketika Ali langsung membuka mata dan langsung menatap Prilly yang sedang tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Ali yang gemas pun langsung memeluk Prilly sangat erat, tak peduli dengan pekikan gadis itu yang memekakkan telinga.
"Berani ya ngerjain, jantung aku berasa mau loncat nih pas kamu bilang ngga bisa!" Ali menangkup wajah Prilly lalu mencium dahinya cukup lama.
"Lebay!" Prilly mencubit pelan perut Ali membuat pria itu tertawa.
"Buat apa aku kasih kesempatan kalau ujung-ujungnya aku nolak lamaran kamu!"
"Bisa aja kamu balas dendam, mau bikin aku sakit hati!"
"Ihs, fikirannya kotor!"
"Maaf, maaf." Lagi, Ali menarik Prilly ke dalam dekapannya. Mencium pucuk gadisnya itu berulang kali.
"Lepas dulu, aku mau peluk dia..." Prilly melepaskan pelukan Ali lalu menunjuk boneka beruang yang ada di atas kursi kerjanya.
"Ternyata boneka itu lebih mempesona daripada gue!" Ali menggerutu saat melihat Prilly memeluk boneka itu sangat erat.
"Tau begitu tadi gue beliin boneka annabel aja!" Lanjutnya menggumam sambil cekikikan. Membayangkan kalau yang tadi ia beli boneka menyeramkan itu. Pasti Prilly akan memukulinya sambil menangis sesegukan. Gadisnya itu kan sangat penakut. Kalau habis menonton film horor saja, apa-apa minta di temani. Ke dapur minta di temani, mau buang air kecil minta di temani sampai depan pintu bahkan kalau sama mamanya minta di temani sampai dalam kamar mandi.
"Kenapa ketawa-ketawa begitu?"
Ali menggeleng sambil menahan tawanya. Ia menghampiri Prilly lalu mengusap lembut rambutnya.
"Sayang?" Prilly menatap Ali serius.
"Ya?"
"Aku mau nanya serius."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangkit Dan Percaya (END)
Hayran KurguPernah ngga kalian lagi cinta-cintanya sama seseorang, tapi tiba-tiba takdir mengubah semuanya? Jika pernah, jangan pernah mengatakan untuk tidak jatuh cinta lagi. Karena, apapun yang terjadi ke depan, tidak ada yang tau. Kalian harus Bangkit dan Pe...
