"Cantik anak Mama."
Mendengar suara itu, Prilly menoleh ke arah pintu. Tersenyum menatap mamanya yang kini berdiri di hadapannya. Usapan lembut di pipinya membuat Prilly memejamkan mata, merasakan kasih sayang seorang ibu yang sangat ia sayangi.
"Ali dan ķeluarganya sudah datang," Bu Risma menyisih rambut Prilly yang jatuh di bahu ke belakangnya. Meneliti penampilan putrinya dari kepala sampai kaki. Sempurna. Gaun pendek berbahan brokat berwarna silver, namun di bagian belakangnya menjuntai hingga ke bawah di padukan dengan wedgess berwarna senada. Rambutnya di biarkan terurai, hanya di bagian bawahnya sedikit di curly. Kalung liontin yang baru di belikan Ali kemarin, kini melingkar indah di leher jenjangnya. Terkesan simple namun cantik tetap melekat.
"Sempurna." Bu Risma tersenyum setelah melihat tak ada yang kurang dari penampilan putrinya.
"Ma..." Prilly menahan tangan bu Risma yang ingin mengajaknya keluar menemui Ali dan keluarganya.
"Apa aku ngga terkesan jahat?"
"Jahat?" Bu Risma mengulang pertanyaan Prilly dengan dahi berkerut.
"Ini baru sebulan setelah kepergian Genta, tapi aku dan Ali..."
"Sstttt, kamu ngga jahat, Ali ngga jahat, ngga ada yang jahat." Bu Risma memotong ucapan Prilly.
"Aku ngga enak sama Ibu Ma."
"Kenapa harus ngga enak sayang?"
Mendengar ada suara lain yang menyahut, Prilly dan bu Risma langsung menoleh ke ambang pintu.
"Ibu..." Gumam Prilly saat melihat bu Rahma berjalan menghampirinya, di belakangnya ada tante Sarah yang mengekori.
"Maaf ya nyelonong masuk, tadi di suruh langsung naik sama Mas Darmawan." Bu Rahma berkata sungkan.
"Ibu datang? Prilly fikir ibu..."
"Harus datang dong, Ibu mau nyaksiin acara lamaran anak-anak Ibu yang ganteng dan cantik ini." Bu Rahma mencolek hidung Prilly.
"Ibu ngga marah?"
"Kenapa harus marah? Ibu bahagia kalau kamu dan Ali bahagia."
Prilly tersenyum dan langsung memeluk wanita yang sudah ia anggap ibu keduanya itu. Wanita hebat yang telah melahirkan dua pria yang cukup berarti dalam hidup Prilly.
Kesedihan karena kepergian Genta masih melekat, tapi tak mungkin Prilly menunda acara lamaran yang sebelumnya memang sudah di rencanakan. Prilly juga harus menjaga perasaan Ali, pria yang sangat ia cintai. Bukan tak enak hati pada yang sudah tiada, tapi justru pada yang masih hidup. Dan kedatangan bu Rahma saat ini cukup membuat ganjalan di hati Prilly menghilang seketika.
"Prill, calon suami kamu keren ya, Tarah mau tuh kalau di kenalin sama yang di sebelahnya." Tante Sarah menyeletuk lalu mengerling genit pada Prilly yang sudah melepaskan pelukan pada bu Rahma dan menoleh padanya.
"Siapa?" Prilly mengerutkan dahinya bingung.
"Itu loh Prill, Papanya Ali." Bu Risma menyahut.
"Oohhh Papanya Ali, pantas anaknya keren, Papanya aja begitu." Tante Sarah mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum membuat semuanya tergelak.
"Ingat umur!" Celetuk bu Rahma membuat tante Sarah mengerucutkan bibirnya.
"Aku belum tua Kak, kan cocok kalau duda ketemu janda."
"Eh, tau darimana kalau camer aku duda?" Prilly bertanya curiga.
"Di sampingnya ngga ada cewek.
Berarti single dong? Single parent," Tante Sarah menyengir membuat bu Rahma menggelengkan kepala. Dasar ganjen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangkit Dan Percaya (END)
FanfictionPernah ngga kalian lagi cinta-cintanya sama seseorang, tapi tiba-tiba takdir mengubah semuanya? Jika pernah, jangan pernah mengatakan untuk tidak jatuh cinta lagi. Karena, apapun yang terjadi ke depan, tidak ada yang tau. Kalian harus Bangkit dan Pe...
