Setidaknya, kita pernah bersama dalam satu harap. Mengucap saling untuk kemudian bersama-sama menumbuhkan rasa. Tertawa bersama, menghabiskan malam bersama, juga waktu-waktu yang tanpa pernah sedikitpun dilewatkan tanpa adanya kita.
Kita, memang selalu berlebih dalam hal mencintai. Memberikan seluruh tanpa peduli diri kita suatu saat akan terbunuh. Tergores perlahan-lahan hingga dalam. Menahan sesak sendirian hingga tenggelam.
Waktu-waktu yang dilewati amatlah berharga. Meskipun kau sekarang pergi, aku tidak mau terlalu membenci. Bagaimanapun, kita hanya telah melewati fase. Fase saling memahami agar selaras dengan hati. Sebab kita tak mungkin akan terpisah kalau memang kita telah senada. Kita telah banyak belajar, hingga tak akan ada lagi kesalahan sama untuk yang kita saling temui nanti.
Aku harap kita saling memunggungi tanpa pernah ada benci. Saling menjauhkan langkah tanpa pernah menyalahkan yang pernah. Sebab kita pernah saling untuk mau, hingga tak adil bila ketidakselarasan kita kau jadikan alasan untuk mengecapku sebagai sendu.
Ingatlah ini, kau yang pergi. Aku yang harusnya membenci.
Aku hanya berupaya kau kembali, bukan membuatmu menumbuhkan benci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Senja
PoetryPada sebuah perasaan, aku tak cukup mampu mengatakan bahwa aku terluka. Tak cukup sanggup, bila harus mengejarmu yang berlari sangat cepat, sedangkan aku di sini, tertatih, berdiri dari jatuh pun aku belum mampu. Lewat tulisanku, aku mendoakanmu dar...