Bagian - 5

46 17 0
                                        

Sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih atas 100 viewnya💙💙 hehe, 10 hari udah 100 view lebih, makasihhh banget. Jangan lupa ajak temen2 kalian juga baca ini💙 (jangan lupa Voment juga💋)
.
.
. Sory for typo😌

Keheningan melanda di dalam mobil Avan, Cia yang berada di jok belakang merebahkan tubuhnya dengan kaki berada di paha ibu Avan.

"Tante" panggil Cia. "Maaf aku gak sopan" ucap Cia kikuk karena merasa malu kakinya yang sedang dielus oleh Sandra ibu Avan.

"Sst, gak apa-apa nak, kalau gak ada kamu tadi tante gak tau harus gimana" ucap Sandra yang masih memijat kaki Cia.

"Aw" teriak Cia meringis karena kakinya yang nyeri.

"Ayo dong Van cepetin nyetirnya, kasihan nih Cia" tutur Sandra dengan menampol bahu kiri Avan.

"Iya-iya Ma ini juga lagi diusahin cepet".

Memang jakarta yang terkenal akan kemacetan terparah  nomor 1 di Indonesia. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, mereka bertiga sudah sampai di Rumah Sakit.

RUMAH SAKIT

Setelah sampai di Rumah Sakit, Sandra pun ikut mengantarkan Cia ke dalam ruang di mana ia akan ditangani sedangkan Avan menunggu di depan ruang tersebut dengan memangku tas Cia.

Drrtt. Drrrtttr

Getaran pun terasa di atas paha Avan, berkali-kali suara deringan berbunyi Avan tidak berani membuka tas gadis tersebut karena, ia tidak punya hak membuka sembarangan tas orang lain. Tetapi, getaran tersebut tetap berbunyi maka dengan ketidaksopanan Avan pun mengecek handphone Cia.

Mama is calling

Avan pun bingung akan mengangkat telfon tersebut apa tidak, tetapi jarinya pun menggeser layar hijau yang ada.

"Halo, sayang kamu di mana? Katanya kaki kamu keseleo kamu di Rumah Sakit mana? Makanya jangan ceroboh jadi anak perempuan" cerocos Jasmine dengan suara panik.

"Halo, maaf tante saya Avan" ucap Avan sopan membalas suara Jasmisne.

"Anak tante sedang ditangani di dalam sama Mama saya, sekarang handphonenya saya bawa. Kita lagi ada di RS Mitra Keluarga, tante tidak usah khawatir" ucap Avan lagi menjelaskan dengan sesopan mungkin.

"Ya ampun, maaf tante kira ini tadi Cia" ucap Jasmine kikuk di seberang karena merasa malu.

"Tante langsung ke sana ya, bilang ke Cia suruh nunggu tante".

"Iya tante," balas Avan dengan memasukkan handphone Cia ke dalam tasnya lagi.

Sesudah semua urusan hari ini selesai, Avan pun pulang bersama dengan ibunya. Tadi, Sandra juga meminta maaf kepada ibu Cia karena sudah membuat anaknya terluka karena menolong dirinya.

Di dalam mobil menuju pulang,

"Cia cantik ya Van?" Ucap mama Avan dengan menoleh ke anaknya yang hanya dapat responan diam oleh Avan.

Bugh

"Aduh," keluh avan dengan mengelus bahunya "Apa sih maaa?".

"Kamu tuh, diajak orang tua ngomong itu di dengerin bukanya diem aja!" Omel Sandra pada Avan.

"Iya iya"

Dengan semangat lagi Sandra pun berkata. "Jadi bener kan Cia cantik?"

"Hah, mama ngomong apa sih?"

"Ah," ucap Sandra dengan mencebikkan bibirnya kesal. "Males mama sama kamu".

"Hehe, jangan marah dong nanti mama nggak cantik lagi loh" ucap Avan merayu Mamanya agar tidak kesal.
.
.
.
Esok harinya, Hari ke-2 di mana kegiatan kemerdakaan di sekolah PRIMAKSATI akan menyelenggarakan lomba yang lainnya yaitu untuk hari ini lomba menyanyi (karaoke).

Sesampainya di sekolah, Cia langsung duduk di bangkunya karena merasa sedikit nyeri akibat sisa keseleo kemarin. Ia pun bingung nanti waktu tampil menyanyi Cia ragu apakah kuat berdiri dengan durasi kurang lebih 4-5 menit tersebut.

"Ci, kenapa kaki lo? Masih sakit?" Tanya Jani.

"Gak apa-apa, aku tampil ke berapa?" Tanya balik Cia.

"Urutan ke-4 setelah kelas 11 IPA 2, bentar gue cariin Devan biar nanti di kasih kursi buat lo, biar lo gak capek nanti" ucap Jani bergegas pergi ke lapangan mencari Devan.

Celingak-celinguk itu yang dilakukan Jani.

"Nah itu" Jani berjalan ke arah Devan yang sedang mengatur beberapa nada yang akan diputar nanti.

"Devan!" Panggi Jani.

Devan pun menoleh dengan memicingkan mata sebelah. "Ha?"

"Songong banget lo. Cia kakinya sakit karena kemarin keseleo, nanti pas nyanyi kasih kursi bisa nggak?" Ucap Jani menjelaskan.

"Walahh bebeb gue kenapa?" Kekeh Devan.

"Bebeb bebeb pala lo muter" ucap Jani mendelik.

"Iya ntar gue siapin, bilangin ke Cia tampil ke-4" ucap Devan yang masih sibuk memindah file-file nada dari Handphone ke Laptopnya.

Setelah mendapatkan pengumuman dari sentral bahwa para peserta lomba menyanyi untuk segera berkumpul di dalam ruang ganti basket putra agar dapat menyiapkan dirinya.

"Semangat Cia, lo pasti bisa" dukung Jani menyemangati Cia.

"Aku kok deg-deg an ya" ragu Cia dengan memegang detak jantungnya.

"Wahhh rame banget yaa, sekarang giliran gadis cantik IPA 5 nih kita panggil yuk CIAAAA dengan lagu dari One Direction - You and I. Tepuk tangannya dong" ucap angggota Osis yang betugas menjadi pembawa acara.

"Wuihhh Ciaaaa"

"Yeayyy semangat Ciaaaaa"

"Goncangkan Primasakti!!!"

Begitulah sorak-sorak dari anak kelas IPA 5.

"Sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih kepada temen-temen karena udah ngasih kesempatan aku buat nyanyi di sini, lagu ini khusus aku persembahkan untuk teman-teman IPA 5 semua, selamat menikmati". Kata Cia dengan mengedarkan matanya kepada sejejeran di mana letak posisi temannya berada.

Dan ia terfokus pada satu tatapan yang seakan mengucapkan kata "SEMANGAT" dengan mengangkat sebelah tangan kananya membentuk gerakan strong yang ditujukan pada Cia. Ya, itu adalah Devan yang lagi-lagi membuat Cia merasa di istimewakan oleh lelaki itu.

"I figured it out,
I figured it out from black and white,
Seconds and hours,
Maybe they had to take some time ..." lantun Cia yang matanya masih terfokuskan pada satu titik.

Jani yang mengetahui arah tatapan Cia hanya dapat menghela nafas. "Astaga Cia apasih yang lo harapin dari cowok itu?".

"WOIIII SEMANGATIN CIA DONGGG!!!!" Teriak Jani pada teman-temanya. Yang dapat sorakan ceria dari semuanya.

"I know how it goes,
i know how it goes from wrong and right,
silence and sound,
did they ever hold each other tight, like us
Did they ever fight like us...."

Suara gemahan applause, teriakan dari anak-anak PRIMASAKTI pun membuat Cia bangga karena bisa membuat mereka senang.

"You and I ...
We don't wanna be like them,
We can't make it till the end,
Nothing can come between , you and i ...
Not even the Gods above can separate the two of us,
No nothing can come between you and I ...
Ohh You and I ...."

Suara teriakan haru di lapangan mendominasi suasana hati mereka karena lagu ini sangat menyentuh di mana sepasang kekasih yang yakin bahwa ia tidak akan terpisahkan, bahkan para Dewa pun tidak bisa memisahkannya.

Setelah selesai menyanyi Cia pun siap-siap pergi ke ruang "TIMKER" untuk mendapatkan wejangan untuk melanjutkan kegiatan seminar kemarin.

Drrrtt.. drrrttt

From : Deevan
Gue suka lagunya, lo keren hari ini gue suka.

Dan Cia pun semakin bingung dengan perasaanya makin hari makin membingungkan.

Yeayyyyy, jangan lupa voment yaw💙💋
Deeffzz

DAYRAVANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang