11

10K 2.3K 23
                                        

"Kenapa sih mukanya ditekuk mulu. Belum dijatahin sama kak Hyunjin?"

Gue menatap sengit Lili karena ucapannya yang terlalu ngawur.

"Jangan ngaco deh, Li."

"Lah terus kenapa? Cerita dong sama Liliana sahabat tercintamu ini."

"Tau ah." kata gue, nopang dagu dengan wajah ditekuk.

Hp di tangan gue direbut gitu aja sama Lili. Gue melotot tapi gak merebut balik hp gue alis ngebiarin Lili ngutak-ngatik isinya.

"Anjir berani bener Guanlin."

Gue menghembuskan nafas berat, menelungkupkan kepala di meja kantin. Rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya tapi situasi yang ramai sangat gak memungkinkan untuk gue melakukan itu.

"Dih, lo disuruh putus sama kak Hyunjin. Ck, parah sih ini."

"Lah lah lah... ngancem gantung diri."

"Ngakak tapi kesel. Gimana ya Ta, gue gak bisa bantu apa-apa."

Dan celetukan Lili selanjutnya gak gue gubris sama sekali.

Gue capek. Capek diusik terus-terusan sama Guanlin.

Gue pikir, setelah tau gue jadian sama orang lain, dia bakal nyerah buat ngejar-ngejar gue, nyatanya dia malah makin menjadi-jadi. Bedanya sekarang dia udah gak ngadu ke mama.

"Kenapa?"

Gue merasakan kursi disamping gue ditarik dan sebuah elusan lembut menyapa bagian atas kepala gue.

"Pacar gue kenapa, Li?"

"H-hah? Ka-kak Hyunjin nanya s-saya?"

Hyunjin dan satu orang lainnya yang gue yakini seorang cowok malah ketawa.

"Weh biasa aja jangan gugup-gugup gitu. Si Hyunjin bukan pak Coni kali." kata cowok itu, ngebuat Lili meringis karena malu.

"Jadi, kenapa dia?" tanya Hyunjin, kembali ngelus kepala gue sedangkan gue masih nunduk.

"Lihat sendiri aja kak."

Selanjutnya gue gak mendengar apa-apa selain suara temen Hyunjin yang mulai godain Lili. Sedangkan Lili dengan sok cueknya malah galakin cowok itu.

"Bangun dulu, Ta."

Hyunjin narik gue biar bangun dari posisi nunduk gue diatas meja.

Gue natap dia dengan tatapan lesu.

"Kak..."

"Hm?"

"Capek." keluh gue, mau mewek aja rasanya. Hyunjin hembusin nafas beratnya.

"Ikut aku yuk?"

"Kemana?"

"Ikut aja dulu. Nanti juga tau."































"Kok ada dia sih?"

"Gue yang nyuruh dia kesini. Sana temuin dia dan jelasin pelan-pelan. Dia kaya gitu karena dia butuh penjelasan dari lo." ujar Hyunjin, lembut.

"Tapi gak ada yang perlu gue jelasin." kata gue ngotot. Karena menurut gue emang gak ada lagi hal penting yang perlu gue jelasin ke Guanlin.

"Yauda berarti jangan ngeluh kalau si cowok cina itu gangguin lo terus."

"Ta-"

Hyunjin nempelin jari telunjuknya dibibir gue. Membuat ucapan gue seketika berhenti.

"Sst... tenang aja gu3 ada disini. Gue bakal ngawasin lo. Gak usah takut."

Gue diem. Saling tatap sama Hyunjin dan akhirnya mengangguk dengan mantap.

Sebelum menghampiri Guanlin yang lagi duduk di salah satu bangku taman sekolah, Hyunjin nahan tangan gue. Kemudian dia ngelus puncak kepala gue sambil tersenyum.

Satu kata.

Ganteng.


























"Lin."

Guanlin langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia natap gue sambil tersenyum.

"Duduk aja."

Kemudian kita duduk dengan tatapan kedepan dan diam. Gak ada yang mulai percakapan.

"Tumben kamu ngajak aku ketemuan. Mau ngomong apa?" tanya Guanlin setelah hampir tiga menit kita cuma diem-dieman.

"Lin, lo sayang sama gue gak?"

Sontak pertanyaan Gue membuahkan gelak tawa dari Guanlin.

"Hahaha ada-ada aja sih. Ya sayang lah kalo gak sayang ngapain aku kejar-kejar sampai sekarang." celetuknya disertai tawa kecil.

Gue diem aja. Sedetik kemudian mengarahakan pandangan gue ke mata Guanlin yang sedari tadi gak lepas dari gue.

"Tapi gue gak suka dikejar-kejar. Terlebih oleh orang yang udah pernah buat gue kecewa."

Dan saat itu juga senyum Guanlin luntur. Rasanya gue mau nyumpahin bibir gue sendiri karena selanjutnya sorot mata Guanlin berubah sendu.

Tapi karena gue udah memulai sampai ke titik ini, rasanya bakal sia-sia kalau gue berhenti gitu aja.

Hari ini juga, gue mau nyelesein semuanya.

"Kita udah pernah sama-sama kan Lin? Lo dan gue pun sama-sama ngerti sifat masing-masing. Dulu gue bakal bahagia banget kalau lo bilang sayang ke gue seperti beberapa saat yang lalu. Tapi untuk sekarang? Semua kebahagiaan itu gak berasa lagi. Hambar Lin. Rasa sayang lo ke gue gak berefek lagi bagi hati dan perasaan gue."

Untuk sejenak gue berhenti, mencoba menstabilkan nafas.

"Kalau pun kita balik kaya dulu lagi, gue gak yakin rasanya sama kaya pertama kali kita menjalin hubungan."

"Tapi aku masih sayang kamu, Ta. Aku mau memperbaiki kesalahan yang udah aku perbuat ke kamu."

Guanlin meraih tangan gue, digenggamnya erat-erat dan sesekali diremas. Gue tau dia lagi berusaha buat yakinin gue tapi gue bener-bener gak bisa.

"Guanlin. Lo cuma merasa bersalah atas semua kejadian di masa lalu yang udah lo perbuat ke gue. Perasaan bersalah lo itu udah menutupi sebuah fakta kalau rasa sayang lo udah hilang. Belajar membedakan mana rasa sayang dan rasa bersalah."

"A-aku..."

"Gue udah maafin lo kok. Dari jauh-jauh hari. Jadi lo jangan kaya gini lagi dan berhenti mohon-mohon ke gue untuk sesuatu yang sampai kapanpun gak bakal pernah gue kabulin. Gue gak bisa Lin."

Kepala gue nunduk. Mati-matian gue nahan rasa sesak di dada gue. Mata gue berair, rasanya mau luapin segala penat gue.

Gue capek. Untuk kali ini aja gue berharap Guanlin ngerti.

"Ta, boleh aku peluk kamu? Please, i promise that it will be the last time."

Pertanyaan Guanlin membuat gue menegakkan kepala. Masih dengan air di pelupuk mata, gue mengangguk.

Lalu gue merasakan dekapan hangat yang udah empat bulan ini gak pernah gue rasakan lagi. Namun bedanya, kalau dulu gue merasa terlindungi, sekarang gue merasa lega.

"Maaf ya, aku selalu maksa kehendak ke kamu. Sekarang aku sadar, untuk menebus sebuah dosa, kita gak perlu mengulang kenangan yang udah terlewat. Cukup dengan meminta maaf dan berjanji gak bakal melakukan kesalahan itu untuk kedua kali. Makasih udah nyadarin aku."

beb👇

AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang