Sorry Lama updatenya.
Gak stuck sih, cuma laptopnya dibawa-bawa kakak gue terus. Dan kalo ngetik di HP males. Jadinya baru bisa ngetik sekarang deh.
Enjoy The story
***
Cindy berusaha mengguncang-guncangkan jeruji besi itu, dan hasilnya nihil. Ia terus menerus berteriak.
"DIAM!" Bloody menatapnya jengkel. "Psycho." ia merapalkan mantera ia untuk kedua kalinya dan tetap sama, tidak berdampak apa-apa kepada Cindy.
Bloody mengerang jengkel, ada yang salah dengannya. Ia merapal mantera berulang kali, dan Cindy terdorong kebelakang menabrak besi dibelakangnya. Cindy menautkan alisnya, menatap marah ke Bloody.
Cindy menengok ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari sebuah tongkat sihir agar bisa membalas perempuan gila menjengkelkan didepannya.
Bloody menyunggingkan senyum puas ketika melihat Cindy tak dapat berbuat apa-apa. "Walaupun aku tak dapat menghipnotismu, setidaknya kau tak bisa merapalkan mantera tanpa tongkat ajaib." Ia menunjukkan sebuah kantung kulit yang berisi tongkat sihir mereka, lalu menjatuhkannya tepat didepan mata Cindy.
Cindy mengerucutkan bibirnya. Kantung itu hanya berjaraj tidak lebih dari satu meter di hadapannya, hanya saja palang jeruji besi menghalanginya. Ia menatap tangannya yang pendek, merutuki dirinya yang memiliki tangan pendek.
Bloody tertawa seketika. "Bersiaplah, mereka datang."
Mereka ?
***
Paul mengerang jengkel, melihat beberapa serigala menuju kearah mereka dengan air liur yang bercecer. Mengingatkannya kepada kejadian barusan, air liur menjijikkan itu mengenai wajahnya. Berharap air liur itu tak beracun.
Satu penghalang berhasil dihancurkan para serigala itu. Penghalang itu tak akan melindunginya lebih lama lagi. Ia menatap para serigala putih yang menyeret tubuh Rey. Dan sesekali ia menatap para serigala yang berusaha menghancurkan penghalang satu persatu.
"kalian pergilah, sembunyi hingga Rey terbangun !" Perintah Paul, ia segera mengangkat tongkatnya. Bersiap menyerang para serigala itu ketika para serigala berhasil menghancurkan penghalang terakhir.
"Defends," dehamnya, membuat selubung biru menutup jalan yang dilewatu para serigala putih. Lalu menatap kepada serigala yang menggeram galak kepadanya. "sekarang, tunjukkan kemampuan kalian." ia tersenyum misterius.
Seekor serigala berjalan cepat kearahnya diikuti seekor serigala dari belakangnya. Serigala didepannya mengayunkan cakarnya, Paul menunduk dan berdeham "Davida Ente," tanpa diduga serigala didepannya menghindar cepat.
"GROAR."
Telah lupa jika ada serigala dibelakangnya. Cakar itu mengenai pakaiannya hingga robek sedikit, bahkan mengenai kulit lengannya. Darah mengucur pelan mengubah warna kemeja putihnya menjadi merah. Paul memegangi lengan kanannya, dan menatap marah kearah serigala itu.
"Davida Ente." ia berdeham cepat saat mendengar langkah kaki serigala-serigala itu. Seekor serigala meraung kesakitan, api itu membakar ekornya hingga merah menyala. Sangat cepat serigala itu mencakar wajahnya, hampir mengenai matanya.
"Groar." raungan serigala itu terdengar sangat puas.
Ia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Membuka kedua matanya perlahan dan berdeham.
"Dafuda...Ente."
Seketika daun-daun berterbangan, pepohonan bergoyang kencang, bunyi gemerisik dedaunan yang berterbangan, burung-burung yang kebetulan tinggal di sekitarnya segera berterbangan menjauh. Pusaran angin kencang berputar, menghembuskan semuanya. Pepohonan hampir tumbang dibuatnya, dedaunan yang berterbangan membuat gelombang-gelombang kehijauan di udara. Rerumputan tercabut dari akarnya dan berterbangan diudara.

KAMU SEDANG MEMBACA
7 Warrior : Darkness King
FantasyCopyright © 2014 by Fahmi1308, dilarang menjiplak, mencopy atau meniru cerita tanpa sepengetahuan Author. —————————————— Berawal dari surat yang berisi, "kalian telah terpilih menjadi kesatria di Dunia Lain," telah mengubah takdir beberapa manusia. ...