Maaf kalo part sebelumnya nyampah banget. Karena bingung mau nulis apaan. Padahal niatnya mau bikin komedi-komedi gimana gitu di chapter sebelumnya cuma gara-gara kacang. Tapi gagal.
Jika ada typo bilang ke author yah.
By the way thanks yang udah mau baca sampe sekarang, yang udah mau ngevote dan berkomentar.
Sekarang saatnya serius.
Enjoy the story guys.
***
Lelaki berjubah hitam itu berjalan, mendekati suara berisik dari arah istana. Ia menatap penasaran ke istana megah di tengan kota sebelum berjalan lagi dengan sangat perlahan. Entah kenapa tubuhnya berat sekali, membuatnya hampir goyah dan terjatuh tapi bantalan pasir segera muncul begitu saja di tanah.
Ia menatap pasir itu lekat-lekat, bingung. Kemudian meyapukan pandangannya, rerumputan tanpa dan bukan padang pasir. Bagaimana pasir itu berada disana ? Mungkin hanya kebetulan, pikirnya.
***
Rey yang pertama kali sadar, memperhatikan sekelilingnya. Ia mengernyit kesakitan ketika melihat tubuhnya ditimpa oleh tubuh besar Minor. Tangan Rey berusaha mendorong tubuh itu hingga terguling dan menimpa tubuh Paul yang tertidur dengan posisi telentang.
Ia menyapukan pandangannya, mengingat-ingat apa yang terjadi. "Astaga." Ujarnya setelah ingat kejadian sebelumnya.
Kacang-kacang sudah habis, bahkan tak ada yang berserakan. Paling tidak mereka tidak harus membersihkan ruangan ini. Rey bangkit dan membangunkan yang lain.
Sama sepertinya, yang lainnya terkejut ketika ingat kejadiannya. Begitu membangunkan yang lainnya Rey mencari pintu untuk keluar, tapi pintu yang dicarinya tidak ada. Yang terlihat hanyalah dinding putih yang menyambung tak ada celah untuk keluar.
Ia tidak mungkin menggunakan mantera untuk menghancurkan dinding. Tapi, tak ada jalan keluar. Matanya memandang Ratu Lunamore yang duduk bersandar di dinding dengan mata kosong. Segera saja ia membangunkannya, dan mata kosong itu berubah normal.
Ratu mengernyit, "jangan lakukan itu lagi." Katanya kemudian.
"Minor, singkirkan tubuhmu." Kata Paul terengah-engah. Kedua tangannya menggelitik tubuh Minor hingga Minor terbangun dengan mata melotot tajam dan terjengkang ke belakang. "Aku tak menduga akan seperti itu." Paul bangkit dan menatap yang lain.
Minor berdiri dengan mata tajam, mulutnya mencaci maki Paul. "Jangan lakukan hal itu lagi!" Suaranya menggema di ruangan.
"Aku tidak ingin makan kacang itu lagi!!" Seru Andre yang bangkit dengan nafas terengah-engah. Begitupula Jane, ia terlihat pucat mengingat ia memakan paling banyak kacang diantara mereka.
"Tubuhku terasa tidak enak." Ujar Jane yang memegangi kepalanya, ia terasa pusing. Kepalanya seperti berputar-putar, dan ketika ia ingin berdiri, ia goyah lalu terjatuh. Ia bangkit kembali lalu terjatuh lagi, mengharuskan Zia menahan tubuhnya ketika Jane berdiri.
Zia menempelkan telapan tangannya didahi Jane, "kau tidak apa-apa, tidak demam." Lalu menambahkan dengan nada kesal. "Mungkin itu efek dari kacang menyebalkan itu." Ketika mengatakannya, ia melirik kearah Paul.
Cindy berjalan menghampiri Rey dengan Jane yang sekarang berada di gendongannya, setelah merebutnya dari Zia. "Sekarang apa ?" Tanyanya bingung mengingat tak ada pintu keluar di ruangan ini.
Zia menatap Paul dengan tatapan misterius. Pikirannya masih berputar dengan perkataan Paul yang tadi. Benarkah ? Atau itu efek dari kacang biru itu ?

KAMU SEDANG MEMBACA
7 Warrior : Darkness King
FantasiCopyright © 2014 by Fahmi1308, dilarang menjiplak, mencopy atau meniru cerita tanpa sepengetahuan Author. —————————————— Berawal dari surat yang berisi, "kalian telah terpilih menjadi kesatria di Dunia Lain," telah mengubah takdir beberapa manusia. ...