Twelve

343 49 1
                                    

🐯

Aku tidak menyangka jika aku hanyalah bahan percobaan bagi Jeongguk, meskipun dari awal aku sudah bisa mengetahui ada yang dia inginkan di balik persetujuan kontrak tersebut. Sekarang, aku berada di kereta. Aku ingin cepat-cepat berada di alam mimpi dan berpikir jika semua ini hanyalah mimpi. Aku kembali terjun ke dalam lamunanku sampai aku mendengar sebuah deringan dari telepon genggamku. Aku berharap kalau itu bukanlah berasal dari Jeongguk. Aku mengintip nama dari pemanggil telepon itu, senyumanku yang hilang telah datang kembali. Aku pun menerima panggilan tersebut.

〔📞〕

"Hyung!"

"Tae!"

Kami berdua tertawa bersamaan.

"Kau menepati janjimu."

"Kapan aku akan melanggar janjiku kepadamu?"

"Ah, kau benar."

"Apakah kau lupa hari apa ini?"

Aku berpikir sesaat.

"Apa yang aku lupakan, hyung?"

"Aku sudah berada di Seoul."

Aku tersentak mendengarnya, aku terlalu memikirkan masalahku dan Jeongguk bahkan sampai melupakan hari kedatangan Bogum hyung dari luar negeri. Pantas saja, dia meneleponku siang hari tadi.

"Kau akan balik ke apartemen lamamu, kan?"

"Tentu saja. Aku kangen dengamu dan V, terutama saat melihat kalian bertengkar."

Terdengar sebuah tawa dari seberang sana. Aku teringat saat pertama kali aku dan V pindah ke Seoul, Bogum hyung menjadi tetangga kami. Kami selalu mempunyai argumen masing-masing, sehingga Bogum hyung datang ke apartemen kami untuk melerai kami berdua. Sejak saat itu, aku dan V menjadi dekat dengan Bogum hyung. Sayangnya, beberapa bulan yang lalu, Bogum hyung pindah ke sebuah apartemen yang terkenal mahal karena beberapa alasan. Lalu, aku dan V mendapatkan kabar kalau dia sudah berada di luar negeri karena pekerjaannya sebagai aktor muda.

"Ingin minum di ruanganku?"

Mungkin, karena kebiasaan dia di luar negeri membuatnya lupa bila aku masih di bawah umur untuk minum bir.

"Aku masih di bawah umur, hyung. Kau lupa?"

"Ah! Maafkan aku, Tae. Aku baru ingat kita berbeda dua tahun."

"Aku setuju jika aku hanya minum air putih atau jus."

"Aku akan menyiapkannya untukmu. Jangan lupa, ajaklah V."

"Aku ragu dia ingin bertemu denganmu, hyung."

Ingatanku mengenai V dan Bogum hyung berargumen sepintas lewat di pikiranku. Penyebab mereka berargumen adalah hal sepele, Bogum hyung mengajakku untuk pergi ke sebuah taman bermain di Seoul. Aku tidak memberitahu V mengenai itu terlebih dahulu hingga pada hari yang sudah direncanakan. Sebab itu, V melarangku pergi meskipun dia tahu aku pergi dengan Bogum hyung.

"Tidak salahnya untuk mengajaknya, bukan?"

"Aku akan mengabarimu nanti atau bahkan langsung menuju ruanganmu, hyung."

TigersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang