Bel pulang sekolah rasanya berlalu begitu cepat. Semua siswa dan siswi di sekolah itu sudah berhamburan keluar kelasnya masing-masing. Begitu juga Prilly dan sahabatnya.
"Pril, lo pulang bareng Ali?" tanya Lena.
"Iya, dia selalu nungguin gue di parkiran. Kalo gue nggak pulang bareng dia, pasti dia ke rumah gue terus diem di rumah gue sampe malem."
"Seriusan Pril? Gue mau dong sama kak Arsen kayak gituh ke gue." Aya membayangkannya sambil menangkupkan kedua tangannya.
Prilly mengerutkan keningnya, "ko jadi kak Arsen? Baja gimana?"
"Ciye pindah haluan ciye..." goda Lena.
Aya tersenyum kecil, "gue udah move on. Gue nggak mau ngemis cinta sama orang yang udah menghina gue. Liat aja, gue bakalan bales sakit hati gue. Gue bakalan buktiin kalo gue bisa dapetin yang lebih baik dari si Baja."
"Dan cowok itu kakak gue kan?" tebak Prilly.
"Tau aje sih lo. Gue nggak tau kenapa, setelah kak Arsen dengerin curhatan gue, rasanya tuh gue nyaman banget," pungkas Aya.
"Emang lo suka sama Kak Arsen?" tanya Lena heran.
Aya tersenyum, "nggak tau, tapi emang bener kok gue ngerasa nyaman sama kak Arsen apalagi setelah dia kasih wejangan-wejangan sama gue."
"Iya gue tau," sela Prilly.
"Tau darimana?" Aya menatap Prilly penuh selidik.
"Dari rumput yang bergoyang." Yang menjawab pertanyaan Aya malah Lena sedangkan Prilly terkikik.
"Rumput bisa goyang? Goyang apaan? Goyang dribble? Patah-patah? Ngebor? Ngecor? Goyang itik?"
"Hah?" Prilly dan Lena menganga mendengar kalimat Aya.
"Anjir gaje lo semut rangrang." Lena mengumpat.
"Ko gaje? Kan gue nanya."
"Lo berdua berisik ah."
"Tuh si lemot ngajak ribut. Ya udah Pril, gue balik duluan ya."
"Eehhh Len gue ikut. Gue nggak bawa mobil nih, nggak dijemput pula," pinta Aya.
Saat akan melangkah, tanpa sengaja mereka bertiga berpapasan dengan Baja yang sedang merangkul mesra Maura. Bahagia sekali mereka berdua, namun tampaknya hal itu tidak membuat Aya menjadi sedih. Gadis itu malah terlihat cuek dan tidak menatap Baja.
"Ay itu Baja," bisik Lena.
"Bodo amat!"
"Lo beneran move on?" tanya Prilly.
"Ya ampun, Pril buat apa sih gue galau sama cowok yang nggak peka. Cuma cewek bodoh yang ngelakuin itu. Lagian KAK ARSEN bilang sama gue, rugi kalo gue galau gara-gara dia. Nggak ada gunanya tau, malah buang-buang tenaga," balas Aya dan menekan kata Kak Arsen.
Sebenarnya perkataan Aya sedikit menyindir Baja. Benar saja, mata Baja melirik sekilas ke arah Aya. Tapi Aya terlihat biasa saja dan tertawa tanpa melihat ke arahnya.
"Anjirr gila coy, ini beneran Aya yang gue kenal?" tanya Lena.
"Iya dong..." jawab Aya bangga diikuti kekehan dari Prilly.
"Lo nggak tau tadi wajah si Bajaneon kayak gimana. Mukanya kayak orang bingung," tambah Lena semangat.
"Biar dia tau, kalo Aya tuh bisa move on. Iya nggak Ay?"
"Yoi Pril..."
"Ya udah, kita duluan ya Pril. See you tomorrow...yuk Ay," ajak Lena pada Aya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Milikku!
FanfictionAprillya Edeline, siswi baru di sekolah favorit di jakarta dan merupakan anak dari pemilik sekolah itu. Baru saja pertama masuk sekolah, Prilly sudah dihadapkan dengan satu kejadian yang membuatnya syok terapi... Kejadian apa itu?? Apalagi ketika di...
