#Part17

1.4K 185 13
                                        

"Kamu akan bertunangan setelah lulus SMA."

Seketika tubuhnya menegang. Apa ia tidak salah dengar dengan ucapan maminya barusan? Tidak, ia tidak mau dijodohkan seperti ini. Ia sudah mencintai Ali sepenuhnya. Hanya pada Ali-lah ia bisa membuka hatinya, dan tidak mungkin ia berpaling begitu saja.

"Mami nggak bisa seenaknya kayak gitu. Aku nggak mau. Lagian aku udah punya Ali," tolak Prilly.

"Ali? Punya apa dia? Mami tau apa yang terbaik buat kamu Pril."

"Punya cinta," celetuk Ali dengan ekspresi tenangnya.

"Cinta? Jaman sekarang itu tidak butuh hanya cinta saja Ali. Saya tidak mau anak saya menderita. Saya sudah pilihkan laki-laki yang cocok untuk anak saya dan itu bukan kamu!" tunjuk maminya pada Ali.

"Terimakasih," jawab Ali.

"Lihat saja Pril, sopan santun saja dia tidak punya. Mami ini mami kamu, tapi pacar kamu tidak ada sopan-sopannya sama mami," pungkas mami Prilly remeh.

"Lantas apa mami pikir, aku akan bahagia dengan cowok yang mami pilih? Mami salah! Aku udah bahagia disini tanpa mami dan tanpa perjodohan mami itu!"

"Jadi kamu sudah tidak menganggap mami masih ada Pril?!" tanya maminya dengan suara meninggi.

"Setelah apa yang mami lakukan sama papi dulu, aku udah anggap mami mati!"

Mata wanita paru baya itu memerah menahan amarah. Begitu pula dengan Prilly, ia masih terisak dengan mata yang sudah sembab. Kekecewaannya terhadap maminya kini ia tumpahkan.

"Durhaka kamu sama mami Pril! Lagipula kamu harusnya tau kenapa mami bisa melakukan hal itu dulu!"

"Karena mami hanya memandang materi!"

"Papi kamu terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan tidak pernah memperhatikan mami. Apa salah mami mulai nyaman dengan sahabat papi kamu yang selalu memberi perhatian pada mami?! Kamu dulu masih kecil dan tidak tau apa-apa Prilly!"

"Tentu salah mam! Harusnya mami mikir kenapa papi sibuk dengan bisnisnya. Itu karena apa? Karena  untuk memenuhi kebutuhan hidup mami yang selalu foya-foya dan selalu dipenuhi hingar bingar tanpa melihat gimana lelahnya papi cari nafkah buat kita! Apalagi selama mami masih sama papi, mami nggak pernah ngurusin aku ataupun bang Arsen. Mami sibuk sendiri, mami sibuk dengan teman-teman dan kebahagiaan mami sendiri. Tapi papi? Walaupun papi cape kerja tapi papi selalu menyempatkan waktu buat kumpul sama anak-anaknya. Tapi mami? Coba deh mami ngaca sama diri mami sendiri! Apa mami udah jadi ibu yang baik dna benar atau nggak?" Prilly semakin terisak.

"Dasar anak durhaka! Prilly, mami susah payah mengandung dan melahirkan kamu, tapi ini balasan kamu sama mami? Ingat, surga itu ada di telapak kaki ibu!" bentak maminya.

"Tapi ibu seperti apa dulu?! Cukup mam cukup!! Harusnya mami bisa intropeksi diri mami sendiri! Bukan malah membuat aku semakin membenci mami!" sentak Prilly.

Ali mulai khawatir dengan keadaan ini. Dia takut asma Prilly kambuh jika Prilly terus saja menangis dan meluapkan emosinya.

"Jadi kamu menyalahkan mami atas semua ini?"

"Maaf tante, sebaiknya tante pulang," sahut Ali.

"Kamu ngusir saya?"

Merasa dirinya diusir oleh Ali, mami Prilly semakin tersulut emosi. Viona langsung menghampiri Ali dan hendak menamparnya. Namun tangan Prilly lebih cepat dan menggenggam tangan milik maminya.

"Cukup mam! Apa mami nggak pernah sedikit aja berfikir untuk merenungi kesalahan mami? Setidaknya mami minta maaf sama papi atas kesalahan mami selama ini," imbuh Prilly dengan suara serak.

Dia Milikku!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang