Daehyun mengajak Hae Joo ke lantai atas. Mereka meninggalkan Yoorin dan Youngjae di ruang tamu atau mungkin ruang keluarga. Sementara seorang namja lain yang atas pengakuan Daehyun adiknya menghilang ke halaman belakang.
Lantai berikutnya terdapat sebuah ruangan dengan perapian dan sofa putih melingkar dihadapan perapian. Sebuah karpet berbulu diletakkan ditengah ruangan.
Disisi lain terdapat koridor kecil dan berderet dua pintu yang tertutup rapat. Hae Joo mengikuti Daehyun ke lantai berikutnya. Sebuah ornamen didinding menarik perhatiannya.
"Apakah ini toga?"
Daehyun tidak menjawabnya hanya tersenyum sebagai balasan. Topi wisuda itu disusun rapi dengan urutan warna menimbulkan gradasi yang unik kemudian dibingkai dalam sebuah figura raksasa.
Tidak ada ruangan terbuka dilantai tersebut. Hanya ada dua pintu yang saling berhadapan di dekat tangga. Daehyun kembali naik ke lantai teratas.
Hanya ada satu pintu di lantai teratas itu. Daehyun menunggu Hae Joo didepan pintu putih itu. Mata mereka saling pandang satu sama lain untuk beberapa saat. Kemudian Daehyun membuka pintu tersebut.
Hae Joo ragu untuk masuk ke ruangan itu. Daehyun masih menunggunya diambang pintu memberi isyarat agar Hae Joo masuk bersamanya.
Ruangan itu bersih dan rapi. Tidak seperti kamar anak laki-laki dalam bayangan Hae Joo. Tapi dia pun tidak yakin karena ini pertama kalinya dia masuk ke kamar seorang pria.
Masih seperti ruangan lainnya, dominasi di ruangan itu adalah putih. Sebuah tempat tidur diletakkan di tengah ruangan menghadap ke balkon. Selain itu ada sebuah grand piano disana.
"Kau bermain musik?" Hae Joo tidak percaya saat Daehyun mengangguk.
"Sayangnya tidak bisa kutunjukan itu sekarang." ujar Daehyun seraya menujuk tangannya.
"Maafkan aku."
"Tapi kau punya kesempatan lain untuk datang dan melihatku bermain."
Hae Joo tersenyum namun lekas mengalihkan perhatiannya pada deretan buku disalah satu dinding. Saat itu ponselnya berdering, Hae Joo meminta waktu untuk mengangkat telpon.
"Aku akan segera kesana," katanya menutup pembicaraan dalam telpon. "Aku harus kembali, acara kampus akan segera berakhir."
"Ah benar, aku akan meminta Zelo untuk mengantarmu."
"Tidak, itu tidak perlu. Aku akan naik taksi saja."
Daehyun tidak yakin yeoja itu akan mendapatkan taksi. "Kau yakin? Kurasa akan sulit dapat taksi disini. Kau tahu daerah sini?"
Hae Joo menghentikan langkahnya dan memikirkan pertanyaan Daehyun itu. Dia ada benarnya. Hae Joo tidak tahu daerah ini dan apakah dia bisa dapat taksi ditengah hutan seperti ini.
Memanfaatkan kebingungan Hae Joo, Daehyun segera memanggil Zelo dan memintanya mengantar Hae Joo kembali ke kampusnya.
"Maafkan aku merepotkanmu," ujarnya pada Zelo sayangnya hanya dibalas dengan senyuman. "Sampai jumpa." pamitnya pada Daehyun.
Yoorin dan Youngjae muncul dibelakang Daehyun setelah mobil Zelo pergi.
"Apa dia mengingatnya?" Youngjae bertanya atau lebih memastikan.
"Tidak," jawab Daehyun dengan ekspresi tertahan.
Hwayeon serta saudaranya yang lain berkumpul di ruang keluarga. Mendengar Hae Joo pergi dari rumah mereka segera berkumpul.
"Kau baik-baik saja, Daehyun?" Himchan terlihat cukup khawatir.
"Yah, I'm fine."
Dalam perjalanan yang memakan waktu hampir setengah jam itu hanya ada tanya jawab yang didominasi Hae Joo.
"Kau bersekolah di SMA yang sama denganku?" Zelo menjawabnya dengan anggukan. "Apa kita pernah kenal?"
Pertanyaan itu terdengar ganjil untuk Hae Joo sendiri. Dia seperti sedang menggoda adik dari temannya sendiri. "Maksudku, saat di sekolah dulu."
"Tidak" ujar Zelo singkat. Meski Hae Joo berharap ada penjelasan lainnya. Wajahnya terlihat familiar bagi Hae Joo sejak Gayeon mengenalkannya pada saudara-saudara Daehyun.
"Daehyun pindahan dari mana?"
"Kenapa kau tanyakan padaku? Kau bisa bertanya padanya."
Bingo! Tapi Hae Joo tidak bisa menanyakan itu secara langsung. Bodohnya dia juga bertanya pada saudaranya. Hae Joo menghela napas berusaha menutupi kekecewaannya.
Mereka sampai di kampus gedung utama. Hae Joo turun dari mobil sport Zelo. Sepertinya para saudara itu menyukai otomotif. Masing-masing dari mereka mengendarai mobil yang berbeda.
"Terima kasih sudah mengantarku."
"Daehyun akan mencincangku jika aku tidak menurutinya. Jadi berterima kasih saja padanya."
Hae Joo tersenyum akan gurauan mengerikan Zelo. Dia menunggu hingga Zelo pergi kemudian bergegas menuju tempat penutupan.
Daehyun melepaskan semua perban di tangan dan kepalanya. Tidak ada sedikitpun bekas luka pada tubuhnya itu. Seolah Daehyun tidak pernah terluka sama sekali.
"Kau membuatku takut saat tidak sadarkan diri di panggung itu." ujar Yoorin.
"Terlalu banyak saksi mata disana jika dia menarik Hae Joo dengan kecepatannya."
"Benar, tapi sekarang bagaimana kau akan menghadapi dia?" Rin Na menunjuk tangan dan dahi Daehyun yang mulus tanpa luka.
Daehyun menatap Hwayeon lantas tersenyum, "Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu."
Acara kampus menyita waktunya hingga hampir berganti hari. Hae Joo tiba di rumah tengah malam setelah membereskan acara penutupan.
Dia mendesah lega saat dapat menyentuh tempat tidurnya. Hal itu yang dibutuhkannya sekarang.
Peristiwa diatas panggung tadi siang membuatnya berpikir bagaimana Daehyun bisa tiba-tiba ada didekatnya. Selain itu Hae Joo terdorong hingga sudut panggung.
Semakin hal itu dipikirkan semakin ganjil kejadian tersebut. Hingga kantuk menyerangnya pikiran itu mulai memudar satu persatu.
YOU ARE READING
[Book 2] ALIVE
FanfictionAku menghabiskan semua eksistensiku untuk menunggumu. Setelah kini aku menemukanmu, aku tidak akan sanggup untuk jauh darimu. Karena sekarang kau adalah eksistensiku. Aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu lagi. "I promise to love you for...
![[Book 2] ALIVE](https://img.wattpad.com/cover/127433285-64-k618181.jpg)