Gravitasi - Walk On Memories [Part 7]

774 142 15
                                        

Originally story by beth91191 on "Seikat Chansoo"

-------------------------------------------------------------

"Kyungsooo-yaaaa! Aku sangat merindukanmuuu!"

"Suaramu sungguh bisa memecahkan telingaku, Jongdae." Cibir Kyungsoo sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Tak bisakah kau menjawab telepon dengan wajar?"

"Tapi aku benar-benar serius. Aku merindukanmu. Astaga, bagaimana bisa kau pergi begitu saja ke Paris tanpa berpamitan padaku?" Suara Jongdae terdengar kesal di ujung telepon.

"Maaf, bukan aku tak bermaksud tak sopan, hanya memang aku sedang terburu-buru." Kyungsoo menggaruk tengkuknya.

"Saking terburu-burunya sampai kau tak sempat pamit padaku? Teman macam apa kau."

"Aku teman yang tentu selalu membantumu dalam kesulitan. Dan itu tak perlu diragukan lagi."

"Harusnya aku yang berkata begitu padamu. Dan jangan pernah lupakan kalau kau pernah mendorongku saat sedang terlelap dari atas kasur karena kau bermimpi basah bersama si lelaki Park."

"Hey, haruskah kau membahas hal tak penting itu di telepon?" Seru Kyungsoo tak terima, dengan pipi yang merona merah. "Kau baru saja membuatku menyesal sudah meneleponmu, apa kau tak tahu jika aku harus menghabiskan banyak biaya hanya untuk menelepon antar benua seperti ini."

"Rasanya hal itu tak perlu dikhawatirkan. Mr Junmyeon yang akan membayar semuanya, bukan?" Tawa Jongdae terdengar melengking, membuat Kyungsoo sekali lagi harus menjauhkan telinganya.

"Yeah. Terserah kau saja." Tukas Kyungsoo mempout bibirnya.

"Dan ngomong-ngomong, kuharap ada sebuah hal penting sampai kau menelepon 'antar benua' seperti ini. Aku yakin kau bukan hanya ingin mengobrolkan sebuah omong kosong tidak penting, dimana saat ini aku tahu disana masih sore hari, sementara di Seoul hampir tengah malam." Cela Jongdae, membuat Kyungsoo terkekeh.

"Maaf, maaf, aku hampir tak ingat kalau disana sudah tengah malam." Kyungsoo kembali terkikik geli. "Yang kau katakan ada benarnya, tapi ada juga salahnya. Benarnya, memang disini masih sore hari. Salahnya, apa yang aku ingin katakan mungkin sebenarnya memang hanyalah sebuah omong kosong." Kyungsoo berjalan ke sofa empuk berwarna hijau zamrud di samping jendela kamar, lalu mendaratkan bokongnya perlahan disana. "Tapi aku butuh seseorang untuk mendengarkan ke-omong kosong-an ini, dan aku tahu kau adalah orang yang tepat."

"Sejak kapan aku menjadi orang yang tidak tepat mendengarkan sebuah omong kosong dari mulut mungilmu itu. Dan marilah kita dengarkan hal apakah yang akan kau sampaikan itu."

Kyungsoo menggigit bibirnya, sesaat tampak jelas sekali sedang berpikir. Sesuatu berkecamuk di kepalanya dan sudah cukup mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan. Tak lama kemudian, ia pun kembali berbicara.

"Jongdae, tentu kau mengenal Kyungeun dengan baik." Kata Kyungsoo ragu-ragu. "Kalian adalah teman di grup vokal saat kita masih sekolah dulu. Aku hanya ingin menanyakan apakah kalian sering, atau pernah, mengobrol suatu hal yang serius?"

"Hmm." Jongdae bergumam pelan di seberang, dan Kyungsoo yakin sahabatnya itu sedang berpikir karena mendadak terdiam selama beberapa saat, hingga Jongdae pun kembali bersuara.

"Sebelumnya aku takkan bertanya mengapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Kyungeun padaku. Asal kau tahu, kami berdua memang sama-sama berada di grup vokal saat sekolah. Hanya saja kami berdua tidak begitu dekat. Kyungeun adalah orang yang tertutup, kami hanya bertemu, mengobrol ringan, berlatih vokal bersama, setelah itu tak ada hal penting lainnya. Aku bahkan tak tahu bagaimana kehidupannya diluar sekolah. Yang aku tahu hanyalah dia orang dekat dari Chanyeol."

Chansoo LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang