Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bulir 15 : Black Horse Prince

149 23 2
                                        


Sia menghela napas sembari menggoyang-goyangkan kaki di tepi gasebo. Dia basah kuyup. Baru saja dia melakukan suatu percobaan yang sangat bodoh. Dia mencoba berjalan di atas air seperti pada kejadian yang dialaminya di sungai. Mengira dia mengalami hal yang sama dengan sebelumnya. Sayangnya dia belum beruntung. Naas dia malah langsung tercebur. Dengan keahlian berenang yang lumayan, dia langsung berenang naik. Sekarang dia menggigil kedinginan dan ponselnya menghilang entah ke mana.

Sia menghela napas lagi. Kehidupannya yang menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi penuh dengan hal-hal aneh yang membuatnya mau tak mau menerimanya. Kenapa juga dia harus menjadi reinkarnasi seseorang? Awalnya itu terdengar sangat mewah, namun kalau tiap waktu dia mengalami hal-hal aneh seperti ini, lama-lama dia tidak sanggup juga. Andai ada mesin waktu.

"Mamaaaaa!!!" teriaknya frustasi.

"Mama?" Suara seorang pria membuat Sia langsung menoleh ke belakang. Di sana tengah duduk seseorang berambut putih panjang tengah membelakanginya. Sia langsung memutar tubuhnya naik ke gasebo.

Jika memang ini seperti waktu di sungai, sudah jelas orang inilah yang bisa membuatnya keluar dari tempat entah apa ini. Pikir Sia tanpa ada rasa takut sama sekali.

"Anda siapa?" tanya Sia.

Orang itu memutar tubuhnya dan bersandar pada salah satu tiang gasebo. Sia terbelalak melihat bagaimana rupawannya makhluk di depannya ini. Berpakaian layaknya seorang bangsawan kerajaan. Wajahnya cantik meski terlihat datar tanpa ekspresi. Dan makhluk itu bersuara seorang pria yang memiliki dua warna lensa mata berbeda. Itu sangat menarik perhatian Sia. Meski dia menyadari bahwa makhluk di depannya bukanlah manusia, tapi melihat keunikan matanya tetap bisa membuatnya terpesona.

"Asion," jawabnya beberapa saat kemudian.

"Asion?" ulang Sia. "Kau siapa? Kau yang membawaku kemari? Untuk apa? Aku harus segera ke pos jaga cagar alam. Aku harus menghubungi mamaku. Tidak bisakah kalian muncul nanti saja?!"

"Kalian?"

"Tolong kembalikan aku. Kumohon!" Sia sampai bersujud di depan makhluk yang mengatakan namanya adalah Asion.

"Primosa Forsythia," gumam Asion sembari menatap ke arah Sia.

Sia mendongak mendengar nama itu lagi disebut. Dia langsung bangun dan menatap dongkol pada pria bersurai putih di hadapannya ini.

"Itu bukan aku. Namaku Celosia Leene," ujar Sia kesal. Lama-lama dia kesal juga dikenali sebagai orang lain. Apakah dia dilahirkan ke dunia ini memang hanya sebagai wadah seperti yang dikatakan Holkay? Mengingat Holkay membuat Sia cemberut. Berangan-angan apa pria itu akan menyelamatkannya lagi.

Berani sekali kau kabur!

Sia tersentak membayangkan apa yang akan dikatakan Holkay kalau sampai menemukannya. Dia pasti akan diomeli, direndahkan, dicaci maki lalu diseret kembali ke perkampungan tanpa bisa menghubungi mamanya terlebih dulu.

"Jangan kembali ke sana," ujar Asion mengalihkan pandang ke arah air yang berubah menjadi pusaran-pusaran kecil.

"Apa?" Sia menatap Asion.

"Jangan kembali ke sana," ulang Asion.

"Apa maksudnya?" batin Sia.

Tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang. Pusaran-pusaran kecil tadi menyatu menjadi pusaran besar. Sia dapat merasakan angin yang kuat itu mendorong tubuhnya. Dia berusaha berpegangan pada tiang gasebo, tapi angin bertiup sangat kuat. Dia bahkan kesulitan membuka matanya. Sementara pria dengan dua warna lensa berbeda itu tengah duduk bersandar, rambutnya berkibar-kibar, namun tetap teguh seolah dia batu yang tak sanggup diterbangkan angin. Sia memincingkan mata melihat gerakan mulut Asion yang seolah mengatakan sesuatu. Suara ribut air dan angin membuat pendengarannya tak jelas. Hanya beberapa kata yang samar-samar didengarnya sebelum tubuhnya terdorong angin dan terpental jauh ke udara.

DARKNESSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang