Selamat membaca 😁😁😁😁 happy sunny day
~shinjukyuu~
"Akhirnya kau sadar juga." Armenia kembali berkaca-kaca melihat Sia mulai membuka matanya.
Sia, gadis itu mengedip-ngedipkan matanya yang terasa lengket entah kenapa. Perlahan dia bisa melihat dengan jelas Armenia yang terlihat lega melihatnya. Dia mulai mengingat apa yang terjadi. Dia tenggelam, dia mengambang di permukaan air dan bertemu dengan wanita secantik bidadari.
"Sia, kau bisa mendengarku?" Armenia memegang lengannya sedikit erat karena tak mendengar jawaban Sia. "Sia." Suara Armenia sedikit tinggi.
"Aku mendengarmu, Aremnia," ujar Sia dengan suara parau. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Syukurlah. Kau harus minum ini dulu." Armenia membantu Sia duduk lalu meraih gelas berisi ramuan di meja kecil yang ditaruh Holkay di samping ranjang Sia. Selayaknya seorang perawat, dia memegangkan gelas itu hingga Sia benar-benar menghabiskannya tanpa sisa.
"Minuman apa ini? Manis sekali," ujar Sia sembari melap sudut bibirnya sendiri.
"Obat untuk mengembalikan stamina. Awalnya pahit, tapi aku menambahkan madu. Aku khawatir kau tidak akan mau memi numnya jika rasanya pahit."
Sia tetawa kecil. "Kau mengira aku anak-anak yang tidak bisa minum obat pahit?"
"Baiklah, maafkan aku. Nanti obatmu selanjutnya akan kubuat apa adanya saja."
"Hei, tidak begitu juga. Yang manis aja. Aku lebih suka."
Giliran Armenia yang tertawa, tapi hanya sebentar. Wajahnya kembali terlihat sendu. "Apa kau merasa sakit di dalam tubuhmu? Kau terhanyut cukup jauh. Maafkan aku tidak bisa menolongmu. Ini salahku karena sok-sokan mengajakmu ke sungai. Maaf."
Sia meraih tangan Armenia yang masih memegang gelas ramuan obatnya tadi. "Aku tidak apa-apa. Dan ini bukan salahmu. Aku sendiri yang ceroboh."
Mata Armenia berkaca-kaca. Sia memang terlihat masih sedikit pucat, namun Armenia tetap dapat melihat cahaya itu berpendar. Dia gadis yang kuat, terlepas dari statusnya sebagai reinkarnasi seseorang.
"Eh sekarang ..." Sia menoleh ke arah jendela. Di luar terlihat obor-obor yang menyala. "Sudah malam ya. Aku pasti sudah menyusahkan kalian."
"Jangan dipikirkan. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Armenia hendak bangkit, tapi Sia mencegahnya.
"Tunggu. Pao Pao tidak terlihat, apa kau tahu di mana dia? Dan juga apa kau tahu aku cincin yang kugenggam?"
"Kalau Pao Pao aku tidak tahu ke mana. Sejak kamu hanyut di sungai, dia tak terlihat. Dan soal cincin ..." Sia merogoh sakunya. "Ini."
Sia memandang takjub sebuah cincin perak berada di atas telapak tangannya. Itu adalah cincinnya yang hilang di danau Porte. Semuanya bukan mimpi. Pertemuannya dengan wanita cantik bak bidadari itu nyata. Meski Sia tidak tahu siapa dan mengapa.
Sia
"Ah?" Sia tiba-tiba menoleh. "Apa kau mendengarnya? Ada yang memanggilku."
"Siapa? Aku tidak mendengarnya."
Sia mengedarkan pandang. Semua nampak normal-normal saja. Dia melihat ke arah cincin yang masih di telapak tangannya.
Mama merindukanmu, Sia.
"Mama?" Sia mendengar suara yang jelas milik mamanya. Bagaimana bisa?
"Sia ada apa?" tanya Armenia penasaran.
"Aku mendengar suara mama dan itu terdengar lemah. Kenapa ini." Sia memegang dadanya yang terasa sesak. "Perasaanku tidak enak sekali. Aku merasa mama sedang dalam keadaan tidak baik. Aku harus mencari tahu. Armenia aku ingin menemui mamaku," ungkap Sia menggebu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARKNESS
FantasyFollow untuk baca ^^ ♡♡♡♡♡♡ Kunjungan klub biologi dari Black Campus ke ibu kota lama Estonial, Dominion, menjadi sebuah bencana bagi Celosia Leene, salah satu mahasiswi yang datang karena ajakan sahabatnya yang kebetulan salah satu anggota klub. Ta...
