Satu minggu kemudian.
Cirp. Cirp. Cirp.
Suara burung yang tengah bernanyi di atas dahan Maple terdengar merdu di telinga Sia yang tengah duduk bersantai di bawahnya. Matanya tertutup dengan posisi kepala tengadah seolah melihat ke atas. Menatap langit biru dari sela-sela daun Maple.
"Ketemu juga anak ini!"
Sia membuka matanya dan menatap Veronica yang berkacak pinggang dengan wajah cemberut. Gadis itu langsung duduk di sebelah Sia dan menghela napas.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau belum boleh ke mana-mana. Kau dalam masa pemulihan setelah operasi besar itu," omel Veronica.
Sia tersenyum kecil.
"Sia."
"Aku hanya ingin melihat langit," ujar Sia kemudian.
"Oke, sekarang kau sudah melihatnya, bukan? Kalau begitu saatnya kembali ke kamarmu." Veronica bersikeras seperti biasanya.
"Veronica, apa benar yang kau ceritakan padaku?" tanya Sia tidak mengindahkan ucapan Veronica yang mengajaknya kembali.
"Apa kau tidak percaya padaku?"
"Aku ..." Sia menoleh pada Veronica dengan ekspresi ingin menangis. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, selalu seperti itu jika dia teringat apa saja yang sudah terjadi.
Veronica memahami itu. Dia berusaha menjawab seadanya, tidak menutupi sedikitpun. Pada kenyataannya dia hanya mendengar semua cerita dari kedua orang tua Sia sendiri.
"Paman dan bibi menyusulmu ke ibu kota lama pada hari itu. Mereka bersama penjaga cagar alam mencarimu sampai ke danau itu. Kau di sana tidak sadarkan diri dengan luka yang mengenaskan. Aku tidak tahu mengenai orang-orang yang membawamu ke sana ada di mana. Menurut paman dan bibi, tidak ada orang lain di sana," ujar Veronica.
"Mereka ada di sana, Veronica. Ada Holkay yang terluka parah sepertiku, ada Armenia yang mengorbankan nyawa untukku dan ada Candles. Aku rasa dia masih hidup dan ..." Sia menggigit bibirnya menahan air mata yang hendak tumpah.
"Sia, aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Tapi mereka bukanlah orang-orang yang baik. Mereka menculikmu dan membuatmu seperti ini."
"Tidak, kau salah. Mereka orang-orang yang baik dan mereka melindungiku. Akulah ..." Sia memukul dadanya sendiri. "Akulah yang jahat. Karena aku mereka semua menjadi seperti itu. Karena aku lahir ..."
Tangis Sia akhirnya pecah. Dia sudah tidak mampu menahannya lagi. Terlalu pedih karena kehilangan mereka, terlalu menyakitkan karena dia sendiri yang dapat melihat langit.
"Sia." Veronica memeluk Sia dengan hati-hati. Sebagai sahabatnya dia ikut berduka atas apa yang terjadi dan bersyukur karena Sia masih hidup, tapi melihat bagaimana sedihnya gadis itu karena orang-orang asing membuatnya ikut bersedih.
"Veronica ... aku harus ke sana. Mereka pasti masih ada di sana." Sia tersedu-sedu dipelukan sahabatnya itu.
Veronica menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu, mencoba menenangkannya. Sia yang dikenalnya adalah gadis yang kuat dan pantang menangis, tapi melihat bagaimana gadis itu menangis sekarang, dia bisa menebak jika hal yang dialaminya melebihi batasnya. Orang-orang yang asing baginya itu adalah orang-orang yang berharga bagi Sia.
***
"Veronica," panggil Meola ketika gadis itu baru saja menutup pintu kamar Sia.
"Bibi." Veronica tersenyum.
"Maaf, kami membuatmu menjaga Sia sementara kami berdua pergi." Meola tersenyum dengan wajah lelah.
"Bibi tidak perlu sungkan. Sia sudah seperti saudaraku sendiri. Lalu bagaimana dengan perjalanan kalian? Apa urusan Paman dan Bibi sudah selesai?" tanya Veronica.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARKNESS
FantasyFollow untuk baca ^^ ♡♡♡♡♡♡ Kunjungan klub biologi dari Black Campus ke ibu kota lama Estonial, Dominion, menjadi sebuah bencana bagi Celosia Leene, salah satu mahasiswi yang datang karena ajakan sahabatnya yang kebetulan salah satu anggota klub. Ta...
