Bagian 5.1

5.4K 170 11
                                        

Alexandrio baru saja sampai di entrance perusahaannya. Sekertarisnya yang bernama Miranda Stone sudah siap di sana sebelum ia sampai.

Ia membenarkan dasinya sebentar sebelum menginjak lobby. Lalu Alexandrio berjalan dengan penuh kharisma. Miranda juga berjalan di belakangnya mengikuti setiap langkahnya.

Para pegawai yang kebetulan berada di area tersebut, berlarian membuat barisan untuk memberi salam padanya dengan membungkuk 90°. Ya, itu adalah salah satu peraturan yang dibuatnya, jika ia datang ke kantor.

"Apa saja jadwalku hari ini?" tanyanya pada Miranda.

Dengan cepat Miranda membuka sebuah buku agenda besar dan mulai membacanya.

"Pada pukul 09.00-11.30 meeting para pemegang saham, dilanjutkan pukul 13.30 pertemuan dengan salah satu pihak suppliar, pukul 17.00 pertemuan dengan orang penting dari kementri..."

Alexandrio menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap Miranda.

"Sebegitu padatnya kah jadwalku? Jika memang seperti itu, lantas untuk apa kau menjadi sekertarisku? Apa kau tidak bisa mengatur jadwalku dengan benar?" Alexandrio berbicara dengan nada santai namun terkesan bermakna membunuh. Ia memasukan salah satu tangannya kedalam saku, dan tangannya yang lain menggaruk dagunya yang sama sekali tidak gatal"

"Baik Pak, akan saya pilah yang lebih penting lagi" Miranda yang sudah tau maksud perkataan Alexandrio tidak banyak bicara.

"Baguslah kalau begitu, pertahankan kinerjamu" Alexandrio menepuk pelan pundak Miranda.

Alexandrio mengalihkan pandangannya ke kiri.

"Apa ini? Kau tak bisa membungkuk lebih layak? Perlukah aku mengajarimu?" Alexandrio berkata pada seorang wanita yang tidak membungkuk dengan benar. Ia menekan punggung wanita itu hinggan membungkuk 90°.

"Nah seperti ini jika memberi hormat. Pecat dia! Aku tak memerlukan pegawai yang tidak becus sepertinya"

Alexandrio meninggalkan lobby tanpa memikirkan perasaan pegawainya yang baru saja di pecat beberapa saat lalu karna masalah kecil.

Pegawai itu terkulai lemas di lantai lobby karna kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi.

****

Tok...tok...tok

"Masuklah..." perintah Alexandrio dari dalam ruangannya.

"Ada apa kau kemari?" sambungnya setelah Miranda memasuki ruangannya.

"Pak Raymond ingin bertemu dengan Bapak"

"Suruhlah dia masuk"

"Baik Pak"

Tak lama setelah Miranda keluar, Raymond masuk keruangan Alexandrio. Raymond memperhatikan Alexandrio yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari berkas berkas yang sedari tadi dikerjakan. Ia tidak ingin membuat konsentrasi Alexandrio hancur.

"Ah shittt..." Alexandrio membanting pena diamondnya setelah 10 menit membiarkan Raymond berdiri di depan pintu.

"Ada apa kau kesini?" tanyanya pada Raymond.

"Aku telah menemukan wanita pengganti Helen"

Seorang wanita yang berada di balik punggung Raymond akhirnya menampakan wajahnya.

"Siapa namanya?"

"Arina Alaska"

"Ok, kau bisa pergi sekarang Raymond. Tinggalkanlah ia disini"

Raymond meninggalkan Alexandrio dengan Arina diruangan itu.

"Kau akan berdiri disana saja?" tanya Alexandrio?

Secepat mungkin wanita itu mendekati meja Alexandrio dengan tersenyum kemenangan.

Ia sangat percaya diri, sehingga dia merasa Alexandrio terpana dengan keindahan serta lekuk tubuhnya.

"Berhenti disana, jangan terlalu mendekat" kata Alexandrio

Arina berhenti sesuai intruksi Alexandrio. Dia masih belum mengetahui orang macam apa yang sekarang berada di depannya.

"Lepas semua busana mu tanpa terkecuali" sambungnya.

"Ah Alexandrio, mengapa kau terlalu terburu buru. Alangkah baiknya jika kita pemanasan dulu"

Tawa Alexandrio pecah seketika mendengar perkataan Arina. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampirinya.

Awalnya Arina merasa bingung mengartikan tawaan Alexandrio, tetapi kini berbeda. Pipi wanita itu memerah saat Alexandrio tepat berada didepannya. Ia berfikir jika Alexandrio akan mengecupnya, sesegera mungkin ia mengalungkan tangannya di leher Alexandrio.

Tapi ia salah, Alexandrio hanya berbisik "kau tidak begitu menarik, dan kau hanya budak nafsu ku, perlakukan aku seperti tuanmu. Jangan pernah memanggil ku hanya dengan namaku saja. Dan satu lagi, aku tidak suka printahku dibantah. Lakukan itu jika kau ingin ku bayar mahal. Mengerti?" Alexandrio berniat meninggalkan ruangannya sebentar.

"Dan ah iya, setelah aku kembali kesini pastikan kau sudah menjalani apa yang ku suruh"

Perasaan malu, kesal dan marah menyelimuti Arina. Pasalnya secara tidak langsung perkataan lelaki  sialan itu bertujuan untuk merendahkannya.

Selang 20 menit Alexandrio kembali dengan membawa sebuah stick golf. Sedangkan Arina sudah bertelanjang tanpa busana sesuai perkataan Alexandrio, tetapi ada satu hal yang membuat Alexandrio geram. Wanita itu duduk di bangku kerjanya.

"SIAPA YANG MENYURUHMU MENDUDUKI KURSI KERJAKU?..." ucapnya dengan penuh penekanan pada setiap kata katanya karna begitu murka.

>>>

Alexandrio tempramennya tingkat dewa, tiap hari marah mulu pusing author😩

Alexandrio tempramennya tingkat dewa, tiap hari marah mulu pusing author😩

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

                      Arina Alaska

Hi...hi...
Apa kabar kalian yang masih setia membaca tulisan aku yang retceh ini😂😂😂

Mana suaranya nih?😂

Bastardo TrillionaireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang