Bagian 3.2

7.3K 282 11
                                        

"Nona jangan lakukan itu" Alice berusaha menenangkan Angeline. Sementara dua pelayan lagi terkejut melihatnya.

"Untuk apa aku hidup sekarang, jika tak ada lagi sesuatu indah yang tersisa di kehidupanku ini Alice. Hidupku sangat suram, sampai ku rasa ini titik terjenuh di duniaku" Angeline terisak mengingat berbagai kejadian yang menyayat hatinya belakangan ini.

"Kau tidak berniat untuk menjadi aktris? Aktingmu sangat patut di ancungkan jempol. Bunuh diri saja harus membuat onar Ha..ha lucu sekali" Entah sejak kapan Alexandrio berdiri disana sambil menyilangkan tangannya di dada, sementara tubuhnya bersandar di dinding . Ia menaikan salah satu alisnya dengan tenyuman miring melihat Angeline berdiri dibalkon memegang pistol yang di arahkan pada kepalanya sendiri. Menurutnya kelakuan Angeline sekarang sangatlah konyol hingga dia tertawa.

"Diam kau! Aku tak butuh omong kosongmu" Angeline masih muak melihat rupa Alexandrio.

"Kenapa kau kembali kesini lagi? Pergilah" lanjutnya

Alexandrio tidak pergi, ia malah berjalan mendekatinya, namun ia berhenti ketika Angeline mengintruksi agar dia tidak mendekat.

"Jangan mendekat! Atau aku akan menembak kepalaku sekarang juga"

"Oh baiklah, silahkan saja" kata Alexandrio tak peduli.

Saat Angeline ingin menarik pelatuknya, saat itu juga pistolnya menembakkan peluru tapi anehnya ia sama sekali tidak terluka. Dia baru menyadari jika Alexandrio sudah didepannya dengan pistol yang di tangannya diarahkan oleh tangan Alexandrio ke atas. Lalu diambilnya secara paksa dan membuangnya ke sembarang tempat.

"Kalian pergilah. Biar aku yang menanganinya" suruh Alexandrio kepada para pelayan Angeline.

Para pelayan Angeline menuruti perkataan Alexandrio.

Ketika semua pelayan sudah pergi, ia mendekat, kemudian berpegangan pada pagar balkon, sehingga posisi kedua tangannya mengurung tubuh Angeline. Kini jaraknya hanya beberapa senti saja.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Angeline cemas.

"Coba tebak aku akan melakukan apa padamu" kata Alexandrio berbisik pada telinga Angeline.

"Jangan coba coba kurang ajar kau!"

"Haha kau fikir apa yang akan ku lakukan padamu? Buang jauh jauh imajinasi kotormu! Kau ingin mati bukan? Lompatlah sekarang"

"Apakah kau sudah gila? Mengapa tadi kau menyelamatkanku?" tanya Angeline.

"Tidak, aku tak berniat menyelamatkanmu. Kau terlalu besar kepala nona. Menurutku akan lebih mengasyikan jika kau bunuh diri tanpa di perhatikan para pelayanmu. Maka sekarang lompatlah!"

"Kau..." Angeline yang begitu jengkel mendengar tutur kata Alexandrio akhirnya menendang bagian sensitifnya hingga ia melepaskan pegangannya pada pagar balkon. Setelah itu ia berlari meninggalkan kamar orang tuanya. Tetapi ia kalah cepat dari Alexandrio, ia mengunci pintu kamar itu dan menampar wajah Angeline hingga memerah.

"Berani sekali kau padaku. Aku berusaha berkata lembut tetapi ternyata kau lebih memilih kekerasan" Alexandrio sangat marah, nafasnya terdengar memburu bersiap menghabiskan Angeline. Angeline berjalan mundur hingga ia menabrak ranjang. Ia sangat takut dengan ekspresi Alexandrio yang dipenuhi aura emosi. Alexandrio mendorong tubuhnya hingga tepat terjatuh di bed. Tangannya sudah terkepal, bersiap ingin memukul wajah cantik Angeline.

Angeline menutup mata erat, badannya bergetar hebat. Alexandrio mengurungkan niatnya. Ia menatap bibir Angeline yang merah merekah seperti kelopak mawar.

Angeline heran karna bukan merasa kesakitan justru malah merasakan bibirnya yang terkatup menjadi basah.

Saat dia membuka matanya ternyata Alexandrio sedang mencium dan memainkan lidahnya pada bibir Angeline. Kedua lengannya bertumpu pada bed. Ia mengunci tubuh Angeline kembali.

Semakin lama lidahnya turun ke leher jenjang Angeline, dia mengecup hingga meninggalkan banyak bercak merah disana. Angeline tak henti hentinya memberontak sekuat tenaga, tapi apalah yang bisa dilakukan oleh seorang Angeline. Tubuh Alexandrio 2x lipat dari tubuhnya.

Alexandrio merobek dress hitam yang Angeline pakai hingga meninggalkan bra dan G-string saja.

"Kau, pria brengsek, lepaskan aku" Alexandrio tak menjawab. Lidahnya terus bermain pada setiap inchi bagian atas tubuh Angeline. Sesekali Angeline menarik rambut coklat keemasan milik Alexandrio dan mengeluarkan desahan, makian, juga tangisan.

Alexandrio membuka kemeja serta jeansnya berlanjut pada bra dan G-string Angeline yang dibukanya secara paksa. Tatto burung merpati pada punggung Alexandrio menambah kesan maskulin. Berkali kali Angeline memohon jangan dan memberontak tetapi, berkali kali juga Alexandrio menampar wajah Angeline, jika dia memberontak. Alexandrio menyetubuhinya dengan sangat kasar, tidak ada sedikit pun sisi kelembutan yang ia perlihatikan. Kemarahannya ia lampiaskan pada nafsunya.

Setelah selesai ia beranjak dari kasur, mengambil kotak rokoknya di nakas dan berlanjut memakai jeansnya.

"Kau ini berisik sekali. Memohon dilepas tetapi begitu menikmatinya. Tak ada bedanya dari wanita liar. Jika saja kau pasrah dari awal, paras cantikmu tak memar seperti itu" Alexasandrio berseringai melihat Angeline. Angeline menaikan selimut sampai kepala. Ia masih menangis sejadi jadinya. Sedangkan Alexandrio berjalan menuju balkon dan menyulut sebatang rokok. Ia menghisapnya dalam sambil menikmati pemandangan di mansion Ayers.

****

Sudah 2 hari Angeline tidak keluar kamar orang tuanya setelah kejadian di hari itu. Kamar itu berantakan seperti kapal pecah. Selama 2 hari juga Alexandrio masih tinggal disana, ia hanya keluar jika ada sesuatu yang penting dan akan kembali lagi ke mansion itu.

Pertunangannya dengan Angeline sengaja dia batalkan. Ia ingin berhubungan tanpa ikatan. Dia sangat menyukai kebebasannya sekarang dari pada sewaktu Ayers dan Rihanna hidup.

"Dia masih tidak mau makan juga?" tanya Alexandrio saat berpapasan dengan salah satu pelayan yang membawa nampan dengan makanan yang tak tersentuh sama sekali.

"Nona berkata tidak nafsu Tuan" jawab pelayan itu.

"Sini biar aku saja yang membuatnya menghabiskan makanan itu" kata Alexandrio sambil mengambil nampan dari tangan pelayan itu.

"Makanlah, kau bisa sakit" kata Alexandrio dengan penuh perhatian. Tangannya sibuk membuka selimut yang menutupi tubuh Angeline hingga kepala. Tetapi Angeline menarik lagi hingga tertutup.

"Aku sudah bilang aku tidak nafsu"

"Kau ingin kejadian kemarin terulang lagi nona?"

Check my YouTube in my bio for know more about me✨😻

Ahhh kejadian kemarin?😨😨😨
Nianals💕

Bastardo TrillionaireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang