Episode 2

1.9K 73 0
                                    

Bagaikan mendapat duren runtuh mendengar perjodohan ini. Kebanyakan orang pasti tidak mau di jodohkan dengan pria yang belum pernah di kenalnya. Tetapi beda denganku aku senang sekali karena pria yang di jodohkan denganku tampan sekaliiii. Dia juga baik dan ramah. Sebenarnya bukan cuma kali ini saja aku melihat pria tampan tapi entah mengapa aku tidak pernah bisa berhenti menatapnya.

"Oh ya, rumah kamu dimana? " tanyaku pada pebrian.

"Kamu mau main?  Boleh besok kita ketemu ibu ya. "Ucapnya ramah.

"Wah mauu..! " ucapku merengek.

"Eh maaf kebiasaan hehee. " ucapku karena melihat Pebrian yang kebingungan melihat tingkahku.

"Kamu manja ya? "

"Enggak kok. Aku cuma keseringan nonton drama jadi kebawa-bawa. " ucapku berbohong.

Aku memang tidak manja karena papah dan kakakku sangat dingin. Ingin memanjakan diri pada mamahku dia sangat sibuk mengurus rumah ini meski papah sering melarangnya karena sudah banyak pembantu di rumah ini. Aku hanya manja kepada satu orang. Kepada Leo sahabatku. Meski kita seumur tapi dia sudah seperti seorang kakak bagiku. Dia sangat memanjakanku kapanpun aku butuh.

"Loh kamu kok ngelamun? " tanya Pebrian menyadarkanku yang sibuk memikirkan Leo.

"Ah aku cuma kepikiran temanku. "

"Kenapa gak di datengin aja, mau aku antar? "

"Gak usah soalnya beda kota. Dia pindah seminggu yang lalu. "

"Oh begitu. Kamu pasti kangen ya sama dia? "

"Iya, abisnya biasanya itu kami bertemu tiap hari. "

"Memangnya pindah kemana? "

"Ke kota B. "

"Wah kota B, rumahku juga di sana. "

"Ah benarkah? Kalo begitu ayo kita kesana sekalian ketemu ibu.! " ucapku.

Akhirnya Pebrian meminta ijin pada papah untuk pergi ke kota B mengunjungi ibunya. Aku senang sekali, aku akan menjambak rambutnya Leo yang sok sibuk padaku itu.

Sesampainya di rumah Pebrian kok aku jadi deg-degan gini ya? Wajar kan ya mau ketemu calon mertua hehee.

Ternya Ibu mertuaku ramah sekali sedari tadi dia terus menggenggam tanganku erat-erat.

"Oh yah bu, Ayah mana? " tanyaku.

Entah mengapa bukan menjawab Pebrian dan Ibu malah saling melirik satu sama lain.

"Ah aku haus, aku minum yah bu. " ucapku mengalihkan pembicaraan.

"Sebetulnya Ayah Pebrian sudah meninggal seminggu yang lalu. " ucap ibu membuatku terkejut.

"Ah maaf bu, maafkan aku. "

"Gapapa kok semuanya kan takdir. " ucap ibu tersenyum haru.

"Oh ya?  Kamu mau menginap? " tanya Pebrian.

"Enggak nanti aku mau nginep di apartemen teman saja. " ucapku.

"Oh ada teman disini ya?  Baguslah jadi kalo sudah nikah kamu tidak kesepian. " ucap ibu membuatku malu.

Setelah lama mengobrol tidak terasa hari sudah mulai gelap aku meminta Pebrian mengantarku ke apartement Leo.

"Sampai sini aja, "ucapku turun dari mobil.

"Biar aku antar masuk ya? "

"Ah tidak usah gak enak sama temanku. "

"Iya sih gak enak malem-malem ke apartemen perempuan. " ucapnya padaku.

PEMUJA RAHASIA  ( TAMAT )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang