"Haloo.. Maaf mengganggumu lagi. Tapi yang tadi itu Siska yang selalu kamu puji itu kan? " ucap Cinta tiba-tiba masuk ke ruang kerja Leo.
Leo hanya mengangguk lesu sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Cewekmu itu gila apa sinting sih? Masa aku tanya baik-baik dia marah begitu?! "
"Hey, bicara apa kau? Pergi sana! " ucap Leo melotot.
"Cinta memang membuat manusia gila. " ucap Cinta sembari pergi.
*****
Berbulan-bulan aku tidak mendengar kabar Siska ataupun mencari kabar tentangnya.
Tapi apa yang terjadi? Pagi-pagi aku mendapatkan telpon dari tante Andhinie mamanya Siska. Aku terkejut mendengar berita bahwa Siska di Rawat di UGD akibat percobaan bunuh diri. Aku yang panik langsung pergi menuju rumah tempat Siska di rawat.Sesampai disana aku melihat tante Andhinie menangis di pelukan om Raka suaminya.
"Raka, aku takut Siska tidak bisa bertahan.. " ucap Tante Andhinie menangis.
"Tenanglah, anak nakalmu itu pasti selamat. " ucap suaminya menenangkan.
"Om, tante.. " ucapku menghampiri mereka.
Aku yang baru saja menghampiri mereka tiba-tiba mendapatkan satu tonjokan dari Om Raka.
"Pria brengsek, kau bilang akan menjaganya, tapi lihat dia sekarang?! " ucap Om Raka sangat marah.
"Maaf om.. " ucapku menunduk.
Aku memang pernah berjanji akan tetap berada di sampingnya. Janji yang pernah ku buat dulu bersamanya sejak kami kecil. Tapi apa yang terjadi sampai dia senekat ini dan aku tidak tau apapun. Siska sejak dulu memang pendiam. Gadis itu membuatku tersentuh sejak pertama kali aku melihatnya. Gadis polos yang hanya diam meski di ganggu dan di buli terus teman-temannya. Beda sekali dengan gadis yang akhir-akhir ini marah padaku. Dulu dia sangat manja padaku, karena hanya aku yang dia miliki untuk bersandar, untuk membagi keluh kesahnya.
Badanku lemas melihat keadaannya sekarang. Dia di tangani banyak dokter dengan banyak alat. Akupun merasa tak berhak bertanya sedikitpun apa yang telah terjadi pada kedua orangtuanya.
"Tante, om. Sebaiknya pulang dan istirahat aku akan menunggunya. " ucapku.
" kamu juga pulang saja karena sebentar lagi calon suaminya akan datang. " ucap om Raka ketus.
"Nanti sesampai Pebrian kesini saya pulang. " ucapku.
Beberapa saat setelah kedua orangtuanya pulang akhirnya Siska siuman. Dokter menyuruhku untuk menemuinya dan tetap berada di sampingnya demi keamanannya.
Siska sangat terkejut melihatku datang menghampirinya. Dia masih sangat marah sampai membuang muka seperti itu. Aku duduk di dekatnya. Dia hanya tidur terlentang dengan wajah membelakangiku.
"Siska... Maafkan aku yah, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Oh ya? Kamu tau? Apartemen berantakan sekali setelah kamu pergi. Tau kenapa? Kaena ku kira kamu akan datang dan mengomeliku. " ucapku.
Sesungguhnya aku tidak tau harus bicara dari mana setelah sekian lama tak bertemu dengannya. Dia masih saja tak melihat ke arahku.
"Oh ya, aku belajar masak loh. Kamu kan pernah bilang suka pria yang pandai memasak jadi... Maksudku jika kamu berkunjung aku akan menghidangkan banyak makanan untukmu. " ucapku lagi.
"Kamu pasti melihatku sebagai wanita yang menyedihkan bukan? " ucapnya tiba-tiba.
"Buatku kamu selalu yang terbaik. " ucapku.
"Pembohong...! " ucapnya menangis.
"Ya aku memang pembohong. Aku pria paling berengsek karena sudah membiarkanmu melewati kesulitan ini. " ucapku.
"Ku pikir dengan perginya aku dari hidupmu kamu akan bahagia, ku pikir aku juga akan lupa dan tak ikut campur lagi. Cuma karena aku merasa tidak tahu dimana letak kesalahanku, aku kalah dan menyerah. Aku... " ucapku tak kuasa meneruskan kata-kataku.
"Tidak perlu menangis. Aku yang salah, aku yang selalu bertindak semaunya padamu. " ucapnya melihat ke arahku.
"Bagaimana mungkin tuan putriku membuat kesalahan? Bagiku semuanya benar. " ucapku tersenyum.
Dia tiba-tiba memeluku, menangis di pelukanku. Pada akhirnya aku dan dia kembali lagi. Namun hanya saja aku belum bisa membuatnya bercerita tentang apa yang sudah terjadi sampai dia ingin mengakhiri hidupnya seperti ini.
Sampai Siska pulang dari rumah sakit pun aku tidak melihat tanda-tanda Pebrian datang. Aku semakin kesal saja pada pria itu. Aku mengantar Siska pulang ke rumahnya. Di perjalanan aku melihatnya murung.
"Ada apa? " tanyaku.
"Tidak. " ucapnya tersenyum.
" katakan apa yang bisa ku bantu. "
"Apa setelah ini... Ah maksudku gadis waktu itu pacarmu? "
"Yang mana? "
"Yang watu itu terakhir ku lihat denganmu. " ucapnya menunduk.
"Oh dia. Namanya Cinta, dia rekan bisnisku juga temanku saat SMP dulu. Beda kelas dengan kita jadi wajar kalau kamu tidak mengenalnya. Kenapa? "
"Dia.. Dia cantik. "
"Masih cantikan kamulah. " ucapku keceplosan tapi berhasil membuatnya tersenyum.
"Boleh aku bertanya apa yang sudah terjadi? " tanyaku namun di sambut dengan wajah kecewanya.
"Jika tidak, bolehkah aku meminta satu hal? "
"Apa? "
"Aku ingin sahabatku baik-baik saja apapun yang terjadi. " ucapku.
Dia tidak menjawab ucapanku. Dia hanya terus menatapku yang sedang menyetir.
"Leo, bagaimana menurutmu jika kita menikah?! " pertanyaannya membuatku mengerem mendadak.
" tidak, aku bercanda. " ucapnya kemudian.
"Menurutku asal kamu bahagia. " ucapku.
*****

KAMU SEDANG MEMBACA
PEMUJA RAHASIA ( TAMAT )
Storie d'amorePernahkah kalian jatuh Cinta selama 20 tahun pada orang yang sama tetapi tidak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkannya? Bagaimana perasaanmu jika orang itu ternyata di jodohkan dengan orang lain?