Episode 6

1.1K 59 0
                                    

Puluhan panggilan dari Leo yang tak berani ku angkat karena telah berjanji pada Pebrian untuk tidak lagi dekatnya membuatku sedih. Dia pasti sangat khawatir atau bahkan marah. Aku sampai tak berani membuka pesannya sekalipun. Aku tidak pernah mengabaikannya selama ini, aku yang selalu bergantung padanya membuatku tak sanggup menahan tangis. Seharian ini aku terus mengurung diriku di kamar.

"Siska sayang..! " ucap Mamah mengetuk pintu.

"Masuk mah. " ucapku.

"Sayang, ayo makan papah dan kakak sudah menunggu. "

"Iya mah. "

Hari ini kak Raditya dan istrinya sedang menginap di rumah. Seperti biasa papah selalu menyempatkan makan malam bersama jika kakak ada di sini. Mungkin karena kakak penerus perusahaan Papah.

"Kamu tumben gak keluyuran. " ucap Papah padaku.

"Paling karena si Leo gak ada. Selama ini kan si Leo itu tuh yang ngajak dia keluyuran terus. " ucap Kak Raditya.

"Siska, kamu itu udahlah gak usah deket-deket Leo lagi. Kamu kan calon istri orang. Apa kata orang nanti? Jaga dong perasaan Pebrian. " ucap Papah.

"Iya pah. " ucapku cuma bisa menunduk.

Sejak dulu papah memang tidak memperbolehkan aku dan Leo. Tapi mereka tidak tahu, jika selama ini cuma Leo yang benar-benar tulus padaku. Aku tidak pernah punya teman satupun selain dia. Orang-orang yang mendekatiku semuanya hanya memanfaatkanku karena tahu aku anak orang kaya. Padahal mereka tidak tahu jika aku di rumah tidak seperti yang mereka bayangkan. Aku bukanlah tuan Putri yang di manjakan keluarga. Papah dan kakaku dingin dan cuek. Mamah juga sibuk mengurus mereka meski tidak sedingin mereka.

"Sayang,, nurut sama Papah yah. " ucap Mamah.

"Iya mah. " ucapku masuk ke dalam kamar.

Aku sudah menjauhi Leo tetapi Pebrian masih saja cuek padaku. Dia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sampai pada suatu hari aku mendengar Pebrian berbicara pada ibunya jika dia bertemu dengan wanita aneh yang selalu mengganggunya.
Tetapi aku pura-pura tidak tahu.

"Pebrian, aku sudah mencari baju untuk pernikahan kita, jadi kapan kita mau kesana? " tanyaku padanya.

"Siska, bolehkan kalo kita undur pernikahan kita sampai aku menyelesaikan proyekku yang ini? " ucap Pebrian mengelus tanganku.

"Iya gapapa kok. " ucapku tersenyum padanya.

"Sebagai gantinya, malam ini kita dinner. " ucap Pebrian membuatku senang.

Malam ini kami makan malam bersama untuk pertama kalinya semenjak Pebrian sibuk dengan pekerjaannya. Saat keluar Restoran kami berpapasan dengan Leo. Aku terkejut melihatnya sudah ada di depanku. Aku pura-pura tidak melihatnya.

"Siska. " ucap Leo menarik tanganku.

Aku menepiskan pegangannya.

"Siska, aku cuma mau ngomong sebentar. " ucapnya.

"Aku sibuk. " ucapku melangkah menghindarinya.

"Siska.. "

"Sudahlah dia kan sudah bilang sibuk. " ucap Pebrian pada Leo.

"Sebentar saja. Aku janji setelah ini aku tidak akan mendekatinya. " ucap Leo.

"Oke 5 menit. " ucap Pebrian pergi meninggalkan kami.

"Ada apa? " tanyaku.

"Kamu tanya ada apa? Justru harusnya aku yang tanya kamu kenapa? Ada apa? " tanya Leo.

"Mulai sekarang kita bukan siapa-siapa. " ucapku memalingkan wajah.

"Tapi kenapa? Kita tidak pernah punya masalah selama ini. Princess tolong.. " ucapnya memohon.

"Berhenti memanggilku seperti itu. " ucapku meninggikan suara.

"Baiklah. " ucapnya.

Aku melihat wajahnya kecewa bahkan mungkin menahan tangisnya. Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.

"Sudah ya aku pergi. " ucapke melangkah menjauh.

"Setidaknya katakan apa salahku. " ucap Leo membuatku menangis tak bernyali meski hanya melirik ke arahnya. Aku berlari menuju parkiran dimana Pebrian sudah menungguku.

*****

Mendengar ucapan Siska yang begitu dingin padaku dan berkata jika sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, membuatku sedih. Aku sendiri tidak tahu apa yang kini telah terjadi. Aku terus menanyakan kesalahanku. Selama ini aku selalu mencoba jadi yang terbaik untuknya. Meski pada akhirnya dia meninggalkanku.

Hidupku benar-benar sepi tanpanya. Banyak teman yang menyarankan agar aku segera dapat pacar. Tetapi aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Meski selama ini dia hanya menganggapku sahabat, tetapi yang sudah kami lewati adalah hal yang paling berharga.

*****

Aku berlari menghampiri Pebrian yang sudah menungguku di parkiran. Aku menangis di pelukannya. Ini adalah kali pertama dia memeluku meski hanya saat aku menangis.

"Semuanya akan baik-baik saja. " ucapnya menepuk-nepuk punggungku.

"Dia pasti sangat membenciku, aku sahabat yang jahat. " ucapku terisak.

Sepenjang perjalanan aku masih belum bisa berhenti menangis.

"Kalo ini terlalu berat kamu bisa kok sahabatan lagi sama Leo. " ucap Pebrian.

"Tidak apa-apa. " ucapku padanya.

"Maaf ya, aku gak tau kalo akhirnya kamu akan sesesih ini. Padahal baru calon suami. " ucap Pebrian.

"Wajar saja. Aku pasti akan baik-baik saja. " ucapku mencoba tersenyum padanya.

"Tapi bener kok kamu boleh sama Leo lagi. " ucapnya.

Entahlah tapi setelah apa yang aku ucapkan tadi, mungkinkah Leo masih bisa menerimaku. Aku sudah sangat menyakitinya. Aku meninggalkannya tanpa dia melakukan kesalahan apapun padaku. Tapi mungkin Pebrian bicara seperti itu hanya karena tak tega melihatku sesedih ini.

*****

PEMUJA RAHASIA  ( TAMAT )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang