Sejak Devin datang di kehidupannya. Rasyel semakin menjauh. Sahabatnya itu seperti enggan berteman dengannya lagi. Dia berniat akan menyelasaikan masalah ini dengan Rasyel pulang sekolah nanti, agar tidak ada lagi masalah di antara mereka. Gadis itu memberanikan diri menghampiri Rasyel yang sedang berkumpul dengan Thania.
"Rasyel," sapanya lembut.
Rasyel hanya menatap sekilas dan kembali berbicara dengan gengnya Tania.
"Rasyel, aku mau ngomong," katanya menatap serius Rasyel.
Ia membalas dengan tatapan dingin. Tak seperti Rasyel yang dia kenal sebelumnya.
"Rasyel, sebentar," ucapnya lagi.
Rasyel meminta gadis itu untuk menemuinya di taman belakang sekolah. Usai pulang, gadis itu mendapati pesan dari Rasyel bahwa ia telah menunggunya sana. Zie pergi menghampiri sahabatnya di tempat yang sudah sepi itu.
"Aku minta maaf, Syel," mulai gadis itu.
"Salah aku apa? Kita sahabat kan?" tambahnya.
"Sahabat? Sahabat gak akan pernah mengambil apa yang diinginkan sahabatnya," jawab Rasyel ketus.
"Haha," tambahnya.
"Lo pikir gue serius mau sahabatan sama lo? Ya lo mikir lah!" Rasyel mendorongnya hingga terjatuh.
"Lo pikir lo keren gitu? Gak usah belagu deh lo, lo tau? Gue gak pernah anggap lo itu sahabat gue. Gue harap lo sadar itu!" pekik Rasyel dengan amarahnya.
"Lo itu cupu, culun, pendiam, penyendiri, gue benci sama lo!" tegasnya.
Zieva yang mendengar pengakuan dari sahabatnya itu terdiam dan tertunduk lesu. Satu demi satu air matanya jatuh. Dia benar-benar sedih mendengar pernyataan dari Rasyel. Sekarang, kepalanya dipenuhi dengan asumsi-asumsi buruk tentangnya.
"Lo bangga kan Devin dekat sama lo? Lo pikir lo cantik hah? Ngaca deh lo! Gak akan ada orang yang mau temenan sama lo, cih!" emosi Rasyel naik-turun.
Gadis itu hanya bisa diam membeku. Tubuhnya terasa lemah. Dia bahkan tidak bisa menjawab semua amarah Rasyel padanya. Hanya diam seribu bahasa dan tak berkutik yang mampu ia lakukan. Kata-kata Rasyel padanya seperti melumpuhkan semua rasa dalam hidupnya. Hari ini adalah hari yang membuatnya mati rasa dan begitu tidak berguna.
"Lo gak bakal bisa rebut Devin dari gue!" Kata terakhir yang dia lontarkan pada sahabatnya sebelum pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
Matahari nyaris tak terlihat. Gadis itu masih terpaku di tempat itu. Tubuhnya mulai melemah, dia tak bisa bangkit dari tempat itu. Kini, ia memikirkan keluarganya. Dengan sekuat tenaga dia menguatkan tangannya untuk mengambil ponsel di tas miliknya. Ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab yang terlihat dari layar ponsel itu. Mama, Papa, Rehan, Kedua sahabatnya, hingga Devin.
"Zie, kamu di mana nak? Kami khawatir di sini. Kamu gak kenapa-napa kan? Zie jawab papa!!" terdengar teriakan cemas dari papanya.
Mendengar suara papanya yang cemas dan kerusuhan di balik ponsel itu, dia tak kuasa menahan bendungan air mata miliknya. Gadis itu tidak bisa menahannya. Papa khawatir pada dirinya begitu juga dengan Mama dan adiknya. Kemudian terdengar suara Shena, Mecca, dan Devin yang dapat ia dengar meski samar.
"Zie di sekolah Pa, taman belakang," balasnya lemah.
Gadis itu mendengar suara ribut kemudian sambungan telepon itu putus. Saat itu dia berpikir, ucapan Rasyel salah. Keluarganya, adiknya, sahabat sejatinya masih menyayangi dirinya. Dia berusaha meyakinkan hal itu dalam hatinya. Namun tetap saja, kata-kata Rasyel tadi membuat hidupnya hancur.
Kini, gadis itu terbaring lemah di rumah sakit. Ternyata bukan cuma fisiknya, tapi psikisnya juga terganggu. Setelah kejadian kemarin, mama mendesak papanya untuk membawa gadis itu ke psikiater karena merasa sangat khawatir dengan kejadian kemarin. Zieva menatap ke arah psikiater yang sedang serius berbincang bersama keluarga dan sahabatnya.
"Ketenangan yang paling menenangkan hati adalah ketika kita bisa dengan sepenuh hati, menyayangi dan menerima diri sendiri"
"Pagi Zie," sapa Mecca dan Shena mengunjunginya di rumah sakit.
"Loh, kok ga sekolah Ca,Cen?" tanyanya pada sahabatnya.
"Kan lagi ada turnamen Zie, gak belajar," sahut Mecca tersenyum.
Sesaat kemudian, ia terdiam. Dia jadi ingat tantangan Devin waktu itu. Devin ingin gadis itu menjadi supporter-nya.
"Tenang, SMA kita gak hari ini kok, Zie. Sekarang sekolah lain yang bertanding, Zie," kata Shena membuyarkan lamunannya. Shena selalu mengerti dirinya. Zie pun tersenyum lembut pada kedua sahabatnya itu.
"Kalian masih mau berteman sama aku?" tanyanya, matanya mendadak sayu.
"Emangnya ada alasan kita ninggalin lo, Zie? Sampai kapan pun, kita bakalan jadi sahabat lo kok. Kita gak akan pernah ninggalin lo dalam keadaan apa pun, Zie! Jangan kayak gini lagi Zie, semangat!" ucap Mecca dengan suara lantang.
"Kita yang bakalan sedih jika lo terus kayak gini," sahut Shena.
"Makasih Ca, Cen, kalian emang terbaik. My support system," balasnya kemudian diikuti pelukan oleh kedua sahabatnya itu.
Tidak beberapa lama, terdengar ketukan dari luar ruangan itu.
"Masuk aja gak dikunci kok," sorak Mecca.
Ternyata yang datang adalah Rasyid dan Devin. Devin menatap gadis itu mendalam. Tatapannya begitu meneduhkan. Terlihat dari raut wajahnya, laki-laki itu sangat mencemaskan Zieva.
"Zie, jangan kayak gini lagi ya," kata-kata itu ke luar dari mulut Devin.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap laki-laki itu menatapnya.
""Yang memegang kendali atas diri kamu itu adalah kamu sendiri, Zie. Jangan biarkan pikiran buruk terus masuk ke sana," ucap Devin menunjuk ke arah bagian kepala gadis itu.
"Cukup kali ini aja aku lihat kamu terbaring lemah di rumah sakit ini," ucap Devin sekali lagi.
"Hari Kamis, SMA kita yang akan bertanding basket, kamu tetap mau kan lihat gaya mainnya Akashi imut ini?" kata Devin cengengesan.
Rasyid memukul bahu Devin.
"Sumpah lo gak jelas banget semenjak ada Zieva," balas Rasyid Memutar bola matanya.
Gadis itu menatap mereka satu per satu. Mereka baik sekali. Apa lagi kedua sahabatnya itu. Sekilas ia juga menatap Devin yang juga menjadi penyemangatnya akhir-akhir ini. Ia bersyukur dijaga oleh orang-orang baik.
Semuanya pamit kecuali Devin. Sebelum pergi, laki-laki itu berpesan.
"Zie, aku tahu kondisi ini sangat berat untukmu. Tapi aku yakin, kamu bisa melalui ini semua masalah ini dengan hebat. Aku tidak memaksamu untuk melihat pertandinganku sebagai Akashi di pertandingan itu. Tapi, kamu tetap mau ketemu Zahwa kan? Sembuh ya," ucapan terakhir Devin sekaligus ucapan penyemangat bagi gadis itu. Dia menjadi ingat wajah tulus Zahwa yang sangat manis.
"Iya Devin, aku akan sembuh demi Zahwa, Aku janji," balasnya sambil tersenyum.
"Aku balik dulu ya, hari sudah mulai gelap. Hari boleh gelap Zie. Tapi kamu harus tetap terang ya," kemudian ia beranjak dari rumah sakit itu.
"Kak, nih dari Kak Devin, katanya tadi lupa kasih ini," Rehan memberikan amplop biru padanya.
"Amplop lagi? apa isinya sama ya? Semoga cepat sembuh lagi? tapi untuk apa? Tadi kan sudah-" gadis itu meraih amplop itu dari Rehan.
Ia mengenggam amplop biru pemberian Devin. Ini kali kedua dia menerimanya dari orang yang sama. Perlahan dia membuka amplop itu. Zie terenyuh dibuatnya. Ternyata Devin memberinya dua foto di amplop biru itu. Foto pertama adalah gambar Akashi. Gadis itu melihat gambarnya terus menerus, dan lucunya, dia tertawa sendiri. Ternyata di belakang foto itu juga ada tulisan bertuliskan Akashinya Zieva Ranaya.
Foto kedua begitu mengejutkan dan mengobati rindu. Dia mendapati sebuah foto anak kecil manis dengan rambut ikalnya. Anak itu adalah Zahwa dengan rambut ikal dan boneka beruang miliknya. Di belakang foto itu juga ada tulisan. "Kakak cantik cepat sembuh ya". Zieva bahagia sekali membacanya.
"Zahwa, tunggu kakak ya," ucapnya spontan.
Zie bercerita kepada mamanya tentang Zahwa. Ia pun meminta cepat pulang dari rumah sakit itu pada dokter Nadira.
"Tunggu sehari lagi ya Zie, jika memang sudah membaik, bisa langsung pulang kok, tetap semangat sayang," ucap psikiater itu mengelus kepalanya.
Dari kejauhan, Mama dan dokter Nadira berbicara berdua tentang keadaanku. Ia lihat setelah berbincang dengan dokter Nadira, Mama mengeluarkan ponselnya.
"Nak Devin?" panggil Vaditha pada Devin.
"Iya, ada apa Ma? Apa Zieva-?" tanya Devin cemas.
"Tidak nak, Zieva semakin membaik. Mama berterima kasih, ini semua karena foto Zahwa yang kamu berikan pada Zie," balas Vaditha.
"Syukurlah, lalu bagaimana Ma?" tanya Devin kembali.
"Mama berharap sekali kamu bisa bantu Zieva ketemu Zahwa," ucap Vaditha yang ikut-ikutan memanggil dirinya Ma.
"Tentu Ma, apapun akan aku lakukan demi Zieva," balas Devin.
Gadis itu melihat mamanya tersenyum dari kejauhan seperti anak remaja yang mendapat gombalan dari pujaan hati.
"Oh baik, terima kasih nak Devin," ucap Vaditha.
"Sampaikan salamku pada Zieva, Ma," balas Devin kemudian menutup teleponnya.
Mama mengahampirinya. Mama tersenyum pada anak perempuannya. Ia menatap mama yang seperti ingin menyampaikan sesuatu pada dirinya. Tapi sebelum itu, gadis itu sudah duluan bertanya.
"Siapa Ma? Kok senyum-senyum gitu sih Ma?" tanyanya penasaran.
"Mama kayak anak remaja yang di kasih gombalan maut aja," tambahnya.
"Devin Nak," balas Mama sambil tersenyum.
"Devin?" tanyanya tak percaya.
"Iya, katanya sampaikan salamku pada Zieva ya Ma, gituu," kata mama meledeknya.
"Kak Devin panggil mama, Ma?" tanya Rehan melirik kakaknya.
"Iya, Devin itu baik banget," kata Mama memuji-muji Devin.
***
Akhirnya Zie dibolehkan pulang. Mereka sampai di rumah. Aroma rumah tercium dari teras rumah, dia sungguh rindu. Sudah beberapa hari gadis itu meninggalkan rumah dan juga kamarnya yang berisikan novel kesayangan yang sudah lama tidak dibaca. Dia pun membuka pintu.
"Selamat datang Zieva kesayangan nenek," sapa neneknya saat membuka pintu.
"Neneeek," soraknya sambil memeluk nenek. Dia terkejut nenek ada di situ. Pasti Papa yang merencanakan ini. Dia sungguh bahagia.
"Ini untuk Zieva," nenek memberikan sebuah kotak besar padanya.
Zie membukanya. Ternyata isinya boneka. Boneka beruang kesukaannya. Lebih besar dari yang biasa nenek belikan untuknya. Setiap nenek ke Jakarta, nenek selalu memberi hadiah itu padanya.
"Terima kasih, Nek," balasnya tersenyum.
"Ah nenek curang, masa Kak Zieva aja yang di kasih hadiah, untuk Rehan mana?" tanya Rehan meminta pada Nenek.
"Ini, untuk Rehan cucukuuuu," sahut nenek memberikan es krim sambil mencubit pipinya Rehan.
"Yah cuma es krim," balas Rehan.
"Rehaaan," sorak Zie memarahinya karena tidak menghargai pemberian dari nenek.
"Iya, iya, uhh. Makasih ya Nek, Rehan sayang nenek," ucap Rehan sambil mencium pipi nenek.
"Ayo masuk, nenek sudah lama menunggu Zie pulang," ajak nenek.
Jadi selama di rumah sakit, nenek yang menjaga rumah bersama bibi. Siang tadi, bibi sudah pulang duluan, jadi hanya ada nenek saat itu di rumah.
Hari itu, Zie lebih banyak tertawa. Semenjak mengenal Devin, hidupnya terasa berubah. Dia jarang murung, bicaranya juga sudah mulai panjang, tawanya seakan lepas tak ditahan. Devin membawa hal baru dalam hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Hari Bahagia [SUDAH TERBIT]
Teen FictionZieva Ranaya, gadis manis yang selalu berpikir kehidupan SMA menyebalkan. Masa SMA gadis itu hanya ditemani oleh ketiga sahabat yang ia punya. Tak ada hari-hari spesial dalam hidupnya sebelum ia mengenal sosok laki-laki yang mampu mengubah dirinya. ...
![Satu Hari Bahagia [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/144936968-64-k236352.jpg)