Pagi ini, Zie sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi sekolah. Gadis itu berangkat bersama papanya. Hari-hari dilalui seperti biasa. Satu hal yang berbeda darinya adalah akhir-akhir ini gadis itu mudah senyum pada hal-hal kecil.
Zie terheran melihat keadaan kelas tidak seperti biasanya. Sebelumnya di waktu yang bersamaan, masih sedikit siswa yang berdatangan. Namun hari ini, Juno, Tryan, dan anak laki-laki di kelas itu datang lebih awal. Di depan sana, ia melihat Shena terlihat santai, begitu juga Thania yang berada di ujung kelas.
"Cen, kenapa nih ribut-ribut? Si Juno, Tryan datangnya cepat ya sekarang,"ucap Zieva.
"Itu mah karena ada alasannya," sahut Shena sambil melirik ke arah belakang kemudiaan diikuti oleh gadis itu.
"Banyak yang lupa sekarang ada tugas fisika," ucap Shena tersenyum tipis.
"Lihat tuh si Mecca," ucap Shena melirik ke arah sahabatnya yang sedang sibuk menyalin tugas milik Shena dengan semangat. Menulis pun ia lebih cepat dari biasanya. Mecca kemudiaan melirik kedua sahabatnya dan memberikan senyuman yang tak seperti biasa padanya.
"Kalau tahu gini mah mending lo kirim aja jawabannya Cen. Gue sih yang sok-sokan mau nyari isi," sahutnya cengengesan.
Semuanya kembali seperti semula saat mereka tahu guru matematika datang. Guru matematika dengan perawakan cukup tinggi, berbadan sedikit gemuk, dan dilengkapi kumis serta rambut gundul di bagian depan, mirip seperti profesor. Guru matematika di kelas itu juga terbilang killer di mata semua murid kelas XII.
Setelah membaca doa sebelum belajar dan mengaji. Guru matematika yang bernama bapak Aldi Mahendra itu langsung mengabsen seluruh murid di kelas. Mereka maju satu per satu. Nantinya ia akan menanyakan dan memberi tanda tangan bagi murid yang membuat pekerjaan rumah. Zie yang memiliki awalan nama huruf Z, membuatnya menjadi urutan absen terakhir dan menunggu absen itu lama.
Semuanya berjalan lancar sebelum nama Tryan disebut. Setelah itu, bapak Aldi mengeluarkan tatapan seramnya karena Tryan masih belum siap mengerjakan tugasnya. Tinggal satu halaman lagi yang belum ia buat.
"Kamu ini ya, sudah berapa kali tugas yang saya suruh tidak kamu kerjakan?" tanya bapak Aldi pada Tryan. Kini tatapannya sangat menakutkan.
"Cuma tinggal satu halaman kok Pak," jawabnya.
"Lihat teman-teman kamu. Mengapa mereka semua bisa sementara kamu tidak? Tryan, kamu ini harus bisa belajar meniru yang baik. Juno teman sebangku kamu saja, bisa. Seharusnya kamu itu,"
Ucapan bapak itu terhenti ketika mendengar suara samar-samar dari Tryan. Bapak Aldi jika sudah marah, tidak akan pernah berhenti mengoceh. Hingga semua murid di kelas mau tak mau harus mendengar ceramah panjang dari pak Aldi.
"Si Juno kan nulisnya kenceng," lirih Tryan sambil menunduk ke bawah.
"Apa kamu bilang tadi?" pak Aldi menatap Tryan lekat-lekat.
"Gak kok Pak. Ucapan bapak memotivasi Saya agar lebih giat belajar," ujarnya memberikan senyuman badai untuk menarik perhatian.
"Nah apa saya bilang. Saya itu bukan apa-apa kalau marah-marah sama kalian. Itu untuk kebaikan kalian sendiri. Jangan menyesal nantinya. Paham Yan?" tanya bapak itu dengan suara yang ditekankan.
"Iya Pak, Paham," ucapnya memberikan senyuman manis.
"Kali ini, eh bukan kali ini. Untuk terakhir kali ini saja kamu saya maaf kan, ya! Jangan ulangi lagi. Ingat terus kata-kata saya. Tapi ingat, tugas ini tidak saya beri paraf sebelum halaman yang belum siap kamu selesaikan dulu. Oh iya. Tambah satu halaman lagi ya," ucap bapak Aldi.
"Tapi pak-"
"Kamu mau saya tambah hukuman atau-"
"Iya deh iya Pak," Tryan memotong ucapan bapak itu sebelum ceramah panjang ciri khasnya keluar.
"Duduk," ucap bapak Aldi.
"Zieva Ranaya," panggil bapak Aldi pada gadis itu.
Sontak Ia terkejut. Ia berpikir apakah ia ada salah sampai bapak itu memanggil namanya. Kemudian bapak itu bersuara lagi.
"Zievaa," sorak bapak itu padanya.
Kini, semua mata melirik ke arahnya.
"Zie ayo maju. Giliran kamu itu," ucap Shena.
Gadis itu sampai lupa absennya setelah nama Tryan karena ia terlalu serius mendengarkan ceramah bapak Aldi yang memotivasi tadi.
"Kamu juga gak buat tugas?" tanya Pak Aldi pada gadis itu dengan nada yang mampu membuatnya tak mampu menatap guru fisika itu.
"A-ada kok Pak," jawabnya gemetaran.
Gadis itu menyerahkan pekerjaan rumahnya pada guru matematikanya.
"Bagus. Ini baru namanya anak sekolahan. Gak kayak Tryan. Jangan tiru dia ya," Bapak itu memberikan senyuman khasnya pada gadis itu kemudian dibalas anggukan pelan dari Zieva pada guru itu.
Usai lelah belajar matematika dengan bapak Aldi, suara yang dinanti-nantikan pun muncul. Bel istirahat dari luar terdengar dengan merdunya di telinga para siswa yang merindukan kebebasan.
"Eh, Aku duluan ya," ucap Zie bergegas keluar kelas.
"Kemana? Ajak-ajak kek, " sahut Mecca.
"Perpus," sahutnya lagi.
"Gak jadi deh. Gue mau ke kantin," balas Mecca.
"Ya udah, Aku pergi dulu ya," sahutnya kemudian berlari menuju perpustakaan yang agak jauh dari kelasnya.
Gadis itu menyusuri ruang perpustakaan demi mencari buku biologi dan soal-soal tahun lalu serta satu buku cerita sebagai bonusnya. Buku cerita sudah dahulu ia dapatkan. Namun buku biologi yang menjadi fokus utamanya belum juga bertemu. Ia bahkan tak tahu di mana letaknya. Ia terbilang jarang meminjam buku biologi di perpustakaan. Gadis itu pun memutuskan untuk bertanya pada ibu perpustakaan di sekolahnya.
"Permisi, Bu. Buku pelajaran biologi kelas dua belas dan soal-soalnya letaknya di mana ya, Bu?" tanya gadis itu tersenyum ramah pada ibu itu.
"Oh itu di sana," tunjuk ibu itu.
Ia mengikuti arah tunjuk ibu paruh baya itu. Ia menyipitkan mata karena rak pada buku yang dicarinya terlalu tinggi untuk dirinya.
"Oh terima kasih, Bu," sahutnya.
Zie bergegas berjalan ke arah rak biologi perpustakaan itu. Ia mencoba melompat agar mencapai tempat tinggi dihadapannya. Dia terus melompat agar mendapatkan buku itu. Hingga akhirnya, buku itu dapat ia raih, namun buku lainnya tidak sengaja terdorong ke depan olehnya karena tidak dapat menjaga keseimbagan saat mengambil buku tadi.
"Aduh," suara seseorang dibalik rak itu terdengar jelas meringis kesakitan.
Spontan gadis itu bersorak dari arah tempatnya.
"Maaf-maaf," ucapnya cepat.
Gadis itu langsung pergi ke tempat buku-buku berjatuhan dan sumber suara tadi.
Namun tatapannya melihat ke arah buku berserakan itu terlebih dulu karena takut dimarahi ibu penjaga perpustakaan tersebut. Ternyata cukup banyak buku yang tidak sengaja ia jatuhkan demi buku biologi yang dicarinya itu.
Gadis itu membereskan satu per satu buku-buku itu tanpa melihat orang yang meng-aduh kesakitan karena perbuatan cerobohnya tadi.
"Ehem," sumber suara tadi kembali terdengar di arah berhadapan.
"Ngapain di sini? Gak ke kantin?" ucap suara itu membuat tangan gadis itu terhenti meletakkan buku berserakan itu diraknya.
Ia hafal suara familiar yang meneduhkan telinganya itu. Gadis itu langsung menoleh ke arah sumber suara, dan benar saja. Sumber suara itu adalah Devin. Laki-laki itu duduk di depannya sedari tadi tanpa ia sadar, dia juga yang meringis kesakitan tertimpa buku tadi.
"Devin," ucap gadis itu.
"Sakit nih," sahutnya mengelus rambut tebal miliknya.
Gadis itu menatapnya sekilas kemudian kembali menyusun buku-buku yang berjatuhan tadi.
"Ngapain kamu ke sini? Tumben," ucap Zie.
"Aku ikutin kamu," balasnya singkat.
Gadis itu menoleh ka arahnya. Menatap bola mata hitam milik laki-laki itu.
"Jadi dari tadi kamu ikutin Aku? Kenapa gak ada inisiatif bantuin aku?" tanya Zie spontan.
"Inisiatif sih ada tapi kalau aku bantuin ya jadi ketahuan dong. Lagi pula aku kenal kamu. Bukan orang yang menyerah begitu aja saat apa yang kamu ingin tidak tercapai kan?" balasnya terkekeh.
"Sekarang juga udah ketahuan," ucap gadis itu kemudian menyerahkan buku-buku yang telah ia susun rapi kepada Devin.
"Tolong dong," ucapnya.
"Apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Bantuin susun bukunya di atas itu, Devin," sahutnya lagi.
"Ada syaratnya," balasnya.
Gadi itu menarik napas dalam dan bertanya pada laki-laki di hadapannya itu.
"Syarat apa?" tanyanya.
"Ke kantin bareng," ajaknya tersenyum tipis.
Zie berpikir sejenak kemudian mengangguk. Devin segera meletakkan buku yang telah gadis itu susun pada rak paling atas.
Gadis itu berjalan menuju kantin bersama Devin. Banyak sekali pasang mata yang menatap ke arahnya. Bukan, maksudnya ke arah Devin. Ingatan gadis itu kembali mengingat masa itu. Masa di mana ia enggan dengan keramaian. Sekarang, rasanya masa itu kembali. Di sepanjang jalan, semua orang menatapnya aneh seperti dulu. Ia yang berjalan di samping Devin rasanya ingin berlarian ke arah kelas. Namun, Devin yang merasakan ketakutan itu, meraih tangannya cepat. Tangan hangatnya mengenggam tangan gadis itu dan itu membuat pasang mata yang menatap ke arahnya semakin tercengang.
"Ayo Zie," ucapnya lembut kemudian tersenyum pada Zie.
"Apa mata Gue gak salah lihat? Devin senyum ke cewek wah!" suara itu dapat mereka dengar.
"Itu si Zieva anak XII MIPA 2 bukan sih?"
"Eh kakak itu kapten tim basket SMA kita kan ya?
Devin yang ikut mendengar ucapan itu menoleh ke arahnya. Ia memberi tatapan dingin pada siswi-siswi tsrsebut dan memperat genggaman tangannya pada Zieva yang berada di sebelahnya.
Gadis itu merasakan jantungnya seakan maraton.
"Duh, rasanya pengen kabur dari sini," lirihnya.
Devin menoleh ke gadis itu dan kembali tersenyum. Seperti biasa, ia hanya bisa tertunduk malu karena senyuman Devin. Devin membuat pipinya menghangat. Rasanya, jalan menuju kantin jauh sekali. Dari kejauhan ia melihat Mecca, Shena, dan Rasyid makan di kantin. Ia berjalan cepat dengan tangan yang masih digenggam oleh Devin.
"Sa ae lu Vin," Rasyid terkekeh.
"Gila, di sini banyak haters berkedok fans ya," sahut Mecca.
"Sebentar lagi kalian berdua pasti jadi trending topic di sekolah ini," ucap Rasyid yang membuat gadis itu takut.
"Hahaha," sahut Devin. Ia malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya.
"Jangan cemas gitu dong, di bawa santai aja," ucap Devin melirik ke arah gadis yang tampak terdiam ketakutan.
“Santai gimana? Mana bisa lah,” sahutnya pada Devin.
"Ya udah, nanti Aku antar pulang sampai pulang," balasnya.
"Devin sekalinya jatuh cinta ternyata lebih parah dari gue," ucap Rasyid menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku mau fokus sekolah dulu tahu," sahut Zie.
"Dih, sifat kalian sama. Jangan-jangan emang beneran jodoh itu," ucap Rasyid.
Devin hanya tertawa sesekali lalu merampas siomay milik Rasyid.
Lalu, guru kimia yang lewat di kantin berhenti di meja kami makan.
"Devin," panggil ibu Airin.
"Iya Bu. Ada apa ya, Bu?" tanya Devin.
"Kamu ikut olimpiade kimia ya," ajak ibu Airin.
Devin yang sedang mengunyah siomay terdiam karena ajakkan bu Airin. Begitu juga dengan gadis yang berada di sampingnya. Jarang sekali bu Airin yang langsung meminta muridnya untuk lomba.
"Olimpiade kimia? Kapan ya Bu?" tanya Devin.
"Iya, minggu depan. SMA kita diundang. Ada olimpiade kimia, biologi, fisika, ekonomi, geografi. Jadi karena kamu pernah ikut lomba kimia, jadi kamu aja ya," jawab ibu Airin panjang lebar.
"Oo gitu ya Bu. Ya udah deh Bu," sahut Devin mengangguk-angguk.
"Salut parah saya sama sahabat saya ini Bu," Rasyid ikut-ikutan.
"Makanya belajar sama Devin," Ibu Airin membalas Rasyid.
"Nanti pulang sekolah ada pelatihan ya Dev. Jangan pulang dulu," ucap Bu Airin.
"Oh iya Zieva," kini bu Airin menatapnya.
"Kamu juga ikut olimpiade biologi kan? Nanti pulang sekolah ada pelatihan juga sama Bu Allysa ya,” ucap ibu itu tersenyum padanya dan Devin.
Semuanya sahabatnya tercengang. Mereka semua tidak ada yang tahu jika Zie juga ikut olimpiade itu. Dia juga terkejut mendengar ajakkan bu Airin pada Devin tadi. Ternyata Devin jago kimia. Gadis itu baru tahu sekarang. Sudah dikenal ramah, sayang anak-anak, jago basket, populer, jago kimia pula. Tentu saja Devin memiliki fans yang bejibun.
"Kalian cocok pakai bingits," ucap Rasyid memecahkan keheningan.
"Yang satu jago kimia, yang satu lagi jago biologi, duhh jodoh emang gak ke tukar ya," tambah Rasyid.
"Apaan si lu," sahut Devin.
"Kok gak kasih tahu sih Zie, kamu ikutan olimpiade biologi," tanya Shena pada sahabatnya.
"Bu Allysa baru ngasih tahu Shen," jawab Zie pada Shena
"Salut gue sama kalian berdua," ucap Mecca.
"Semangat ya Zie, Dev, pelatihannya, good luck!" ucap Mecca lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Hari Bahagia [SUDAH TERBIT]
Teen FictionZieva Ranaya, gadis manis yang selalu berpikir kehidupan SMA menyebalkan. Masa SMA gadis itu hanya ditemani oleh ketiga sahabat yang ia punya. Tak ada hari-hari spesial dalam hidupnya sebelum ia mengenal sosok laki-laki yang mampu mengubah dirinya. ...
![Satu Hari Bahagia [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/144936968-64-k236352.jpg)