13

2.1K 146 5
                                        

Tentang Devin.

Laki-laki itu kembali setelah membeli dua es krim di seberang taman. Ia melihat peri kecilnya bermain dengan perempuan yang seumuran dengannya.
 
"Eh itu siapa yang main sama Zahwa ya?" tanya laki-laki yang sedang membeli es krim di seberang jalan taman itu.
 
Ia segera bergegas pergi dari tempat es krim dan langsung menghampiri peri kecilnya. Laki-laki tinggi itu tampak sedikit terkejut melihat perempuan yang bersama Zahwa. Dalam pikirannya, wajah gadis itu sangat familiar di matanya. Ia seperti sudah pernah melihat gadis yang berambut lumayan panjang itu sebelumnya.
 
"Sepertinya ini cewek satu sekolahan deh sama Gue," gumamnya.
 
Ia tampak acuh melihat Zahwa dan gadis itu bermain. Ia membiarkannya bermain dengan perinya. Gadis itu juga tak menghiraukan keberadaannya. Ia malah asik dengan Zahwa. Gadis itu bahkan tidak mengenali dirinya.
 
"Tapi, kalau satu sekolah, Mengapa dia gak kenal ya?"
 
"Senyumnya tulus, mirip dengan Zahwa, perempuan yang manis," ucap laki-laki itu membatin.
 
"Apa ini cewek yang pernah dibilang si kepang dua itu?"
 
"Dia baik ya,"
 
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala pelan. Tanpa sengaja ia membuat senyuman tipis di bibirnya.
 
"Apa Gue tanya aja ya namanya?" Ia masih saja berbicara dengan hatinya.
 
"Gak usah dulu deh, takut dia risih," ia terus saja memandang gadis itu dan Zahwa yang sedang asik bermain.
 
" Cuek banget sih,"
 
"Zahwa kelihatan akrab sama perempuan itu, jarang sekali peri kecilku ini berperilaku seperti ini,"
 
Tiba-tiba seseorang menghampiri gadis itu
 
"Oh udah punya pacar ya," guman Devin.
 
"Ayo kak pulang," kata laki-laki yang menghampiri cewek itu.
 
"Lah adiknya ya," gumamnya lagi.
 
"Zahwa, kakak pulang dulu ya," kata gadis yang tengah asik bermain dengan Zahwa.
 
Peri kecilnya Devin tampak sedih dengan mata berkaca-kaca. Laki-laki itu mendengar sedikit perbincangan antara gadis itu dengan adiknya.
 
"Nih," tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutnya.
 
Ia memberikan es krim pada gadis itu.
 
"Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah menjaga Zahwa tadi," ucapnya.
 
Gadis itu menerima pemberian Devin. Ia memberikan senyuman manisnya pada laki-laki itu. Saat itulah, pada hatinya merasakan getaran aneh saat diberi senyuman tipis oleh gadis itu.
 
Beberapa hari setelah itu, takdir mempertemukannya kembali pada gadis itu. Bukan lagi di taman, namun di sekolahnya. Mereka dipertemukan karena alasan yang tidak baik. Devin tidak sengaja mengenai bola basket di kepala gadis itu dan membuat gadis itu jatuh pingsan.
 
Devin merasa tidak enak hati sampai-sampai ia meminta Rasyid menemaninya ke kelas pacarnya sahabatnya itu. Ia diam-diam berjalan ke arah denah hingga ia melihat foto imut teman-teman sekelas gadis itu, dan gadis itu sendiri. Sejak saat itu, ia tahu bahwa gadis yang bermain dengan Zahwa itu bernama Zieva Ranaya.
 
Entah mengapa, Devin merasa sangat bersalah karena telah membuat gadis itu pingsan. Biasanya, ia tak pernah merasa bersalah saat membuat siswi-siswi satu sekolah merasa dicuekkan. Devin memutuskan untuk memberi surat minta maaf pada gadis itu. Diam-diam dia mengambil lagi surat permintaan maaf pada bundanya sebagai contoh. Karena sebelumnya, ia memang tidak pernah mengirim surat kecuali pada bundanya. Itu pun, surat minta maaf karena bundanya marah jendela kamarnya pecah akibat bola basket miliknya.
 
Rasyid, sahabatnya Devin merasakan ada yang berbeda pada diri Devin saat ia bertemu dengan gadis itu. Ia tidak menjadi sosok dingin, tidak seperti perlakuannya ke siswi-siswi lain yang ingin mendekatinya. Dulu, gadis-gadislah yang mengejarnya, namun sekarang, ia yang mengejar gadis itu, kata Rasyid. Sepertinya Zieva ini first girl nya Devin.
 
Semakin hari, ia merasa semakin dekat saja dengan gadis itu. Hingga suatu waktu gadis itu mendapat perlakuan buruk dari salah satu teman sekelasnya yang ia anggap sahabat.
 
Saat itu Zieva belum juga pulang. Dua sahabatnya juga telah berada di sana. Begitu paniknya Devin saat kabar itu masuk ke telinganya. Ia menelepon tidak dijawab, sms pun tidak dibalas. Hingga akhirnya, gadis itu memberi kabar bahwa dirinya di koridor sekolah. Ia sampai saat hari sudah gelap, Zieva sudah tidak sadarkan diri. Saat di rumah sakit, psikiater gadis itu datang. Dari situlah Devin bertekad untuk terus menjaga Zieva.
 
"Zie, kamu perempuan baik. Aku gak mau lihat wajah murung itu menghiasi wajahmu. Wajah sendu, penuh ketakutan, rasanya Aku gak sanggup lihat kamu begini. Sejak di rumah sakit, Aku jarang lihat kamu tersenyum tulus seperti saat main bersama Zahwa. Zie, Aku janji akan jagain kamu. Aku janji akan mengubah sifat burukmu itu, Aku gak akan biarkan wajah ketakutan itu selalu menghantuimu. Aku akan buat hidupmu berwarna. Entah sampai kapan waktunya, Aku akan berusaha,"
 
Hari-hari rasanya berlangsung panjang di kehidupan laki-laki itu semenjak ada gadis itu di sampingnya. Sekarang pun, gadis itu sudah mulai mengubah dirinya. Panggilannya tak lagi si kepang dua, atau si cupu lagi.
 
Setelah selesai ujian, laki-laki itu pergi ke rumah sakit karena peri kecilnya ingin naik bianglala. Di mata Devin, ia tak pernah melihat gadis itu dan Zahwa sebahagia itu. Ia sangat senang di pasar malam. Di perjalanan, mereka mengetahui suhu badan Zahwa dingin. Zieva dan Devin membawanya ke rumah sakit. Zahwa dinyatakan kritis oleh Dokter. Dan saat itulah, Devin merasakan terpuruk sedalam-dalamnya. Ia takut kehilangan adik kecil yang ia anggap sebagai bintangnya.
 
Sampai rumah pun, ia tak mau makan. Pikirannya hanya tertuju pada mendiang anak manis itu. Hari-hari setelah kepergian Zahwa adalah hari duka baginya.
 
Hingga hari itu tiba, ia merasa bahagia. Gadis itu menjenguknya. Meski tak bisa sebercanda dulu dengan gadis itu, ia tetap saja. Mengagumi dia, si pemilik senyum tulus itu.

Satu Hari Bahagia [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang