3

4.6K 848 130
                                        

Mulut Yukhei menganga lebar saat memasuki apartemen si bocah merah ini.

Saat tadi haechan bilang apartemennya kebanjiran tentu Yukhei tidak percaya. Mana mungkinkan kamar apartemen mereka yang berada dilantai 4 bisa kebanjiran.

Tapi kini otaknya blank melihat kedalam kamar apartemen Haechan yang... Wooww??!! Serius!

Air mengenang diseluruh ruangan dengan tinggi mencapai mata kaki, kertas, dan bekas bungkus cemilan juga sandal dalam ruangan terapung dengan indahnya diruang tamu juga kasur yang terendam air dipojok ruangan. Satu kata KACAU!!

Kaki panjangnya dia langkahkan semakin masuk dan menuju kamar mandi saat telinganya mendengar suara air yang cukup deras.

Dan sekali lagi otak Yukhei blank melihat air yang keluar dengan deras dari keran air yang copot. Menghela nafas dan memungut patahan keran air dibawah kakinya. Lalu menoleh menatap jengah Haechan yang hanya melihatnya polos disamping.

"Om, sekarang bagaimana?"

"Bagaimana apanya? Otakmu itu yang bagaimana?!"

Kesal Yukhei sambil memukul pelan kepala merah Haechan dengan keran ditanganya. Gemes Yukhei tuh gemes sama bocah ini.

"Aduh, otakku baik-baik saja"

Rengut Haechan dengan mengelus-elus kepala yang terkena pukulan gemas Yukhei.

"Aku tadi hanya mau mandi Om, tapi airnya tidak keluar. Jadi kutarik saja dan jadinya.... Hehehe"

Yukhei melirik tajam Haechan yang masih tertawa polos seakan tak melakukan hal yang salah.

Mata bulat itu melihat sekeliling, mencari benda yang bisa digunakan untuk menutup keran sementara lalu besok mereka bisa memanggil tukang ledeng dan memberitahu pemilik apartemen ini.

Matanya terhenti pada sebuah botol minum ukuran kecil yang sepertinya sesuai dengan ukuran keran, mengambilnya dengan cepat lalu memasukannya kedalam Batang keran dan berusaha mengikatnya dengan tali yang entah ia dapat dari mana, juga melilit handuk leher dengan kuat. Tak memperdulikan bajunya yang mulai basah. Walau asal-asalan tapi berhasil dan Yukhei bangga melihat karyanya.

Sedangkan Haechan hanya menatap takjub disamping Yukhei.

"Wow, kau keren om!!"

Yukhei mengangkat bahunya bangga mendengar pujian Haechan.

"Om berbakat jadi tukang ledeng. Jjang!"

"Akh!!" Jerit Haechan saat tangan besar Yukhei menjewer telinganya. Udah dibilangkan, Yukhei itu gemes sama anak ini. Bawaannya pengen tampol.

"Om mau kemana?"

Tangan Haechan menahan dan menggenggam lengan kekar Yukhei erat, saat melihat pria yang lebih tua itu hendak pergi meninggalkannya.

"Pulang"

"Nanti dulu"

"Apa lagi?"

Yukhei memutar matanya seraya mencoba melepaskan genggaman Haechan dilengan nya.

"Om lihat sendiri kan apartemen ku kebanjiran jadi mana mungkin aku tidur disini. Hyung ku juga belum mengirim ranjangku, jadi aku tidur dibawah, tapi kasurku basah. Disini juga belum ada sofa. Kalau aku tidur disini pasti besok aku sakit dan tidak bisa masuk sekolah, kalau begitu nilaiku akan hancur semua"

Haechan menatap Yukhei dengan memelas dengan mata yang mengedip-ngedip. Sedangkan Yukhei melihatnya tidak peduli.

"Lalu?"

"Ck, Om kau ini bodoh ya. Aku sudah memberimu kode sebanyak itu, masih belum mengerti juga?!"

"Intinya apa, jangan bertele-tele!"

Warna [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang