Delapan Belas

1.8K 107 4
                                    

Pagi yang cerah, aku dan Azmi sarapan pagi bersama mami dan papa. Ya, karena kami belum punya cukup uang untuk membeli rumah, kami masih menabung untuk hal itu.

Aku pun duduk disebelahnya, bersama mami dan papa diseberang meja makan kami.

Mami terus tersenyum melihatku dan Azmi, entah apa yang ada dalam fikiran mami saat itu. Yang jelas, ia seperti menemukan kebahagiaan. Ku tanya,

"Mami kenapa?"

Mami tidak menjawab, namun tetap tersenyum.

"Mami kenapa sih? Ada yang salah dari Khai?" aku semakin bingung.

"Hmm pengantin baru, pagi pagi rambutnya basah ya"  ledek mami dengan senyum yang tak hilang dari raut wajahnya.

"Iihhh.. Mami ah, Khai malu" pekikku dengan nada menahan malu. Mami memang seperti itu, selalu ada bahan untuk membuatku tersipu malu.

Azmi dan papa hanya ikut tertawa melihat ekspresiku.

Kami pun melanjutkan sarapan dengan penuh rasa kekeluargaan, aku sangat senang dan sangat bersyukur pada Allah yang Maha baik, yang telah menjadikan Azmi sebagai jodohku. Setiap kulihat Azmi, selalu terbesit doa, lindungilah suamiku dan jadikan kami jodoh hingga ke jannahMu.

Saat tengah menikmati sarapan yang sangat enak buatan mami pagi itu, ada pertanyaan yang sedikit membuatku tersinggung. Entah ini pertanyaan atau pernyataan,

"Jangan tunda tunda ya, mami teh pengen pisan segera punya cucu," kata mami

Aku hanya tersenyum tipis, kenapa baru satu hari menikah saja pernyataan itu sudah muncul?

"Soalnya, rata rata temen mami teh sudah pada punya cucu. Malah ada yang sudah 4 cucunya."  susul mami.

"Insyaallah, mi. Kita tidak menunda dan juga tidak terburu-buru. Jika segera dikasih, Alhamdulillah, jika belum, mungkin Allah menginginkan kita menikmati dulu waktu berdua ya, Khai"  ucap Azmi.

Perkataan Azmi itu sedikit menenangkan perasaanku yang sedikit tergoyah oleh emosi.

"Mami mu ini memang ngaco. Anaknya baru saja kemarin menikah, sudah dibahas tentang cucu."  timpal papa.

"Sudah, sudah. Kita habiskan makanannya ya, jangan mubadzir" susulnya.

***

Di kamar,

Aku hanya terdiam, memikirkan perkataan mami. Melamun. Dalam lamunanku, terbesit bagaimana jika aku mengecewakan semuanya? Mengecewakan mami, papa, orang tua Azmi, diriku sendiri, bahkan mengecewakan Azmi. Banyak pikiran negatif yang hinggap dikepalaku. Dan yang paling parah, bagaimana jika Azmi mencari istri lain yang bisa memberikannya keturunan?

Menetes. Air mataku menetes. Namun segera kuhapus dan mencoba bersikap baik baik saja kala Azmi masuk kedalam kamar. Kucoba untuk menghilangkan stres yang ditimbulkan oleh kejadian tadi. Aku mencoba mengalihkan pikiranku ke majalah yang ada disampingku sedari tadi, aku pura-pura membaca depan Azmi agar tidak terlihat sedang sedih.

Azmi duduk disampingku.

"Khai kenapa?" tanya Azmi.

"Kenapa apanya mas?" aku menjawab, namun tak berani menatap wajahnya. Aku takut Azmi dapat melihat kesedihan di pelupuk mataku.

"Kok Khai gamau lihat mas?"

"Khai sedang fokus membaca mas,"

"Membaca apa? Fokus ke mas dulu dong sayang sebentar,"

"Sedang membaca resep"

Aku melirik sedikit pada Azmi, dalam lirikanku itu, kulihat Azmi menahan tawa.

Dibalik Hijrah kuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang