Setelah diantar Aksa pulang kini Savana lebih suka berada dalam kamarnya. Lebih suka diam seperti biasanya.
"Harusnya lo gak ngelakuin ini sama gue kak!"
"Lo lebih jahat dari pada dia!"
"Gue udah coba baik sama lo tapi apa balasan lo? Nusuk gue dari belakang?"
"Aaaa...." Savana berteriak membuat Abang nya datang.
Kata kata itu seolah menusuk seluruh pikiran Savana dan membuat Savana merutuki kesalahannya di masa lalu.
"Lo kenapa na?" Tanya Sadam sembari ngos ngosan.
"G-gue g-gak papa k-kok bang." Elak Savana yang tentu saja tidak dipercaya Sadam.
"Lo gak bisa selalu nyimpen kesedihan lo sendiri na buat apa gue ada disini? Selalu liat lo nangis? Teriak?"
"Gue bener bener gak papa bang." Ucap Savana sembari senyum.
"Wait! Lo senyum buat gue?" Ucap Sadam yang sadar dengan sederet gigi putih dan bibir yang terangkat.
"I-ya jelek yah kalau gue senyum?"
"Gue gak bilang gitu."
"Gue cuma mencoba buat berubah. Sekarang waktunya gue mengulanginya lagi dari nol. Tentunya sama keluarga gue yang sekarang. Menjadi Savana tanpa Syakira."
"Bagus, lo mau ikut gue gak?"
"Kemana? Gue kan baru datang."
"Jalan jalan. Nanti gue beliin ice cream cappucino deh."
"Ok berangkat."
***
"Heh lo senyum senyum bae." Kata Adi abang Aksa.
"Biasalah bang pasti karna cewek tadi." Ujar Adis mengompori suasana hangat di ruang tv.
"Oooo si kecil udah mulai jatuh cinta toh."
"Berisik lo jomblo!" Tegas Aksa mulai memuncak.
"Wehhh." Ucap Adi dan Adis sembari tertawa.
Perdebatan yang sungguh tidak berfaedah itu di akhiri dengan tawa. Baik Adi, Aksa ,maupun Adis tidak merasa tersinggung dengan ucapan mereka.
"Bang lo pernah nembak cewek?" Ucap Aksa memecah tawa.
"Kode bang kode."
"Diem lo masih kecil juga." Kata Aksa sembari menoyor kepala Adis tanpa rasa iba.
"Pernah. Kenapa? Lo mau nembak cewek?" Tanya Adi to the point.
"Kepo." Ucap Aksa sembarpi nyelonong ke kamarnya.
"Eee si kampret."
"Dis gue mau nanya sama lo."
"Bang Adi ngomong sama gue?" Tanya Adis sok polos.
"Bukan..sama tutup kecap nih." Ujar Adi sembari mengangkat botol kecap tinggi tinggi bak piala.
"Ya sama lo lah." Lanjutnya lagi.
"Hehehe mau nanya apa?"
"Lo kenapa masih jomblo?"
***
"Bang ngapain bawa gue kesini? Lo sama aja ngingetin gue sama Syakira bang. Gue pulang aja deh."
Savana hendak berbalik untuk pulang. Sadam hanya membiarkannya tidak ada niatan untuk mencegah Savana kembali karna itu percuma kecuali satu hal.
"Ice cream nya gimana?" Teriak Sadam yang masih berada dalam posisinya.
Langkah Savana berhenti membuat Sadam tersenyum dari kejauhan.
Sial! Abang brengsek! Umpat Savana dalam hati.
Savana memang bisa membeli sendiri ice cream yang ia inginkan tapi berbeda halnya jika abangnya sendiri yang membelikan untuknya.
"Gausah ngumpatin gue dalem hati dosa!"
"Sotoy lo siapa juga yang ngumpatin lo!"
"Ngapain bilang gue brengsek?"
Kok dia bisa tau sih? Batin Savana.
"Jelas dong gue bisa tau..." Ucap Sadam dengan sombongnya.
"Gue belajar ilmu hitam." Bisik nya tepat di telinga Savana sembari nyelonong pergi.
Degghh...
Jantung Savana berasa berhenti berdetak. Dia di buat bingung oleh abangnya sendiri. Entah benar atau tidak tapi Savana tidak bisa melihat sorot mata kebohongan di iris mata milik abangnya itu.
"TAPI GUE BOONG!"
Sue lu bang!
Sadam hanya bisa tertawa dari kejauhan ia yakin pasti adiknya itu sedang membacakan sumpah serapah untuk dirinya. Karna Savana sudah kembali bukan?.
***
Aksa sudah benar benar bertekad akan melakukannya. Rencana nya akan di lakukan hari ini juga. Ia mencari cari ponsel untuk menghubungi seseorang.
Setelah 10 menit lamanya ponsel itu hilang ia langsung menekan nomor di keyboard dengan lincah berharap si empunya nomor mengangkat.
Hallo
"Lo dimana?"
Ini siapa?
"Aksa."
Rumah
Setelah mengerti dia dimana Aksa langsung berlari ke garasi untuk mengambil motor miliknya.
***
Teet...teet..
Bunyi bel rumah Savana berbunyi yang menandakan tamu tak di undang datang.
Savana berjalan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang hari ini. Yang pasti orang!."Apa?" Tanya Savana dengan nada dingin dan wajah datar yang ia punya.
"Ini ada paket untuk yang bernama Savana Adeline."
"Terima kasih." Ucap Savana tanpa basa basi dan mengambil paketan itu.
Kurir itu langsung pergi karna perlakuan dan tatapan Savana yang tajam membuat hati si kurir gemetar. Savana memang berubah tapi hanya untuk orang orang tertentu rupanya.
"Apa na?" Tanya Sadam yang entah kapan ada di sampingnya.
"Paket."
***
Setelah bicara dengan Sadam Savana memutuskan untuk membuka paket nya di kamar agar lebih leluasa dan orang lain tidak mengetahui barang nya. Savana tipikal orang yang tidak terbuka.
Cklek..
Savana membuka tutup kotak paket itu. Tak disangka hatinya goyah seketika. Wajahnya nya memerah dan tangannya mengepal kuat tanda membenci apa yang dilihatnya. Seketika itu setetes cairan bening berhasil lolos dari tempatnya membuat sungai kecil dipipi putihnya.
"Cukup!!! Semua ini lebih dari cukup!!!" Ucapnya lirih.
~Savana~
Inget!! Terus vote , comment ,dan follow karena itu sangat sangat sangat berharga!
Harus selalu bersyukur karena pemerintah gak nyuruh kalian bayar buat vomment.
Makasih buat AM [Anak Menteri] udah mau spam dari tadi buat update ini cerita. Terima kasih Banyak
Follow instagram : @rima_rls
Salam Savana guys

KAMU SEDANG MEMBACA
SAVANA
Teen FictionHidup yang tengah ada di sudut gelap ini harus ku apakan. Rasanya lelah ketika tak ada satupun orang yang ada didekatmu saat kamu memang benar benar jatuh. Dia Savana. Gambaran diriku di dunia nyata. Dan Aksa hanya sosok ilusi yang belum pernah dat...