Hilang[16]

355 13 0
                                    

Brumm brumm

Suara deru mobil dibelakang membuatnya sedikit panik. Sepulangnya dari rumah Angel mobil hitam dibelakang terus mengikutinya. Jarinya kini lincah mengetik nama seseorang dikontak ponselnya.

Maaf nomor yang anda tuju..

Sial!! Pekiknya dalam hati.

Bang lo dimana? Gue butuh lo! Gue takut!.

Tidak ada pilihan lain ia sudah berkali kali menelpon si empunya nomor tapi tetap saja mbak operator yang menjawabnya.

Hallo

Alhamdulillah. Batinnya melega.

"To..tolong gue to..longg." Ucapnya gemetar. Menahan tangis yang mulai akan pecah kapan saja.

DOOORRR

Bunyi pistol yang ditembakan ke udara berhasil membuat Savana menjerit ketakutan keberaniannya menciut seketika. Keringat terus mengalir dipelipisnya membuat sungai kecil disana.

"AKSA!!!" Teriakan  ketakutan keluar bersamaan dengan tembakan pistol itu.

Lo dimana?

"Gue di-mphmmf."

Beep.. 

Bekapan itu membuat handphone Savana terjatuh dan memutuskan sambungannya.

pandangan nya kini memburam berubah menjadi abu abu dan.. gelap.

***

Adis bingung harus bagaimana ia dibuat tambah pusing melihat kakak nya mundar mandir tidak jelas . Tek hentinya Adis marah, setiap pertanyaanya tidak dijawab oleh kakaknya itu.

"Bang! Lo kenapa? Kalau ada masalah cerita! Jangan mondar mandir aja!" Adis langsung memegang bahu sang kakak agar berhenti.

"Apa bakal selesai masalah gue kalau gue cerita?" Tanya Aksa tajam. Matanya menatap Adis kejam seperti ingin menerkamnya.

"Tap..tapi kan.." Ucapnya gemetar. Kakinya tambah  lemas setelah pingsan tadi tapi ia berusaha tetap menopang berat tubuhnya.

"Keluar lo!" Bentak Aksa kepada Adis.

Pikirannya kini hanya Savana Savana dan Savana. Emosi nya telah melahap kesabaran Aksa.

Adis mencoba memberanikan diri untuk menatap kakaknya. Tatapan itu, tatapan yang tiga tahun lalu tidak dilihatnya. Tatapan kebencian dan kekejaman. Adis berusaha masuk kedalam tatapan itu, ada rasa ke khawatiran disana begitu jelas namun kecil.

"Aksa bego! Aksa pengecut! Gue adik lo bego! Ini bukan rumah! Ini rumah sakit! Gue mau keluar kemana lagi hah?!"

Kalimat itu spontan ia keluarkan. Adis begitu kesal dengan kakak nya ini. Aksa yang mendengar itu semua hanya menatapnya. Matanya mulai meredup, kepalan tangannya melonggar, dan rahangnya tidak lagi mengeras.

"Sorry." Ucapnya lirih.

"Cihh.. gue bukan cewek cengeng asal lo tau! Gue gak bakal nangis sama bentakan lo! Dasar! Pengecut!" Balasnya dengan menekan setiap suku kata yang ia lontarkan.

"Van- Vana di.. cul..culik." Ucapnya frustasi. Hari harinya begitu kejam kali ini . Mama nya masih belum sadarkan diri karena pingsan, papanya mengalami kecelakaan yang tak terduga dan ini? Ia dibuat khawatir karna tembakan pistol yang terdengar jelas di ponsel nya saat bicara dengan Savana.

Adis geleng geleng tak percaya. Kakaknya benar benar gila.

Apa apaan ini? Gue bener bener jijik sama tingkah lo! Umpatnya dalam hati.

"Terus?" Tanya Adis begitu lembut.

"Lo ngapain masih disini, bego?! Cari dia sampe ketemu!" Lanjutnya dengan intonasi ditinggikan.

Aksa terpelonjat kaget dengan serangan tiba tiba itu. Ia hanya bisa mengelus dada sembari menatap balik tatapan elang adiknya.

"Ngapain lo liatin gue?! Cari!!!"

"I--iya." Nyali Aksa menciut seketika. Tatapan adiknya benar benar menusuk retina nya.

***

Disini, tempat dimana tawa itu mengisi sudut sudut ruangan. Hanya cahaya redup dari lampu yang menerangi seorang gadis. Gadis yang meronta ingin dilepaskan gadis yang menangis menahan ketakutan.

"Saya sudah bilang, semua yang mengganggu perusahaan saya. Akan hancur!" Ucapnya menekan semua suku kata.

"Tapi kamu?" Tunjuknya dengan telunjuk ke arah hidung mancung Savana.

"Gadis keras kepala!!!" Ucapnya sembari merenggut rambut panjang Savana membuat dirinya meringis kesakitan.

"Jangan karena kamu cerdas kamu bisa lolos dari saya untuk kedua kalinya! Saya tau kamu berbeda dengan remaja seusia kamu! Bertahun tahun saya mencari kamu!" Ucapnya panjang lebar. Tidak memedulikan tatapan memohon dan bingung yang disodorkan Savana kepada dirinya. Lalu, Ia hanya melepaskan kain bekapan yang ada di mulut Savana.

"To..tolong le..lepaskan saya..saya moho..nn." Mohon Savana seadanya. Kakinya gemetar, air mata terus mengalir bersamaan dengan keringat yang ada dipelipisnya. Ia tidak merasa melakukan hal yang salah dalam hidupnya apalagi menghancurkan hidup orang lain.

"Lepaskan?" Tanya nya sinis.

"Cuihh." Pria itu tidak segan segan meludahi wajah Savana. Bola mata Savana membulat sempurna. Ia hanya menghela napas pasrah. Savana sudah pasrah dengan perlakuan ini. Percuma saja jika ia mengeluarkan tenaganya tali pengikat ini sangat sangat kuat!.

"Sekarang saya beri 2 pilihan. Kamu mati atau kamu lakukan apa yang saya inginkan 3 tahun yang lalu." Ucapnya tenang dihadapan Savana.

"Ap.. apa yang kau maksud? Sa.. saya tidak mengerti!"

Tawa itu. Tawa yang sama beberapa hari yang lalu. Tawa yang jauh dari kata bahagia kembali mengisi kesunyian di gedung tua itu.

"Apa belum cukup untuk saya meludahi anda nona?" Tanya nya begitu sinis.

"Apa perlu saya melakukan hal yang lebih rendah dibandingkan ini?" Lanjut nya tanpa mengurangi nada sinisnya.

Kaki Savana kembali bergetar. Kata katanya begitu menusuk nusuk dirinya. Dia benar benar tidka mengerti dengan keadaannya saat ini. Persetujuan apa? Maksudnya apa? Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Tapi, matanya hanya melihat sosok dua pria bertubuh besar mendekat padanya.

"Kurung dia sampai besok jangan sampai lengah dia begitu cerdas untuk kabur! Jangan ada yang memberinya makan ataupun minum kalian paham?"

"Paham tuan."

Pria yang di panggil tuan itu hanya meninggalkan senyuman sinis kepada Savana. Mata Savana kembali membulat sempurna saat ia melihat lambang itu. Lambang perusahaan!. Tapi pikirannya kembali terngiang akan ucapan lelaki itu.

Tiga tahun? Dia nyari gue 3 tahun? Apa yang dimaksudnya itu Syakira? Apa yang dibuatnya selama 3 tahun yang lalu? Ya tuhan.. Batinnya dalam hati.

"Jujur saja lah gadis manis. Jangan pura pura bego atau nyawamu yang jadi taruhannya." Ucap salah satu pria yang ada di dekatnya. Pria satunya lagi hanya bisa tertawa dan mengangguk anggukan kepalanya. Tapi pikiran Savana tidak sedang berada disana.

Lambang itu? Benarkah? Kenapa perusahaan itu masih ada? Bukankah sudah hancur? Batinnya dalam hati.

~Savana~

Inget!! Terus vote , comment ,dan follow karena itu sangat sangat sangat berharga!

Harus selalu bersyukur karena pemerintah gak nyuruh kalian bayar buat vomment.

Follow instagram : @rima_rls

Salam Savana guys.

SAVANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang