Mr. X [15]

346 13 0
                                    

BACA SAMPE BAWAH HEY PARA READERS.

Isak tangis itu tidak terdengar. Ia menangis dalam diam di kamar yang begitu tenang. Hatinya kini goyah. Tebersit rasa bersalah, kecewa, dan sedih yang menyatu dalam satu kesatuan berupa masa lalu.

Kenapa? Kenapa ada yang tau? Siapa sebenarnya dia?musuh? Gue sama sekali gak mengenalnya! Sial!!!. Batinnya.

Drtt..drtt

Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Tanpa pikir 2 kali Savana langsung mengangkat ponselnya untuk mengetahui siapa orang dibalik nomor ini.

X: Gimana? Hadiah yang saya berikan? Suka?

Tanpa kesadaran Savana sebuah tetesan bening begitu saja mengalir dari tempatnya membuat satu aliran kecil dipipi mulusnya.

Kenapa gue nangis? Gak semestinya gue nangis cuma karna orang brengsek dibalik nomor ini!

Savana hanya membacanya. Hal seperti ini tidak harus mengeluarkan tenaga berlebih.

Dia cuma orang pengecut! Brengsek! Bego!. Umpatnya dalam hati.

***

Disebuah Gedung tua, sepi ,dan gelap. Tawa yang menghiasi setiap sudutnya. Tawa yang tentunya jauh dari kata bahagia.

"Tuan?" Panggil salah satu dari mereka yang baru datang melalui pintu utama.

"Apa?" Tanya orang yang di panggil dengan sebutan 'Tuan' itu.

"Tuan besar ingin bertemu dengan anda sekarang." Ujar salah satu dari mereka.

Gedung yang dipenuhi tawa kejam itu berubah hening. Orang yang disebut 'Tuan' itu berdiri dan menjauh dari gedung tua itu. Mobil yang dominan dengan warna hitam itu melaju menjauh dari tempatnya semula.

***

"Ngapain nelpon gue tadi?"

"Gue butuh bantuan lo!"

Aksa datang kesebuah bangunan kokoh yang memancarkan warna tosca yang jelas dan pekat. Ia bertemu dengan seseorang yang masih seumuran dengannya berniat untuk meminta bantuan tentunya. Setelah disambut dengan pertanyaan yang tanpa unsur basa basi itu Aksa langsung menceritakannya lebih tepatnya meminta bantuan kepada lelaki itu.

"Ribet lo sa." Ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Dia spesial bagi gue."

"Alah martabak kali spesial." Elaknya lagi.

"Yon.." Panggil Aksa.

"Apa?"

"Bisa gak?" Tanya nya memastikan.

"Tentu.. lo tinggal berusaha buat ajak dia ketempat yang udah gue tentuin."

Setelah dibalas anggukan oleh Aksa ia langsung berpamitan untuk pulang. Gion memang sahabatnya yang begitu dekat dengannya. Aksa langsung menancap gas melajukan motornya untuk pulang.

***

Sebuah panggilan telpon membuat Aksa harus menghentikan laju kendaraannya. Ia langsung mengambil benda pipih itu dan diangkat ketelinga kanannya.

"Hallo?"

Bang! Lo kerumah sakit sekarang!

Beepp...

Sambungan telpon itu dimatikan sepihak oleh adiknya. Adis.

Drtt..drtt..

AdisAlmedina: R.S Cahya Suci.

SAVANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang