Twelfth : Pertolongan Tak Terduga

49 5 6
                                        

"Kalau mau jadi jagoan jangan sama cewek. Cewek itu bukan sasaran kekuatan cowok. Kalau mau adu kekuatan sama yang setara. Jangan jadi bencong." - Arga Dirgantara

***
Tiara melangkahkan kakinya keluar dari area pemakaman. Gumpalan awan berwarna abu - abu pekat menggantung di langit sore itu. Gadis berjaket dusty pink itu membuka ranselnya untuk mengambil ponselnya. Nahas, ternyata ponselnya mati. Baterainya habis, mungkin karena tadi pagi Tiara tidak sempat mencharge ponselnya sampai penuh. Padahal dia ingin memesan ojek online untuk pulang.

Saat ini, angkutan umum juga sudah tidak ada yang lewat. Apalagi daerah sekitar area pemakaman ini bisa dibilang kawasan sepi. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan kaki beberapa meter. Siapa tahu ada taksi yang lewat atau mangkal di ujung jalan sana.

Tiara sudah berjalan cukup jauh, tapi sayangnya sampai sekarang dia belum menemukan taksi atau kendaraan umum lainnya yang mampu membawanya kembali ke rumah. Dia tidak mungkin berjalan kaki sampai kompleks perumahannya. Apalagi saat ini gerimis mulai turun membasahi bumi.

“Astaga udah mulai hujan lagi. Ngga mungkin dong gue jalan kaki berkilo - kilometer sambil hujan - hujanan. Bisa sakit gue yang ada,” Tiara terus berjalan sambil menutupkan topi yang ada di jaketnya supaya kepalanya tidak kehujanan.

Tiara mulai diselimuti rasa khawatiran ketika melewati tiga orang laki – laki yang sedang nongkrong di bawah pohon.

“Ciuit!” Salah satu dari laki - laki itu bersiul menggoda Tiara. Tiara semakin mempercepat langkah kakinya, mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

“Cantik. Cepat - cepat banget mau ke mana sih?” Tiba - tiba saja laki - laki berambut gondrong, salah satu dari tiga orang itu sudah mencegat langkah Tiara.

“Maaf saya buru – buru,” Tiara mencoba menghindar semampunya. Kepalanya terus menunduk sambil terus mendekap tubuhnya dengan jaket yang ia gunakan.

Dua laki - laki yang tadi hanya memerhatikan temannya yang sedang menggoda Tiara sekarang juga ikut mendekati gadis itu. Sempurna. Sekarang Tiara terkepung dari sisi depan, samping kanan, dan belakang. Sedangkan sisi kirinya adalah sebuah ladang yang tidak bisa digunakan sebagai jalan keluar.

“Cantik - cantik jalan sendirian aja neng. Abang anterin aja yuk. Ntu naik motor. Dari pada jalan kaki ntar capek lagi,” Laki - laki yang bertubuh paling tinggi semakin mendekati Tiara sambil menunjuk motornya yang diparkirkan di bawah pohon.

Tanpa menghiraukan ucapan laki - laki itu Tiara terus berusaha berjalan. Namun dia menjadi lebih sering berhenti karena langkahnya terhenti oleh ketiga laki - laki itu. Dadanya berdegup semakin kencang. Tetesan keringat mulai menetes dari pelipisnya. Tiara benar - benar ketakutan. Gadis itu mencoba mencari pertolongan, namun nahas, tak ada orang di sini. Daerah ini jauh dari permukiman warga. Daerah ini benar - benar sepi tanpa ada satu pun orang yang lewat.

“Maaf ya mas, saya mau lewat. Tolong minggir kalau nggak saya teriak," Tiara memberanikan diri membuka suara dengan nada tinggi. Namun matanya enggan menatap salah satu dari mereka. Wajahnya mulai pucat karena takut. Suaranya pun bergetar saat bicara. Tapi sebisa mungkin Tiara menyembunyikan rasa takut itu.

“Aduh cantik. Ngapain teriak - teriak. Nggak ada yang dengar lagi. Mendingan pulang bareng abang. Keburu malam nanti di cariin mamah lo.”

“Tau ni. Kita mah baek ya. Ngga mau ngapa - ngapain. Takut amat.” Laki - laki berambut gondrong yang berada di posisi paling depan dengan beraninya memegang tangan Tiara.

Dengan cepat Tiara mengibaskan tangannya agar laki - laki itu tidak menyentuhnya, “Jangan sentuh gue.” Tiara berteriak. Gadis itu kini mulai berani menatap laki - laki di depannya.

Long WaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang