Eighteenth : Topeng?

56 3 0
                                        

Namun, tidak selamanya orang periang dan banyak bicara adalah orang yang terbuka. Ada kalanya mereka hanya menjadikannya sebuah topeng. Topeng yang tak akan pernah dibuka oleh orang lain. Wajah aslinya tak akan pernah terdeteksi. Wajah penuh kesedihan dan tekanan itu tak akan pernah terlihat karena orang hanya melihat topeng yang ia kenakan.

***
Di sudut ruangan bernuansa biru putih itu ada seorang gadis yang sedang menahan sakit. Dalam keadaan bertekuk lutut dengan wajah yang ditenggelamkan, tanpa ada satu orang pun yang tahu. Gadis itu rapuh. Dia menangis tanpa suara. Batinnya menjerit. Suara keras dari alunan musik yang ia bunyikan menggema memenuhi seluruh ruangan.

Musik itu terus berbunyi berusaha menutupi suara di luar sana yang tak kalah keras. Suara teriakan orang - orang yang tak mau saling mengalah. Suara yang menunjukkan betapa egois dan arogannya mereka. Gadis itu berusaha mengabaikan teriakan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar hebat di lantai bawah. Risa. Gadis itu rapuh. Benar - benar rapuh. Dia lelah.

Dia telah belasan tahun hidup dengan suasana keluarga yang tak pernah damai. Hampir tak ada hari tanpa pertengkaran dari orang tuanya. Gadis itu lelah. Di usianya yang masih belia dia harus menanggung beban itu. Beban yang diberikan orang tuanya. Tak ada satu pun orang yang tahu tentang dirinya. Semua orang akan berpikir hidupnya bahagia.

Risa. Gadis ceria dari keluarga yang bergelimang harta. Hampir setiap hari dia tertawa dan banyak bicara di depan semua orang. Berusaha menjadi gadis paling bahagia di dunia ini. Namun, tidak selamanya orang periang dan banyak bicara adalah orang yang terbuka. Ada kalanya mereka hanya menjadikannya sebuah topeng. Topeng yang tak akan pernah dibuka oleh orang lain. Wajah aslinya tak akan pernah terdeteksi. Wajah penuh kesedihan dan tekanan itu tak akan pernah terlihat karena orang hanya melihat topeng yang ia kenakan.

Risa memang bukan orang ansos. Bahkan dia terkesan supel. Namun, tak ada yang tahu bahwa dia sering menangis sendirian seperti ini. Menangisi hidupnya yang sangat kelu.

"Haaaaa!!!" Risa berteriak sambil menjambak rambutnya.

Dia benar - benar merasa hidupnya gelap. Segelap langit malam ini. Gadis itu menangis sejadi - jadinya. Air matanya bercucuran. Sakit. Luka yang tak berdarah. Luka yang ada jauh di lubuk hatinya. Luka itu berada di lubuk hati terdalamnya. Sampai tak ada obat yang mampu menyembuhkan luka itu karena terlalu dalam. Mungkin hanya satu yang bisa, yaitu cinta. Cinta dari orang - orang yang dia sayangi. Dia tersiksa. Tersiksa oleh orang yang seharunya memberinya cinta, bukan luka.

"Gue benci semuanyaa!!!" Risa sekarang sudah menangis dengan tubuh tersungkur ke lantai. Dia lelah. Posisinya menandakan dia telah berada di titik terendahnya. Dia ingin semua ini berakhir. Kapan? Kapan hari itu datang. Hari dimana dia bisa mendapatkan kedamaian yang dia inginkan selama ini. Keluarga yang bahagia karena kasih sayang. Bukan harta.

"Udah Papah bilang Mamah enggak usah ikut campur. Mamah paham enggak sih?" Alex bicara sarkastis pada istrinya.

Shopia sudah meneteskan air mata. Lelah. Dia juga lelah. Entah sudah berapa kali dia ikut berteriak seperti suaminya.

Mereka berdua terus larut dalam pertengkaran. Saling bertanding keegoisan. Tak mau mengalah satu sama lain, bahkan tak mau mengerti di rumah ini bukan hanya ada mereka. Di rumah ini ada putri mereka. Putri mereka yang masih berumur empat belas tahun. Putri mereka yang tampak baik - baik saja tapi menyimpan luka yang mereka pun tak pernah tahu.

Shopia dan Alex berhenti ketika melihat pintu rumah terbuka. Arga. Putra sulung mereka kini sudah sempurna melihat Alex menjambak rambut Shopia.

Arga menatap papahnya nanar. Laki - laki itu menggertakkan rahangnya. Tangannya sudah mengepal geram. Arga memang tak pernah bersimpati pada mamahnya. Tapi, dia sama sekali tak akan bisa melihat seseorang menyakiti wanita. Terlebih itu adalah mamahnya. Apalagi yang melakukan semua itu adalah Alex, papahnya sendiri.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Long WaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang