epilogue

1K 95 15
                                        

Tangan Johnny yang menggenggam stik kecil itu mulai bergetar, senyum lebarnya luntur perlahan mengundang kernyitan pada kening Avi.

"Hey, kau tak senang?" Tanya Avi, tersemat rasa sedih pada nada bicaranya, Johnny tersentak kaget dan dengan cepat menggeleng keras.

"Bukan begitu. Aku hanya... takut tak bisa menjaganya seperti dulu."

Avi tersenyum lembut sambil menggeleng juga, "Semua itu takdir, bukan karena kau tidak bisa menjaga mereka. Karena aku tahu kau ini orang seperti apa Johnny. Semuanya akan baik-baik saja."

Ditariknya tubuh Johnny mendekat, dan melingkarkan lengannya pada pundak lebar itu, membuat Johnny sedikit merunduk.

Gerakan halus telapak Avi pada punggung Johnny menenangkannya.

Johnny menggenggam testpack Avi seiring senyumnya kembali mengembang dan mengeratkan pelukannya, sedikit membasahi baju bagian pundak Avi dengan air mata bahagianya.

.
.
.

Seorang gadis kecil berusia sekitar 7 tahun menggerakkan pelan kakinya yang berbalut sepatu dengan roda di bawahnya.

"Coba lepas tanganku Ma!" Pintanya dengan senyum lebar, Avi mengangguk ragu namun tetap dilakukannya.

"Kamu yakin Ashley?" Avi kembali memastikan lalu menghela nafasnya saat melihat anak sulungnya itu mengangguk semangat.

Avi bertepuk tangan bangga, diikuti seorang anak laki-laki berumur 5 tahun di sebelahnya, saat Ashley berhasil berjalan tanpa terguncang atau jatuh.

"Hei Avi."

Avi memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya, dan melebarkan matanya saat dilihatnya pria tinggi berbalut jas berdiri di belakangnya dengan ponsel masih menempel di telinganya.

"Johnny? Bukannya seharusnya kau masih di kan-"

"Ayah! lihat!"

Avi kembali memusatkan perhatiannya pada Ashley, sedangkan Johnny seketika melebarkan matanya, matanya bergetar khawatir yang Avi tahu pasti akan seperti itu.

"Ashley hati-hati! Kau tidak seharusnya bermain sepatu roda tanpa berpegangan!" Pekiknya sambil berjalan ke arah Ashley, yang membuat Ashley malah terkejut dan kehilangan keseimbangan.

Jantung Johnny seperti berhenti berdetak sementara, rasa takut menyesekkannya, melihat Ashley mengaduh kesakitan.

"Kau sedang apa?!"

Tanya Avi sambil melepas sepatu roda Ashley, menatap Johnny yang berkutat dengan ponselnya.

"Memanggil ambulance! Apa lagi." Ucap Johnny setengah berteriak.

Avi tertawa pahit sedangkan ekspresi bingung Ashley semakin kentara di wajahnya. Avi menarik ponsel Johnny sebelum ia berhasil memanggil ambulance.

"Johnny, Ashley hanya terjatuh dari sepatu rodanya, lecet saja tidak karena sudah pakai pengaman." Ucap Avi berusaha tenang.

"Tapi kita tidak tahu, bagaimana kalau ada hal serius!" Bentak Johnny lalu beralih kembali mengecek kaki Ashley.

"Aku tidak apa-apa Yah!" Dengan sangat terpaksa Ashley berkata dengan nada kesal, "Jangan marahi Mama karena aku yang memintanya melepas tanganku."

Lanjutnya sebelum melangkah menuju rumahnya sambil menenteng sepasang sepatu roda.

Avi menghela nafas panjang sembari memijat pelan pelipisnya, sedangkan pria di sebelahnya terdiam sesaat lalu memilih meraih Sam pada gendongannya kemudian ikut memasuki rumah yang diikuti Avi setelahnya.

.
.
.

Ashley menaruh pensilnya kemudian menggeser sedikit tubuhnya agar bisa menghadap sempurna pada sang ibu.

"Ma,"

Panggilnya pelan, agak ragu dengan apa yang akan ia tanyakan, Avi bergumam sambil menutup majalah yang tengah dibacanya untuk menaruh perhatian sepenuhnya pada sang putri.

"Ma, kenapa Ayah selalu berlebihan terhadap apapun? Maksudku, seperti kejadian kemarin, atau waktu Sam kehujanan sedikit saja sudah dibawa ke rumah sakit, apa itu tidak berlebihan? Ditambah kejadian-kejadian sebelumnya."

Avi tanpa sadar menahan nafasnya, ia tahu Ashley pasti akan menanyakan itu cepat atau lambat, ditambah pemikiran anak itu memang sensitif.

"Ayah punya alasan kenapa dia begitu."

"Apa alasannya?!"

Avi juga tahu jika dijelaskan alasannya Ashley pasti akan mengerti tapi ia hanya tak ingin menjelaskannya sekarang.

"Suatu saat Ashley akan tahu, tapi tidak sekarang."

Ia bisa mendengar putrinya mengerang keras, "Ashley capek. Perlakuan Ayah itu seakan-akan aku dan Sam bisa- bisa... tersakiti dengan mudahnya. Aku tidak selemah itu!"

"Mama tahu."

"Ayah hanya takut kehilangan... lagi."

Avi dan Ashley seketika membeku, dengan mata terbelalak menoleh pada sumber suara. Di sana Johnny berdiri masih menggenggam kenop pintu kamar Ashley, matanya berkaca-kaca dan pundaknya turun menandakan tubuhnya lemas.

Ashley mengalihkan pandangan pada ibunya dengan mata menyiratkan kebingungan.

"Ayah minta maaf." Johnny melangkah masuk, lalu menekuk lututnya agar sejajar dengan Ashley yang terduduk di pinggir kasur.

Jemari panjang Johnny menyelipkan beberapa surai cokelat terang Ashley pada belakang telinganya, sedangkan Ashley hanya terdiam, matanya menatap pada manik Johnny yang mempunyai warna senada dengan rambut miliknya.

"Hey, tidak mau memaafkan Ayah ya?"

Mata Ashley melebar mengundang kekehan Johnny walau matanya tetap memancarkan rasa sedih.

Ashley menggeleng kemudian dengan cepat memeluk leher Johnny sambil terisak kecil.

"Kenapa menangis?" Tanya Johnny dengan alis bertaut sambil mengusap pipi basah putrinya.

Ashley menggidikkan bahu, kemudian melirik ibunya yang tengah tersenyum lembut, "Ashley harusnya mengerti Ayah pasti punya alasan tapi aku malah marah. I'm sorry."

Johnny tersenyum lebar sembari mengangguk sebelum mengusak rambut Ashley gemas lalu menciumi wajahnya membuat Ashley memekik kesal namun diiringi tawa.

"Berhenti menciumku! Cium Mama saja atau Sam!" Ujarnya sambil menghalau wajah Johnny dengan tangannya.

"Jadi, kita saling memaafkan?"

Ashley tersenyum lembut kemudian mengangguk menyetujui ayahnya.

"Mulai dari sekarang, uhm, mungkin Ayah bisa sedikit mengurangi rasa khawatir Ayah. Karena seharusnya Ayah juga tahu kalau kalian tidak selemah itu."

Ujar Johnny lagi, sedikit memaksakan senyumnya karena sebenarnya ia pun tak begitu yakin, namun dirinya akan mencoba.

.
.
.

makasih promosinya Aeanakim kalo engga cerita ini ga bakal sampe 1k+ pembaca :")

Cringey ya? Wkwkwk

Another Day - NCT JohnnyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang