Aku ingat dengan jelas. Hari itu sangat panas. Jadwal kelas berikutnya masih sekitar tiga jam lagi. Aku memutuskan untuk menunggu di Starbucks mall, sendirian. Aku memilih tempat duduk di dekat pojok. Waktu ku sendirian sangatlah berharga, maka aku tidak ingin diganggu oleh keberisikan—yang penting bisa ngecas laptop.
Aku membolak balik media sosial, termasuk forum supranatural Kaskus, tempat cerita ini pertama kali berlabuh. Tetap saja, dari dulu hingga sekarang, hobiku adalah membaca kisah horor.
Semuanya tak bertahan lama hingga AC ruangan menjadi terasa semakin panas. Tubuhku berkeringat dan mulai terasa tidak nyaman. Pasalnya, hawa panas yang menyerang cukup tidak wajar.
Aku berusaha mengalihkan perhatian, mencoba memperhatikan sekitar, saat itu cukup ramai dengan orang-orang yang mengantre. Kali ini aku menutup laptop dan mengalihkan pandanganku pada layar ponsel. Semuanya baik-baik saja sampai aku mendengar bisikan-bisikan di telinga.
Aku mengehela napas panjang, memejamkan mata lelah. Suara itu semakin jelas. Perasaanku kaget bercampur mual. Di sebelahku, seorang pria tua merangkak dengan kedua kaki yang hilang. Tubuhnya sebagian gosong dengan sebelah tangan yang seakan hampir putus karena dibacok. Darah yang mulai mengering berlumuran di sekitar tubuhnya, bahkan wajah sudah tidak berbentuk. Yang dapat kulihat dengan cukup jelas hanya ia mengenakan kemeja dan jas putih.
"cin ... li ... kan ...." Aku tak mengerti apa yang ia katakan. Kepalaku sudah mulai pusing. Perutku bergejolak. Aku ingin segera keluar dari tempat itu. Buru-buru ku bereskan barang-barang dan berdiri.
"Cincinku ... tolong ... carikan ... cincinku ...." Sebelum keluar, aku dapat mendengan dengan jelas patahan kalimat yang diucapkan pria itu. Ia mengucapkannya dengan susah payah.
"Toilet ... cincinku ...."
Ketika aku bangkit berdiri, tiba-tiba ..., pemandangan di sekitarku berubah. Banyak orang berteriak, terbakar, dan beberapa orang mengejar—menancapkan senjata tajam ke orang lainnya. Pemandangan itu mengerikan. Dalam sekejap, posisiku berubah menjadi toilet mall itu.
Aku tahu, aku dibawa kembali ke tahun 1998 di mana kerusuhan sedang terjadi.
Aku melihat pria tua itu di sana, seakan bersembunyi. Darah mengalir deras dari tangannya. Ia menangis, sambil menyebut nama seorang wanita.
Ruangan dipenuhi asap tebal dan bau gosong tercium. Ketika akhirnya pria itu terbujur kaku, aku melihat sebuah benda bergelinding dari telapak tangannya. Sepertinya ia melindungi benda itu dengan segenap tenaga. Sebuah cincin bergulir, menuju pembuangan di lantai.
***
Aku tersadar. Posisiku masih berdiri di depan meja, hendak berjalan keluar. Mengumpulkan keberanian, aku hanya bisa berdoa dan berjalan kembali ke kampus.
Suaranya ... suara pria itu masih terngiang di kepalaku. Entah bagaimana nasib cincin yang hilang. Sudah 12 tahun berlalu, tentunya sudah cukup mustahil ditemukan tanpa petunjuk apa pun.
____________________________________________
Banyak kejadian di mall itu yang kini menjadi kisah misteri. Pada saat kerusuhan terjadi, mall itu dikunci dan dibakar bersama dengan para pejarah di dalamnya.
Banyak sekali korban, jadi jangan kaget jika kalian yang dapat melihat dan merasakan, karena di sana energinya cukup panas dan masih banyak yang berkeliaran. Termasuk yang gosong, berdarah dan masih banyak lagi.
Salah satunya, ketika malam aku hendak pulang. Aku sudah berada di dalam mobil, parkiran atas lobi utama. Semua sudah gelap walaupun jejeran mobil masih penuh. Aku masih bermalas-malasan dan mengecek ponsel.
Ketika aku menyalakan lampu depan, aku membeku.
Seorang anak perempuan berdiri di depanku. Bajunya merah muda, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Entah itu karena sudah dilumuri darah, yang jelas ... kepalanya terbelah dari atas hingga ke pipi. Menatapku dengan intens. Aku mengedipkan mata, namun ia jelas masih di sana.
Akhirnya aku menunggu hingga anak itu menghilang, baru aku jalan pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo's Life
ParanormalKisah dimana kehidupanku sebagai yang mereka panggil "Indigo's Child", dimana anak Indigo memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa lainnya. Bagaimana mengatasi rasa takut dan petualangan melintasi dunia seberang. Disertakan deng...
