Pada waktu itu, aku sangat suka bermain tennis. Disamping apartemenku terdapat lapangan tennis yang dapat digunakan untuk member sport club. Lapangan ini terpisah jauh dari gedung sport club karena memang cukup besar, sehingga memuat dua lapangan. Karena jarak yang cukup dekat, aku pergi berjalan kaki. Terkadang jika tidak terlalu lelah, aku lebih memilih untuk naik tangga darurat daripada lift ke lantai 10. Aku berlatih tennis mulai jam tujuh dan berakhir pada jam sembilan malam, dua kali dalam seminggu.
Seperti biasa aku selesai berlatih jam sembilan malam. Aku pamit kepada pelatihku, dan berjalan pulang dengan perasaan puas dan keringat yang bercucuran, berharap angin malam mengeringkannya dalam perjalanan. Aku berjalan sambil menatap langit tanpa bintang. Jalan raya ramai oleh mobil yang masih lewat, walaupun jalan raya itu tidak begitu ramai karena terletak dibelakang. Aku memencet tombol lift. Masih dilantai 22. Lama sekali. Aku yang tidak sabaran akhirnya memilih untuk naik tangga.
Aku membuka pintu tangga darurat yang berat. Seperti biasa, tangga darurat selalu pengap dan panas. Udara tidak bersirkulasi didalamnya kecuali jika pintu terbuka. Penerangan pun hanya remang-remang. Bau semen menusuk hidung, membuatku tidak betah, ingin cepat sampai. Namun, aku tetap menaiki tangga perlahan, untuk menghemat energy karena lantai 10 cukup tinggi. Apartemen ini seperti gedung lainnya yang tidak memiliki lantai 4 dan 13 karena dalam kepercayaan Asia, dianggap sebagai angka buruk.
Aku menghitung lantai setiap dua tingkat tangga yang kunaiki. 1...2....3....
DAB...DAB...DAB... terdengar langkah turun dari lantai atasku. Langkah seperti terburu-buru. Langkahku menjadi sedikit ragu, bersiap berpapasan dengan orang lain, karena tangga itu sempit. Tetapi, sudah 2 lantai kulalui. Aku tidak berpapasan dengan siapapun. Aku menoleh sebentar mendengarkan. Langkah itu menghilang. Mungkin ia keluar di lantai yang belum kulewati.
Langkahku semakin ragu dan awas. Tubuhku sudah mulai lelah, ingin cepat tidur. Aku mengantuk. Seharusnya sudah lantai 8. DAB...DAB...DAB... kali ini suara langkah kaki itu ada dibelakangku. Sama seperti sebelumnya, terdengar buru-buru.
Lantai 9... sebentar lagi aku sampai. Langkah orang dibelakangku semakin mendekat. Namum, dalam ruangan dimana semua suara menggema, tidak terdengar suara nafas terengah. Hanya nafasku. Aku menoleh..... Tidak ada bayangan. Suaranya semakin mendekat. Perasaanku semakin kacau....sampai suara itu berhenti. Nafasku tertahan, seakan detak jantungku pun berhenti. Perlahan, aku mendongakkan kepala...
Disana ia menatapku dengan tajam sampai matanya mencuat keluar. Ia merangkak di langit-langit. Tubuhnya kurus kering menyisakan tulang dan kulit coklat. Lidahnya menjulur keluar. Ia menyalak, marah karena sadar aku melihatnya. Suaranya melengking bak elang menemukan mangsanya. Aku terperanjat, melangkah mundur. Rambutnya yang terjuntai menggapai lantai tangga mendekatiku. Aku panik, berlari, mengambil langkah seribu. SEDIKIT LAGI. SATU LANTAI LAGI. Hanya itu yang ada dipikiranku.
Aku menggapai pintu dengan kekuatan terakhirku.
BRAKKK... langsung menutupnya dengan keras, jatuh terduduk dengan lemas. Aku memegang dadaku yang berdebar, berusaha menenangkannya. Dibalik pintu, aku masih dapat mendengar suara lengkingannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo's Life
ParanormalKisah dimana kehidupanku sebagai yang mereka panggil "Indigo's Child", dimana anak Indigo memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa lainnya. Bagaimana mengatasi rasa takut dan petualangan melintasi dunia seberang. Disertakan deng...
