"Dinar."
Dinar sedang membaca salah satu buku milikku. Dia terlihat tidak bisa diganggu. Tapi aku tidak tahan untuk memanggilnya.
Dia melirik dari ujung matanya. "Ada apa?"
"Kamu tidak marah?"
"Kepadamu? Tidak." Jawabnya. Matanya tetap fokus ke buku di tangannya.
Kepalaku bersandar di pundaknya. "Kemarin, kamu seram. Aku sudah lama tidak melihatmu sampai semarah itu,"
Ugh, aku mengantuk.
.
"Kemarin kamu seram. Aku sudah lama tidak melihatmu sampai semarah itu,"
Setelah itu, hening menguasai. Napasnya teratur, dan matanya terpejam. Beberapa helai rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.
Aku menyimpan buku miliknya yang tidak benar-benar aku baca. Aku sengaja melakukannya agar Kalila tidak mengajakku bicara dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Dia seringkali seperti ini dan akhirnya dia akan melamun saat aku ikut di dalam obrolannya.
Aku memindahkan posisinya. Membiarkan Kalila tertidur di pangkuanku. Aku usap rambutnya dengan lembut, kemudian tanganku menyusuri wajahnya.
Bekas di tengkuk dan sekitar tulang selangkanya cukup banyak, huh.
Aku menyeringai.
Apa aku tambah lagi bekas-bekas ini?
Ah, tidak. Aku enyahkan semua pikiran konyol itu.
Aku jadi teringat saat pertama kali aku mengetahui sesuatu yang sangat rahasia tentangnya. Saat kami SMA.
Lima tahun yang lalu.
Guru bahasa Inggris kami, Mrs. Leah membagikan kelompok untuk mengerjakan tugas membuat naskah drama bahasa Inggris.
"Jadi, kelompok kalian kali ini akan berjumlah tiga orang satu kelompoknya." Merasa tidak ada yang berkomentar, Mrs. Leah melanjutkan, "Kelompok pertama, Anton, Dhea dan Sheila. Kelompok dua, Fakhri, Ria, dan Sarah. Kelompok tiga...,"
Aku mulai bosan karena namaku belum disebut juga. Ku lirik seseorang yang sepertinya merasakan hal yang serupa denganku.
Kalila.
Dari gesturnya, dia tampak mendengarkan dengan serius. Tapi, saat bahunya sesekali naik-turun, aku tahu dia juga mulai bosan.
"Terakhir, Kelompok dua belas," Mrs. Leah menatap ke seluruh penjuru kelas. "Karena jumlah siswa disini ganjil, maka kelompok terakhir ini hanya dua orang. Kalila, dan..,"
"Dinar."
Aku terkejut. Mungkin Kalila juga. Kami satu kelompok, hanya berdua.
Apalagi yang lebih bagus daripada itu?
Kalila otomatis menengok ke belakang, melihat ke arahku. Aku tersenyum. Dia membalasnya dengan berdecih.
Tapi aku senang.
Apa.., aku sudah gila?[]
OwO
Jangan bingung:(
Telat 3 hari btw
9 September 2018
